Angkasa Pura 2

Salahuddin Rafi Terpilih Sebagai Direktur Utama PT Bandarudara Internasional Jawa Barat

Bandara FigurSenin, 2 Desember 2019
salahuddin rafi2

BANDUNG (BeritaTrans.com) — Mantan Direktur Pengembangan Kebandarudaraan dan Teknologi PT Angkasa Pura II Salahudin Rafi dipilih menjadi calon Direktur Utama PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (PT BIJB) yang mengelola Bandara Kertajati, Majalengka.

Lulusan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) itu dipilih Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Dari informasi yang didapat Bisnis, kepastian dan surat hasil seleksi calon Direksi PT BIJB tersebut sudah diserahkan pada Salahudin pekan lalu. “Surat keputusan Panitia Seleksi dan Dewan Komisaris memilih Pak Salahudin,” kata sumber Bisnis di Gedung Sate, Bandung, Senin (2/12/2019).

Salahudin yang merupakan mantan Direktur Pengembangan Kebandarudaraan dan Teknologi PT Angkasa Pura II tersebut terpilih usai Ridwan Kamil melakukan interview bersama dua kandidat lainnya dua bulan lalu. “Tinggal penetapan saja di RUPS BIJB,” kata sumber tersebut.

Salahudin Rafi yang juga Ketua Umum Ikatan Alumni Curug (IAC) pada bisnis secara singkat memastikan sudah mendapat surat pemberitahuan dirinya terpilih sebagai Calon Direktur Utama PT BIJB. “Suratnya sudah (diterima),” ujarnya.

Kabiro BUMD dan Investasi Setda Jabar Noneng Komara menolak memberikan penjelasan terkait terpilihnya Rafi. Menurutnya penetapan Direktur Utama hasil seleksi terbuka akan dilakukan pada RUPS BIJB yang waktunya masih tentatif.

Rafi sendiri saat ini tercatat sebagai pengajar di Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Trisakti.

PT BIJB sendiri saat ini saham kepemilikannya mayoritas dikuasai Pemprov Jawa Barat, lalu Koperasi Pegawai Pemprov Jawa Barat, PT Angkasa Pura II dan PT Jasa Sarana.

Ibunda Jual Tivi

Ir. Salahudin Rafi, MBA, merupakan alumni Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Tangerang tahun 1989. Dia orang pertama di angkatan itu yang berhasil menjabat direksi di PT Angkasa Pura (AP) II.

Adanya Rafi menjadi salah satu dari begitu banyak bukti bahwa STPI bukan hanya menghasilkan pilot andal, tapi juga profesional kebandarudaraan di Tanah Air.

Padahal untuk masuk menjadi taruna STIP bukan urusan gampang. Butuh fisik dan kecerdasan prima. Belum lagi mesti menyediakan dana untuk berbagai kebutuhan selama kuliah.

salahuddin rafi

Banyak yang belum tahu, untuk menjadi taruna di sekolah di kawasan Curug, Tangerang, itu, orangtua Rafi harus merelakan menjual TV. Akibatnya, keluarga harus ke tetangga untuk menonton televisi.

‘’Justru itulah yang memotivasi saya untuk terus fight dan sampai seperti sekarang. Saya masuk STPI harus sukses, kasihan ibu dan adik harus menjual TV untuk biaya sekolah. Itulah pemicu semangat untuk berhasil lulus dari STPI,’’ kenang Raffi dalam perbincangan dengan beritatrans.com, Sabtu (20/9).

Tahun 1987, dia lulus STM Penerbangan di Halim, Jakarta Timur. Selanjutnya mencari keberuntungan ikut bimbingan test masuk ke STPI. Akhirnya dia bisa menembus ‘dinding tebal’ STPI Curug dan mengambil jurusan Aerodrom Aviation. “Jurusan yang belum aku kenal sebelumnya,” ujarnya.

Saat itu, dia diwajibkan membayar Rp180.000, dengan rincian Rp80.000 untuk biaya administrasi dan sisanya dikembalikan saat wisuda dari STPI.

Dasar dari keluarga pas-pasan, uang simpanan tidak ada. Akhirnya ibu dan adik-adik sepakat menjual TV satu-satunya di rumah dan laku Rp200.000. Hasil penjualan TV itulah bekal sekolah ke STPI. ‘’Uang Rp180.000 untuk biaya sekolah dan Rp20.000 untuk ongkos naik kendaraan ke Curug. Saat iitulah muncul dalam pikiran harus sukses dan menjadi yang terbaik agar orang tua tidak kecewa,’’ aku Rafi.

Perjuangan di STPI barulah dimulai. Saat awal masuk kampus dan ikut Ospek menjadi cobaan pertama. Oleh senior dipaksa melewati ujian berat termasuk test fisik seperti scott jump, push up dan lainnya. “Saya tak kuat dan sering dihukum. Pusing dan hampir putus asa. Tapi, kalau ingat wajah ibu dan adik-adik yang merelakan menjual TV untuk sekolah, kembali bangkit semangat ini. Saya harus berhasil dan tidak boleh lembek,” cetus Rafi.

Cobaan datang silih berganti, termasuk pengalaman pisah dari orang tua. Meski mereka tinggal di Kebayoran Jakarta, tapi saya belum pernah pisah dari mereka. ‘‘Pengalaman pertama hidup di asrama STPI dengan peraturan dan tata tertib keras, menjadi beban tersendiri. Karena tekad awal harus berhasil, semua berhasil saya lalui, ‘’ terang Rafi.

Sejak belajar di STPI prestasi Rafi tak mengecewakan. Sampai semester III rangking I tapi di smester IV justru minta diturunkan menjadi rangking III.

“Alasannya sederhana, lulusan terbaik yang mengalungkan samir Menteri Perhubungan, sedang saya ingin samir dikalungkan ibu sendiri. Rekayasa pun dilakukan dan disepakati rangking diturunkan,” papar Rafi.

Cita-cita itu terlaksana. Saat wisuda, Ibunda Rafi, Hj. Itje Amelia Abdurahcman, mengalungkan putranya di tengah ribuan orang. Ibu dan anak itu berkaca-kaca matanya. Rafi segera menyium tengkuk tangan ibunda dan bersimpuh.

Rafi amat menyadari begitu besar pengorbanan orangtua dan keluarga terutama ibunda, terhadap dirinya. “Mereka sangat sayang kepada saya. Rela melakukan apapun untuk saya dengan luar biasa,” tuturnya.

salahuddin rafi1

Lulus dari STPI, bekerja di Ditjen Perhubungan Udara mulai calon pegawai (capeg), sampai ditempatkan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Dia kembali melanjutkan belajar untuk meraih sarjana di Universitas Suryadarma Jakarta. Berhasil lulus sebagai insinyur (Ir) jurusan teknik sipil. Sedangkan gelar MBA dari ITB Bandung murni beasiswa dari AP II dan hampir tak mengeluarkan biaya dari kantong sendiri apalagi orang tua.

loading...