Angkasa Pura 2

Wuhan Jadi Sentra Pabrik Kendaraan, Pasokan Otomotif Global Diguncang Corona

OtomotifSenin, 10 Februari 2020
honda

BEIJING (BeritaTrans.com) – Wabah virus corona di China mengguncang industri otomotif global. Berbagai masalah bisa bermunculan, mulai dari rantai pasokan suku cadang, komponen, hingga penurunan penjualan.

Dilansir Carscoops, pasar kendaraan bermotor roda empat di China sebelum merebaknya virus corona mengalami pelemahan selama dua tahun berturut-turut. Hal itu dikarenakan melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional China dan hilangnya insentif pajak untuk mobil listrik.

Dengan adanya persebaran virus corona, kini banyak pabrik di China, khususnya kawasan industri Wuhan, diharuskan untuk tutup sampai Senin (17/2/2020). Bahkan, ada yang memutuskan berhenti beraktivitas hingga Maret mendatang.

Perusahaan mobil dengan pabrik di Kota Wuhan yang merupakan pusat dari virus corona antara lain General Motors (GM), Nissan, Renault, Honda, dan Grup PSA. Volkswagen ( VW), walau tak langsung punya pabrik besar di Wuhan, juga memiliki risiko yang sama besarnya. Itu dikarenakan VW mengoperasikan 24 pabrik yang memproduksi mobil dan suku cadang di China dengan jumlah tidak kurang dari 40 persen dari produksi global.

Untuk saat ini, VW menyebut bahwa pengiriman unit dan rantai pasokannya belum berubah. Stok yang tersedia masih memungkinkan untuk memenuhi seluruh pengiriman sesuai jadwal. Namun, jika krisis ini terus berlanjut, ada kemungkinan rantai pasokan kendaraan roda empat global akan terdampak.

Tidak sampai di sana, pemasok otomotif besar, seperti Bosch, Schaeffler, ZF Friedrichshafen, Faurecia, dan Valeo, memiliki operasi signifikan di China. Mereka terancam untuk bernasib sama dengan VW ataupun pabrikan mobil lainnya.

Awal pekan ini, Hyundai membuat keputusan drastis untuk menunda produksi di pabrik-pabrik Korea Selatan karena virus corona telah memengaruhi pasokan suku cadangnya dari China. “Bahkan, industri otomotif yang tampaknya memiliki eksposur rendah ke pemasok dari China terpengaruh karena beberapa dari supplier mereka sangat bergantung pada input dari China,” kata ekonom global di Capital Economics Simon MacAdam.

“Ini akan membuat kemacetan dalam produksi satu komponen bernilai rendah, tapi dampak panjangnya membuat produksi hilir terganggu,” lanjutnya.

loading...