Angkasa Pura 2

Dengan Si Patimeh, Syahbandar Tanjung Priok Jemput Bola Layani Ribuan Nelayan Kecil di Jakarta

DermagaKamis, 16 Januari 2020
016202065023

JAKARTA (BeritaTrans. com) – Di Jakarta, terdapat ribuan bahkan mungkin belasan ribu belasan kecil. Dengan sebagian di antaranya tak memiliki kemampuan membaca dan menulis, mereka hanya bekerja apa adanya tanpa tahu bahwa banyak kebutuhan dokumen, yang mesti dilengkapi.

Menjadi tanda tanya besar pihak mana, yang melayani mereka dalam memenuhi kebutuhan itu?

Rabu (15/1/2020) kemarin menjadi hari bersejarah buat nelayan Jakarta. Ada pelayanan keliling dari Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, yang mendatangi mereka.

Di tengah mereka, negara hadir melayani, setidaknya diwakili Kantor Kwsyahbandaran Utama Tanjung Priok. Kehadiran negara itu dikukuhkan lewat pelayanan Si Patimeh (Sistem Pelayanan Terpadu Insan Maritim yang Efisien dan Handal).

Gebrakan pelayanan itu hebatnya ditulis oleh Capt. Herman, yang belum genap sebulan menjabat sebagai Syahbandar Tanjung Priok.

Di Dermaga Arung Samudera (Arsa), Pelabuhan Tanjung Priok, dia meluncurkan Si Patimeh (Sistem Pelayanan Terpadu Insan Maritim yang Efisien dan Hebat).

Rilis Si Fatimeh bersamaan dengan pemberian surat dan sertifikat kapal kepada kapal-kapal service boat yang melayani kebutuhan operasional kapal berlabuh di pelabuhan terbesar di Indonesia itu, Rabu (15/1/2020).

016202064946

016202065040

Hermanta menjelaskan model layanan baru itu dilengkapi mobil pelayanan keliling untuk menjemput bola bagi nelayan mendapatkan pelayanan berbagai keperluan menyangkut perkapalan.

Mobil keliling itu dilengkapi petugas pendaftaran kapal, pengukuran kapal, marine inspector serta petugas lainnya dari Kantor Kesyahbandara Utama Tanjung Priok.

“Kami jemput bola. Nelayan tidak perlu datang ke kantor kami. Justru kami yang datangi mereka,” tutur mantan Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok dan KSOP Geresik itu.

Dia mengutarakan nelayan-nelayan di sejumlah lokasi dikunjungi. Mereka antara lain tersebar di Kali Kresek, Marunda, Arsa dan Kalibaru. “Nelayan-nelayan kecil itu selama ini relatif tak tersentuh pelayanan menyangkut dokumen menyangkut aspek keselamatan pelayaran,” cetusnya.

Nelayan, yang di antaranya tidak memiliki kemampuan baca dan tulis, tersebut sejatinya membutuhkan pelayanan antara lain pengukuran kapal, gross akta, serta sertifikat keselamatan kapal.

Hanya saja, untuk buku pelaut harus diurus ke Buku Pelaut Corner di kantor Kesyahbandara Tanjung Priok.

“Kami bantu dengan sepenuh dan senang hati keperluan nelayan itu. Ini implementasi perintah Bapak Menteri Perhubungan dan Bapak Dirjen Perhubungan Laut,” ujarnya.

(awe).

loading...