Angkasa Pura 2

37 Ribu Pesawat Baru Dibutuhkan Tahun 2040

KokpitSelasa, 21 Januari 2020
images.jpeg-128

Bekasi (BeritaTrans.com) Rolls-Royce memperkirakan sebanyak 37.000 pesawat komersial baru akan dibutuhkan selama 20 tahun ke depan atau pada 2040.

“Kami sudah lama membuatnya, namun tantangannya adalah memisahkan perkembangan emisi dari perjalanan udara yang berkembang pesat,” kata Direktur program Rolls-Royce Alan Newby, seperti yang dikutip BBC Indonesia, Sabtu (18/1/2020).

Mesin baru ini juga akan menggabungkan gearbox, yang akan mendorong kipas sehingga menghasilkan mesin yang lebih efisien.

Inovasi ini sudah digunakan pada mesin yang lebih kecil dari Pratt & Whitney Engine yang berbasis di AS, PW1000G.

Meski Rolls-Royce dan industri dirgantara lainnya tengah mengerjakan sistem propulsi listrik dan hibrid untuk pesawat terbang, utamanya pesawat jarak jauh, di mana saat ini mesin jet masih merupakan satu-satunya pilihan.

Mengingat teknologi ini sudah ada sejak Perang Dunia Kedua, seberapa efisien yang dapat dikeluarkan dari mesin jet?

Cukup banyak, menurut Profesor Pericles Pilidis, kepala departemen tenaga dan propulsi di Pusat Teknik Propulsi Universitas Cranfield.

Departemennya bekerja sama dengan beberapa proyek penelitian dengan perusahaan luar angkasa termasuk Airbus dan Rolls-Royce.

“Saya harap ada kemajuan,” katanya. Bahan-bahan yang lebih baik, dengan bentuk lebih efisien, dan bahan pelapis yang lebih baik, semuanya bisa berkontribusi untuk membuat mesin lebih ringan dan lebih kuat.

Dia juga menggarisbawahi bahwa dengan mesin yang lebih ringan struktur pesawat pun bisa lebih enteng karena bobotnya tidak terlalu berat.

Perubahan semacam itu kemungkinan belum banyak dikenal, tetapi dalam bisnis penerbangan perubahan tersebut dapat membuat perbedaan besar.

“Perubahan evolusioner, kedengarannya tidak mengesankan – 10% di sini 12% di sana. Tetapi dalam bisnis penerbangan dengan margin yang sangat tipis, itulah perbedaan antara hidup dan mati,” kata Richard Aboulafia, wakil presiden analisis di Teal Group. (Lia/sumber:wartaekonomi)

loading...