Angkasa Pura 2

Kemenhub Kirim Personel Pelatihan di AMSA Sydney

Dermaga SDMSelasa, 10 Desember 2019
IMG-20191210-WA0023

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Tingkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang navigasi pelayaran, khususnya pada sektor Vessel Traffic Services (VTS), Ditjen Perhubungan Laut melalui Direktorat Kenavigasian bekerjasama dengan Australian Maritime Safety Authority (AMSA/AMSAT), mengirimkan tiga personel untuk mengikuti VTS Supervisor Training yang digelar selama dua minggu, 25 November s.d 6 Desember 2019 di Sydney, Australia.

Ketiga orang itu adalah I Gusti Ngurah Agung Putra Adnyana dari Distrik Navigasi Benoa, Muhammad Darsoni dari VTS Panjang, dan Sony Haryanto dari Distrik Navigasi Surabaya.

“Pada pelatihan tersebut, peserta diberikan materi-materi terkait dengan V-103/2 yang disampaikan oleh Jilian Carson-Jackson, narasumber yang merupakan ahli di bidang teknologi perangkat lunak simulator dan juga anggota aktif Komite IALA VTS,” ujar Direktur Kenavigasian Basar Antonius di Jakarta, Selasa (10/12/2019).

Training tersebut juga dilaksanakan sebagai persiapan Indonesia dalam mengimplementasikan Traffic Separation Scheme (TSS) di Selat Sunda dan Selat Lombok, dimana VTS akan menjadi alat utama untuk mengawasi lalu lintas di TSS Selat Sunda dan TSS Selat Lombok.

Kata dia, pelatihan tersebut dilaksanakan dengan memenuhi persayaratan International Association of Marine Aids to Navigation and Lighthouse Authorities (IALA) yang terakreditasi oleh Australian Maritime College (AMC).

“Berbagai bentuk training telah dilaksanakan dengan sistem pembelajaran teori, mylo on line dan simulator dengan pembahasan antara lain terkait soal Komunikasi, Kordinasi dan Manajemen Sumber Daya Kelautan, Pengetahuan Hukum, Ilmu Menanggapi Situasi Darurat, dan Perencanaan Lalu Lintas,” ungkapnya.

Selain itu, menurut Basar, pelatihan yang dilaksanakan berfokus pada kompetensi, dengan menggunakan latihan simulasi dan penilaian yang telah dirancang untuk mewakili peristiwa dan insiden yang kemungkinan akan dialami di pusat VTS.

“Pada training ini, peserta diberi kesempatan untuk melatih peran sebagai pengawas VTS melalui latihan dan simulasi,” jelasnya.

Basar berharap agar kerjasama dengan stakeholder, seperti dengan Australian Maritime Safety Authority (AMSA/AMSAT) dapat terus berjalan, antara lain dengan cara mengikuti training-training serupa, dengan berdasarkan visi dan misi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang bekelanjutan.

“Selain mengikuti pelatihan, tentunya lebih baik jika kerjasama dilanjutkan dalam bentuk peningkatan asistensi dalam pengembangan SOP serta regulasi terkait VTS dan juga peningkatan insfrastruktur VTS,” ujarnya.

Basar beranggapan, pengoptimalisasian keselamatan dan keamanan maritim di perairan Indonesia perlu dikembangkan melalui regulasi yang sesuai dengan ketentuan Internasional, infrastruktur yang berkualitas, pengawasan, serta law enforcement.

Setelah mengikuti training, Basar berharap peserta dapat memberikan kontrobusi dengan membagikan ilmunya kepada para operator VTS di Indonesia.

Dengan meningkatkan kapasitas SDM melalui training-training ini, Basar berharap SOP VTS dapat disempurnakan dan diperbaiki serta dapat meningkatkan kemampuan bahasa Inggris petugas terhadap pelayanan kapal asing maupun lokal.

“Selain itu, kita juga terus melaksanakan assessment bagi operator VTS oleh tim khusus yang dibentuk oleh kantor pusat,” tutupnya. (omy)