Angkasa Pura 2

Dari Sidang Emirsyah: Pengadaan Pesawat Garuda Disetujui Pemegang Saham

Ekonomi & Bisnis KokpitJumat, 14 Februari 2020
IMG_20200214_161628

JAKARTA (BeritaTrans.com) –Memasuki sidang kelima kasus korupsi dengan terdakwa mantan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar kembali terungkap tidak ada intervensi dalam proses pengadaan pesawat Garuda Indonesia.

Salah seorang saksi Soetikno Soedarjo
yang dihadirkan dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat merupakan “commercial advisor”, bagian dari pabrikan dan bukan intermediary atau perantara.

“Saya tidak pada posisi dan tidak memiliki kewenangan untuk memberikan pengaruh pada proses pengadaan pesawat Airbus A330 dan Bombardier yang dilakukan Garuda pada saat itu,” tutur Soetikno di Jakarta, Kamis (13/2/2020).

Saksi lainnya, mantan Direktur Teknik Garuda Indinesia Batara Silaban, mantan Direktur Umum dan SDM Achirina, dan Vice President Corporate Planning Garuda Indonesia, dan Setijo Awibowo mengungkapkan, tidak ada arahan atau intervensi dalam proses pengadaan pesawat Airbus A330, Airbus A320 dan Bombarider CRJ 1000 Garuda.

Menurut penuturan mereka, tim bekerja secara independen dan melakukan analisa, dan kemudian mengajukan usulan atau rekomendasi ke dalam rapat direksi. Setelah proses diskusi terbuka dalam rapat, keputusan direksi diambil berdasarkan usulan atau rekomendasi tim.

Keputusan yang diambil kemudian juga dimintakan persetujuan kepada Dewan Komisaris, yang bisa membatalkan apabila tidak sesuai dengan keputusan Garuda.

Pengadaan pesawat Airbus A330 selain disetujui oleh direksi juga telah mendapatkan persetujuan pemegang saham Garuda Indonesia pada saat itu, Sofyan Djalil, selaku Menteri BUMN.

Dalam sidang kemarin itu, penasihat hukum Soetikno, Juan Felix Tampubolon sempat mengingatkan kepada saksi Achirina yang beberapa kali terlihat berbisik atau berbicara kepada saksi lain Setijo pada saat memberikan keterangan. Atas sikapnya itu, majelis hakim kemudian menegur para saksi.

Juan menyampaikan hal yang disampaikan oleh saksi Achirina berkaitan whistleblowing sistem, merupakan hal yang memang sudah ada dan telah ditetapkan dalam peraturan dan ketentuan di BUMN.

“Para saksi juga membenarkan bahwa selama masa kepemimpinan Emirsyah Satar tidak pernah ada pengadaan yang tidak sesuai prosedur,” ujar Juan.

Para Saksi dalam persidangan juga menyatakan, di bawah kepemimpinan Emirsyah Satar, Garuda berhasil bangkit dari ambang kebangkrutan pada tahun 2005. Dengan program Quantum Leap dan berkembang pesat hingga berhasil meraih berbagai penghargaan internasional yang bergengsi.

Saksi Setijo menegaskan, pada saat Garuda akan IPO pada tahun 2011, perseroan membukukan keuntungan Rp 1triliun lebih. (omy).