Angkasa Pura 2

Pelabuhan Pelni Batam ‘Batal’ Pindah ke Sekupang, Ini Lokasinya

DermagaJumat, 14 Februari 2020
Screenshot_20200213_210319

BATAM (BeritaTrans.com) – Pelabuhan Pelayaran Indonesia atau Pelni di Batuampar, Batam, batal pindah ke lokasi semula di pelabuhan Beton Sekupang, Batam, Kepri. Setidaknya untuk jangka waktu dekat ini.

Direktur Promosi dan Humas BP Batam Dendi Gustinandar Kamis (13/2/2020) saat dikonfirmasi menuturkan, calon lokasi baru berada di Batuampar, tidak jauh dari lokasi saat ini.

“Tapi dalam rencana pemindahan ke Dermaga Bintang 99,” katanya.

Sesuai rencana, Badan Pengusahaan (BP) Batam manargetkan pelabuhan Pelni dipindahkan pada April 2020 mendatang. Saat ini, tim BP Batam sedang melakukan pengkajian.

“Target pada akhir April sudah bisa digunakan. Progres saat ini sedang dikaji kelayakan dermaga dan alur laut terkait,” tuturnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kota Batam Tohap Erikson Pasaribu menuturkan, pihaknya meminta Pelni dikembalikan ke pelabuhan semula di Sekupang.

“saya lebih tertarik bagaimana pemindahan pelabuhan Kelud ke Sekupang biar lebih layak digunakan masyarakat,” katanya.

Di lain sisi, BP Batam sedang mengembangkan pelabuhan Batuampar. PT Pelindo II bersama mitranya dalam konsorsium PT Pelindo I dan Persero Batam menyampaikan grand design Pelabuhan Kontainer, Batuampar.

Pengembangan pelabuhan disiapkan mulai 2020 ini, untuk menjadi pelabuhan dengan full automatic. Sementara untuk kapasitas, dalam lima tahun kedepan, kapasitas sudah mencapai 2 juta TEUs.

Direktur Utama PT. Pelindo II, Elvyn G. Masassya menjelaskan rencana pengembangan Pelabuhan Batuampar kedepannya. Pihaknya menyiapkan grand design pengembangan Batuampar, dengan nilai investasi, Rp 400 miliar sampai Rp 1,5 triliun

Nilai investasi itu disiapkan untuk pengembangan kapasitas Pelabuhan Batuampar, dari sekitar 350 ribu TEUs menjadi 2 juta TEUs dalam lima tahun kedepan.

Sebelumnya, pelabuhan itu berada di Pelabuhan Beton Sekupang. Tahap meminta, jika tak memungkinkan lagi di Batuampar harus dibalikkan ke lokasi semula.

“Karena hanya itu yang layak. Tapi memang persoalannya adalah itu milik persero. Harus didudukan semua lintas pemerintah terkait. Termasuk pemko Batam,” tambah Tahap.

Seperti diketahui, Menteri Perhubungan RI Ignasius Jonan kala itu meminta Pelabuhan Beton Sekupang Kota Batam yang selama ini digunakan untuk pelayaran KM Kelud milik PT Pelni dipindah karena dinilai tidak layak.

“Saya minta Pelabuhan Pelni (Pelabuhan Beton Batam) dipindah ke Batuampar, Senin (20/6) ini juga. Kondisinya sangat tidak layak lagi untuk melayani penumpang mudik,” kata Menteri Perhubungan usai meninjau kesiapan pelabuhan tersebut menghadapi musim mudik Lebaran, di Batam, Jumat 17 Juni 2016 saat itu.

Ia mengatakan Pelabuhan Batuampar memiliki dermaga dan fasilitas lain lebih baik dibandingkan dengan Pelabuhan Beton Sekupang yang sebenarnya tidak dirancang untuk kapal Pelni bersandar.

“Pelabuhan Batuampar bagus, terminalnya juga sudah ada. Kalau tidak ada pakai tenda saja juga bisa. Senin ini juga harus pindah,” kata dia.

