Angkasa Pura 2

Dari Kecelakaan Subang: PO Purnama Sari Tak Punya Izin Angkutan Bus Pariwisata

KoridorSelasa, 21 Januari 2020
IMG-20200120-WA0031

IMG-20200120-WA0032

SUBANG (BeritaTrans.com) – Direktur Jenderal Perhubungan Darat Budi Setiyadi mengatakan, untuk melakukan penyelidikan kasus kecelakaan yang menimpa bus pariwisata PO. Purnama Sari di Subang, pihaknya kumpulkan para penyidiknya (Polres Subang), APMnya (Mercedes Benz) dan Dishub.

“Pada prinsipnya untuk melihat faktor penyebab kecelakaan itu apa saja,” jelas Dirjen Budi di sela Focus Group Discussion (FGD) di Subang, Senin (20/1/2020) malam.

Menurutnya, selama ini bila terjadi kecelakaan selalu dikatakan disebabkan oleh human error, dalam FGD tersebut mencoba melihat dari berbagai faktor, tidak hanya manusianya, namun juga faktor jalan, dan juga kendaraan itu sendiri.

“Dari hasil FGD tadi, dari pihak PO Purnama Sari melakukan penggantian komponen yang menyebabkan fungsi pengereman tidak maksimal,” ujar Budi.

Dalam FGD tersebut juga disampaikan bahwa Polres Subang akan mendalami kasus ini, tidak hanya berhenti sampai pada operator di lapangan saja, namun bisa juga mekanik dan pemilik bus tersebut terkena sanksi pidana.

Dirjen Budi menegaskan bahwa PO Purnama Sari tidak memiliki izin angkutan pariwisata. “Artinya PO ini ilegal namun sudah beroperasi,” katanya.

Menurutnya cukup banyak perusahan bus yang nakal seperti ini, biasanya PO yang cuma punya 5-6 bus dan hanya mengambil keuntungan, namun mengabaikan aspek keselamatan.

Dirjen Budi mengatakan, untuk menindak perusahaan bus yang nakal, saat ini pihaknya sedang memetakan beberapa perusahaan bus yang tidak berizin.”Kalau memang tidak berizin besok akan kita lakukan pemeriksaan langsung ke lapangan, ke pool-poolnya,” tegasnya.

Dirjen Budi juga mengungkapkan apresiasinya kepada pihak kepolisian atas kinerjanya menyelidiki kasus kecelakaan di Tanjakan Aman beberapa waktu lalu sehingga tidak hanya pengemudi yang terkena sanksi pidana namun juga mekaniknya.

Terkait dengan kompetensi pengemudi angkutan umum, Direktur Angkutan Jalan, Ahmad Yani, yang turut hadir pada kegiatan tersebut mengatakan, ada strategi Quick Win yaitu pertama, pengemudi harus tahu tata cara pengereman, kedua, perlu adanya instruktur di setiap perusahaan bus sehingga setiap pengemudi yang masuk bisa mendapatkan pelatihan dan sertifikasi dari lembaga resmi yang dapat mengeluarkan sertifikasi.

Ketiga, bagaimana menciptakan pengemudi baru. Menurut Yani, inilah yang paling berat, harus cukup waktu dan lamanya pelatihan, apakah 3 bulan atau 6 bulan.

“Yang keempat adalah, pengemudi yang ada sekarang, mereka harus mendapat sertifikasi baik itu mengenai pengereman, bagaimana memberi service kepada pelanggan dan sebagainya. Itu kurang lebih butuh 3-4 hari pelatihan,” urainya.

Usai menggelar FGD, Dirjen Budi beserta jajaran melakukan peninjauan lokasi kecelakaan bus pariwisata PO Purnama Sari di Jalan Raya Bandung-Subang, Kampung Nagrok, Desa Palasari, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang. (omy)

loading...