Angkasa Pura 2

Musibah Setelah Tarif Bus DAMRI Bandara Soetta Naik

Aksi Polisi KoridorKamis, 23 Januari 2020
IMG_20200123_114452

TANGERANG (BeritaTrans.com) – Bus Perum DAMRI bernomor polisi B 7509 PD dengan tujuan Bandara Soekarno-Hatta mengalami kecelakaan di KM 21 tol arah Bandara, Kamis (23/1/2020) pukul 05.27 WIB.

Kepala Induk 1 Patroli Jalan Raya (PJR) Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Bambang Krishady mengatakan insiden itu terjadi karena sopir bus DAMRI berinisial RA (28) mengantuk.

“Keterangan awal dari sopir, mengantuk,” kata dia, saat dikonfirmasi, Kamis (23/1/2020).

Tergulingnya bus tersebut menambah jumlah kejadian, yang melibatkan armada BUMN, yang melayani angkutan ke bandara kelolaan PT Angkasa Pura II tersebut. Pada bulan ini, telah dua kali kejadian.

Sebelumnya seorang wanita bernama Nurlela terjepit bus DAMRI di halte shuttle bus TOD M1 Bandara Soetta, Minggu (5/1/2020).

“Kemarin ada kejadian kecelakaan antara bus DAMRI dengan pejalan kaki,” kata Kasatlantas Polres Bandara Soekarno-Hatta Kompol Argadija Putra saat ditemui di Asrama Polisi, Benteng Kota Tangerang, Senin (6/1/2020).

Arga menjelaskan kronologi kejadian tersebut bermula dari sopir bus DAMRI bernama Andi yang sedang melakukan aktivitas naik turun penumpang di halte shuttle bus TOD Bandara Soekarno-Hatta.

“Setelah bus Damri selesai menaikkan (penumpang). Kemudian bus itu maju,” kata Arga.

Arga mengatakan, ada kemungkinan saat itu sopir kurang kurang konsentrasi saat berkendara.

“Di depan kurang 100 meter ada Nurlela, terjepit dengan tembok akibat bus tersebut,” kata dia.

Manajemen Perum DAMRI menyatakan bertanggungjawab atas insiden tersebut.

Dalam keterangan tertulis, Perum DAMRI menjelaskan kronologi kejadian insiden tersebut bermula ketika pengemudi bus Andi yang sendang melakukan aktivitas menaikturunkan penumpang di halte shuttle bus TOD Bandara Soekarno-Hatta.

“Terlihat Ibu Nurlela yang menuju gedung GWO berada di sebelah kanan turunan jembatan layang TOD dan menggunakan jalur pintu keluar shuttle bus dengan berjalan kaki,” ujar General Manager Perum DAMRI cabang Soekarno-Hatta, Sumijan.

Sumijan mengatakan, jalur shuttle tersebut adalah jalur khusus perlintasan bus dan bukan untuk lalu lalang pejalan kaki.

Akibat kejadian tersebut Tim DAMRI Basoeta segera membawa korban ke rumah sakit terdekat dan bertanggungjawab atas pembiayaan pengobatan Nurlela.

“Hasil pemeriksaan di rumah sakit, Nurlela tidak dalam kondisi hamil dan tidak mengalami luka serius, sekarang sudah diperbolehkan pulang oleh dokter RSUD Kabupaten Tangerang,” tutur Sumijan.

Pihak Perum DAMRI menyampaikan permohonan maaf kepada semua pihak yang dirugikan atas insiden yang terjadi dan berkomitmen agar terus memberikan pelayanan terbaik dengan senantiasa aspek keamanan dan keselamatan.

Tarif Naik

Dua peristiwa itu terjadi setelah Perum DAMRI menaikkan tarif untuk seluruh rute dan dan menuju Bandara Soekarno Hatta mulai Minggu (22/12/2019). Tarif bus rata-rata naik berkisar Rp10 ribu-Rp15 ribu.

Kenaikan tarif itu diumumkan Direktur Utama Perum DAMRI Setia N Milatia Moemin. Dia mengatakan kenaikan tarif disesuaikan dengan hasil survei yang dilakukan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Survei itu berkaitan dengan kepuasan pelanggan, kemauan, dan kemampuan bayar pelanggan.

“Hasil survei menyebutkan pelanggan DAMRI dinilai mampu secara ekonomi membayar penyesuaian tarif Damri Bandara Soekarno Hatta,” kata Setia dalam keterangan resmi.

Kenaikan tarif bus DAMRI, sambung Setia, juga akan diikuti dengan peningkatan fasilitas di dalam armada. Fasilitas yang dimaksud, seperti, AC, Wi-Fi, tempat pengisian baterai ponsel, tempat sampah, toilet, bagasi, video musik, alat pemecah kaca, serta alat pemadam api ringan (APAR).

“Kami telah melakukan segala upaya untuk menghindari penyesuaian tarif layanan. Namun demikian penyesuaian tarif ini adalah sesuatu yang harus kami lakukan untuk memastikan kualitas layanan yang tinggi bagi pelanggan kami,” katanya.

Secara terpisah, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengungkapkan kenaikan tarif bus DAMRI masih terbilang wajar. Menurutnya, peningkatan tarif dengan kisaran Rp10 ribu-Rp15 ribu tak signifikan.

“Mengenai tarif DAMRI kalau dilihat semua juga naik. Kalau tarifnya naik tidak signifikan harusnya oke lah. Kalau naik dua kali lipat kami marahi dia (Perum Damri),” ucap Budi.

Dirjen Hubdat Cegah Mogok Kerja

Sebelumnya diketahui ada semacam perselisihan antara sejumlah pegawai dengan manajemen BUMN tersebut. Perselisihan itu disertai rencana mogok kerja saat masa liburan tahun baru (nataru) kemarin.

“Kami berkomunikasi dengan perwakilan pegawai melalui dua serikat pekerja di DAMRI. Kami juga berkomunikasi dengan direksi. Kami pertemukan,” ungkap Dirjen Hubdat Budi Setiyadi kepada BeritaTrans.com dan Aksi.id, Jumat (17/1/2020).

Dia mengemukakan inisiasi pertemuan itu dengan syarat pegawai tidak mogok kerja saat nataru. “Kami berjanji mempertemukan perwakilan pegawai dengan manajemen. Pertemuannya setelah putaran angkutan Nataru selesai,” jelasnya.

Setelah masa angkutan nataru kelar, dia menjelaskan pertemuan digelar Jumat pekan lalu. “Banyak aspirasi dari pegawai, yang disampaikan dalam perremuan itu. Begitu juga direksi dipimpin Bu Dirut memberikan tanggapan,” ujar dirjen.

Dengan pertemuan itu, Budi Setiyadi berharap persoalan antara pegawai dengan manajemen DAMRI dapat terjadi harmonisasi. “Ke depannya, kami berharap terjadi komunikasi intens antara pegawai dengan manajemen,” tuturnya.

Mengenai inisiatif mempertemukan dua pihak berselisih itu, dia menuturkan karena DAMRI merupakan aset negara. Berfungsi sebagai salah satu stabilisator dan dinamisator transportasi darat.

“Hal lainnya adalah kami mencegah pegawai mogok saat angkutan nataru kemarin. Kalau sampai mogok, kasihan rakyat akan kesulitan untuk mendapatkan pelayanan DAMRI,” ungkapnya. (awe).

loading...