Angkasa Pura 2

Aksi Perompakan Melonjak di Selat Singapura, Terjadi 31 Kali Selama 2019

Dermaga HankamJumat, 17 Januari 2020
0162020205248

SINGAPURA (BeritaTrans.com) – Terjadi 31 aksi bajak laut di Selat Singapura selama tahun 2019. Angka ini melonjak selama kuru empat tahun sebelumnya.

Dalam Seminar ReCAAP Information Sharing Center (ReCAAP ISC) 11th Nautical Forum di Singapura, Rabu (15/1/2020), terungkap pembajakan terhadap kapal-kapal niaga itu diwarnai serangan perampokan bersenjata.

Dalam acara yang dihadiri perwakilan Bakamla RI/Indonesian Coast Guard (IDNCG) tersebut,
The Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robbery against Ships in Asia ( ReCAAP) atau Perjanjian Kerjasama Regional tentang Memerangi Pembajakan dan Perampokan Bersenjata terhadap kapal-kapal di Asia menyerukan peningkatan patroli di Selat tersebut.

191227_Six attacks in six days_6col

Menurut ReCAAP insiden itu terbagi ke dalam dua kelompok berbeda. Ada 15 serangan di jalur arah barat Skema Pemisahan Lalu Lintas (TSS) Selat Singapura yang terutama menargetkan kapal tunda dan tongkang. Dalam pengelompokan lain ada 16 serangan di jalur timur TSS terutama menargetkan kapal-kapal besar seperti tanker dan bulkers.

Dalam kasus serangan di jalur timur, para perompak lebih mungkin dipersenjatai dan dalam delapan insiden para pelaku memiliki pisau, parang atau senjata. Sekitar 12 dari 16 insiden terjadi pada bulan November dan Desember tahun lalu. Para penyerang diyakini bertujuan mencuri suku cadang mesin.

ssmap

Direktur eksekutif ISCA ReCAAP, Masafumi Kuroki, mengatakan kepada media briefing di Singapura bahwa mereka tidak tahu alasan lonjakan serangan di Selat Singapura dalam dua bulan terakhir tahun 2019.

Namun, ada implikasi bahwa ada lebih sedikit patroli di wilayah-wilayah tersebut mengingat jumlah insiden yang lebih rendah antara 2016 dan 2018. Kuroki mencatat dalam presentasinya bahwa penurunan signifikan insiden menjadi hanya dua pada tahun 2016 telah mengikuti penangkapan para pelaku oleh pihak berwenang Indonesia. pada tahun 2014 dan 2015.

Dalam tiga bulan terakhir tahun 2019 ReCAAP mengeluarkan lima insiden peringatan tentang serangan di Selat Singapura, yang mendapat perhatian media yang signifikan. “Kami ingin mengirim peringatan insiden untuk meminta tiga negara pesisir – Singapura, Malaysia dan Indonesia – untuk meningkatkan pengawasan dan patroli di Selat Singapura,” kata Kuroki.

Sejauh ini pada tahun 2020 hanya ada satu insiden di Selat Singapura dan ReCAAP berharap situasi telah tenang.

Pengawas anti-pembajakan yang didanai industri, Biro Maritim Internasional (IMB) mengatakan, merilis laporan tahunannya awal pekan ini yang menganggap intensitas serangan di Selat Singapura adalah level rendah.

“Ini adalah gangguan dan berpotensi berbahaya bagi kru yang mengendalikan kapal sambil menavigasi melalui perairan yang padat ini,” kata Michael Howlett, Direktur Biro Maritim Internasional ICC.

“IMB RRC (Pusat Pelaporan Pembajakan) berterima kasih kepada lembaga penegak hukum Singapura karena segera menanggapi beberapa insiden ini.”

Upaya Indonesia

Dalam seminar itu, Kasubdit Data Bakamla RI Kolonel Bakamla Tuti Ida Halida, S.T., M.I.T.M mengemukakan upaya-upaya Bakamla RI/IDNCG dalam menekan angka insiden dan kejahatan di Selat Singapura. Upaya tersebut dilakukan melalui kerja sama antara mitra maritim nasional dan internasional dalam bidang pertukaran informasi, patroli terkoordinasi bersama, dan latihan bersama. Upaya lainnya seperti peningkatan patroli di wilayah perbatasan serta melaksanakan patroli terkoordinasi dengan negara tetangga yang berbatasan dengan Indonesia.

Lebih lanjut, upaya ini juga dilakukan untuk mencegah pelaku kejahatan dalam melakukan aksinya di laut. Tak dapat dipungkiri, dalam menghadapi tantangan untuk melaksanakan patroli yang efektif dan efisien tidak terlepas akan masalah keterbatasan aset dan sumber daya yang ada, jika dibandingkan dengan area yang harus diawasi.

Sumber: Bakamla dan seatrademaritime.com.