Angkasa Pura 2

Balitbanghub Teken Kerja Sama dengan Organisasi Satelit Seluler Internasional

Dermaga LitbangSelasa, 10 Desember 2019
IMG-20191209-WA0026

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan teken kerja sama dengan Organisasi Satelit Seluler Internasional atau IMSO guna peningkatan teknologi deni keselamatan pelayaran.

Penandatanganan dilakukan oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Laut, Sungai, Danau, dan Penyeberangan (LSDP) Capt. Sahattua Simatupang dan dan Kapten Moin Ahmed Direktur IMSO disaksikan Kepala Balitbanghub Sugihardjo di Jakarta, Senin (9/12/2019).

“Bersama IMSO kami ingin bekerjasama dalam kegiatan penelitian lapangan bersama dalam satelit bergerak maritim untuk transportasi untuk lebih meningkatkan standar kompetensi peneliti, keahlian, dan profesionalisme,” tutur Capt. Sahattua.

Mereka juga setujui perjanjian mengenai pemanfaatan satelit untuk masalah keselamatan maritim dan Indonesia sebagai salah satu anggota negara IMSO.

Letter of Intent ini tidak mengikat secara hukum. Proyek-proyek yang ditentukan akan dijelaskan dalam Nota Kesepahaman lebih lanjut.

Lebih lanjut Capt. Sahattua mengemukakan bahwa dilaksanakan kerja sama sekaligus Internasional Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Early Warning System untuk Keselamatan Transportasi” guna menggali lebih dalam permasalan, kendala, dan solusi dalam mempersiapkan deteksi dini tersebut.

“Kita membutuhkan informasi yang betul-betul A1 dan kedatangan IMSO ini kita dapat berbagi dan memeroleh update infotmasi teknologinya,” ujarnya.

Sebetulnya alat tersebut diwajibkan dipasang di tiap kapal di dunia termasuk di Indonesia juga memiliki kewajiban tersebut.

Pihaknya melihat ini perlu dioptimalkan. Pihak IMSO kata Capt. Sahattua juga memyamapaikan hal sama, belum adanya optimalisasi deteksi dini bencana yang ada selama ini.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) misalnya menyiapkan bouy untuk dipasang dan Badan Meterorologu Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memasang alat sistem yang dapat menyalurkan informasi ke kapal-kapal.

“Ya sebemarnya, kapal kita sudah ada yang menerapkan sistem deteksi dini seperti Pelni, namun memang belum dioptimalkan,” ungkapnya.

Untuk itu diharapkan internasional FGD ini dapat memberikan masulan sebagai bahan dan penentu saat dilaksanakan riset dan development. (omy)