Angkasa Pura 2

Demo di Bandara Ranai, Warga Natuna Tolak Karantina WNI yang Dievakuasi dari China

BandaraMinggu, 2 Februari 2020
Bandara-ranai

3755-2-natunaPenolakan warga Natuna menolak karantina WNI dari Wuhan yang ditunjukkan dengan menggelar demonstrasi di Bandara Ranai, Natuna, Sabtu (1/2) hari ini. (WARGA RANAI FOR RIAUPOS.CO)

NATUNA (BeritaTrans.com) – Warga Kabupaten Kepulauan Natuna Provinsi Kepulauan Riau bereaksi menolak keputusan pemerintah pusat menjadikan daerah mereka lokasi karantina warga negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari Wuhan, China.

Khawatir terhadap potensi penularan Virus Corona, warga meminta karantina dilakukan di tengah laut saja dengan kapal perang.

Penolakan warga ini ditunjukkan dengan menggelar demonstrasi di Bandara Ranai, Natuna, Sabtu (1/2) hari ini. Ratusan orang menyuarakan aspirasinya dengan mendatangi bandara tersebut.

Perwakilan masyarakat yang menggelar aksi, Haryadi yang juga merupakan Ketua KNPI Natuna mempertanyakan alasan Natuna jadi lokasi karantina.”Di ibukota negara fasilitas lebih lengkap. Natuna punya apa ? Natuna tidak punya apa-apa,” kata dia.

Lebih lanjut dikatakannya, dari informasi yang diterima masyarakat, fasilitas kesehatan akan dibawa ke Natuna sebagai pendukung rencana karantina. Ini sebut dia malah menunjukkan Natuna pada dasarnya tidak memiliki fasilitas pendukung yang layak.”Informasi yang kami dapat fasilitas kesehatan dibawa kesini. Itu tandanya apa ? Kita tidak mampu mengkarantina kan ini,” imbuhnya.

Virus Corona dan penyebarannya di Cina yang mewabah saat sudah menjadi kekhawatiran dunia internasional. Warga di Natuna khawatir dengan fasilitas yang serba terbatas di daerah kepulauan ini, WNI asal Indonesia yang dibawa dari Cina malah dibawa kesana dan bukan ke Jakarta dengan fasilitas yang lebih lengkap.

“Ini kekhwatiran buka. Hanya kami, tapi seluruh masyarakat Indonesia. Ada statement dari Kementerian Kesehatan akan dikarantina di Natuna, apabila tidak terbukti baru akan dikeluarkan. Artinya perlu pembuktian, kok di Natuna pembuktian nya ? Kenapa tidak di pusat yang fasilitas nya lebih lengkap,” tanya dia.

Masyarakat Natuna hingga saat ini masih tetap pada pendirian menolak karantina dilakukan disana.”Hari ini kita tetap menolak, tapi sebagai bentuk nasionalisme kita, kita tidak akan menghilangkan begitu saja.Kita kasih solusi,” tambahnya.

Solusi yang diusulkan ini adalah mengkarantina WNI yang datang dari Cina di kapal dan membawa ke tengah laut. “Dimana mereka mendarat, di Batam. Dari Batam naikkan ke kapal perang, karantina disana selama 14 hari di tengah laut. Kalau di tengah laut tidak ada masyarakat kita yang resah, karena tidak berhubungan dengan masyarakat. Lengkapi kapal perangnya dengan fasilitas medis. Ini solusi dari kami yang mungkin tidak terpikirkan mereka,” tegasnya.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia memilih Pulau Natuna sebagai tempat isolasi bagi WNI yang akan dijemput dari Wuhan, Cina.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto seperti dilansir Riaupos. Co sebelumnya menjelaskan, terkait alasan pemilihan wilayah Natuna sebagai transit pemulangan evakuasi warga negara Indonesia (WNI) dari Cina, dalam mengantisipasi penyebaran virus corona.

“Dari TNI mendukung proses kepulangan saudara-saudara kita dari Wuhan menuju Indonesia dengan sarana dan prasarana untuk mendukung protokoler kesehatan sendiri,” ujarnya di Bandara Soekarno – Hatta Cengkareng, Sabtu (1/2).

Hadi menuturkan, kawasan Natuna merupakan kawasan terbaik dan pilihan sebagai tempat isolasi WNI. Hal tersebut selain jauh dari pemukiman penduduk, karena Natuna merupakan pangkalan militer yang memiliki Rumah Sakit (RS) dari tiga angkatan keamanan yaitu Angkatan Laut (AL), Angkatan Udara (AU), dan Angkatan Darat (AD).

“Protokol kesehatan di antaranya kita harus harus penuhi kita memiliki tempat isolasi yang jauh dari penduduk dan tempat terbaik dan terpilih adalah wilayah Natuna,” tuturnya.

Ia melanjutkan lebih jauh, kawasan Natuna sendiri memiliki akses yang berdekatan dengan wilayah observasi.

“Memiliki runway berdekatan dengan wilayah yang nantinya akan digunakan untuk observasi, sehingga saudara kita yang baru datang langsung turun dari pesawat masuk ke tempat penampungan,” jelasnya.

Tempat penampungan sendiri, kata dia, mampu menampung hingga 300 orang dengan fasilitas kebutuhan MCK termasuk dapur lapangan.

Pihaknya menegaskan, jarak antara hanggar ke pemukiman penduduk cukup jauh yaitu sekitar 5-6 kilometer. Sementara jarak dari dermaga juga cukup jauh sekitar 5 kilometer. Sehingga kawasan tersebut cukup memenuhi syarat protokol kesehatan.

“Sehingga Natuna dipilih menjadi tempat transit sementara sampai dengan dinyatakan bebas virus corona,” ucapnya.

Hadi juga menambahkan, pihaknya akan terus mengawal dan memonitor pemindahan WNI dari Wuhan ke Indonesia hingga mendarat dengan selamat.

“Terus kita pantau sampai mendarat. Mudah-mudahan proses bisa berjalan dengan baik dan saya minta doa restu media untuk pelaksanaannya kegiatan ini dapat berjalan dengan baik,” tutupnya.

(dien/sumber: riaupost.co).