Untuk pelabuhan lain di Kota Batam, lanjutnya, secara umum sudah siap untuk melayani penumpang mudik Lebaran 1437 Hijriyah lalu.

“Catatan saya hanya yang Pelni itu karena memang tidak layak. Untuk yang lainnya sudah tidak ada masalah. Kapal-kapal juga sudah dicek kesiapannya untuk melayani mudik,” kata dia sebelumnya.

Terganjal Biaya Pengerukan

Pemindahan Pelabuhan Pelni dari Batu Ampar ke Sekupang hingga saat ini masih belum terealisasi.

Padahal, rencana semula pelabuhan kapal Pelni akan dipindahkan dari Batu Ampar ke Sekupang menjelang mudik Natal dan tahun baru 2020.

Kepala BP Batam, Muhammad Rudi mengakui pihaknya segera membahas persiapan tersebut dengan Deputi IV.

Ada beberapa kendala yang dihadapi. Sehingga sejauh ini proses pemindahan belum terlaksana.

“Saya mau minta laporan pak Deputi IV. Sejauh bagaimana kerjasama dengan Persero atau Pelni ini sendiri. Kemarin kendalanya, siapa yang akan membiayai pendalaman lokasi pelabuhan,” ujar Rudi, Selasa (26/11/2019).

Rudi melanjutkan jika Persero tak punya biaya, maka biaya pendalaman akan dibebankan ke anggaran BP Batam.

Jika tidak bisa, maka menggunakan anggaran Pemko Batam.

“Kalau mereka tak ada ya udah biaya kita saja. Tetap dipindah ke Sekupang. Tunggu nanti hasil rapat saya mau tahu biayanya itu berapa. Kalau sudah tahu tinggal sebentar aja prosesnya. Hari ini kan dangkal masuknya susah,” tuturnya.

Sementara itu, untuk fasilitas gedung, hanya tinggal merapikan saja.

Terpenting proses pendalaman laut bisa terselesaikan.

“Tergantung uang ketiga ini siapa yang akan bertahan kalau tidak mau Pemko ambil alih,” katanya.

Sebelumnya memasuki pertengahan November, Badan Pengusahaan (BP) Batam masih menggesa proses pemindahan Pelabuhan Kapal Pelni dari Batu Ampar ke Sekupang.

Proses pengukuran kedalaman alur atau batimetri di Sekupang sudah selesai dilakukan.

“Kesimpulannya kedalaman sudah mencukupi untuk digunakan kapal Pelni,” ujar Direktur Promosi dan Humas BP Batam, Dendi Gustinandar kepada Tribunbatam.id.

Diakuinya sekarang yang dikerjakan adalah renovasi terminal keberangkatan Pelabuhan Beton Sekupang.

Sejauh ini prosesnya sedang dalam proses persiapan lelang.

Sebelumnya, karena Pelabuhan Batu Ampar yang selama ini difungsikan sebagai Pelabuhan kapal Pelni dinilai tak layak, BP Batam bakal segera memindahkan Pelabuhan kapal Pelni ke Sekupang.

Dendi mengatakan targetnya mendekati Natal atau Tahun Baru nanti, pelabuhan itu sudah bisa digeser kembali ke Sekupang.

Harapannya, pengangkutan penumpang jelang Natal atau Tahun Baru sudah bisa dioperasionalkan di sana.

“Saat ini prosesnya sedang disiapkan. Ditargetkan rencana angkutan Natal atau Tahun Baru sudah bisa digeser ke Sekupang,” kata Dendi.

Ia melanjutkan, dari operasional pelabuhan sedang mempersiapkan beberapa hal yang dibutuhkan untuk pemindahan tersebut.

BP Batam juga telah berkomunikasi dengan Pelni, terkait pemindahan ini.

Sementara untuk perbaikan gudang di Pelabuhan Sekupang, anggaran perbaikannya masih dalam proses.

“Pekerjaan renovasi terminal penumpang sedang dalam proses persiapan untuk dilelang. Terkait dengan pemindahan, kita usahakan, namun tentunya melihat perkembangan untuk bisa disesuaikan dengan perkembangan pekerjaan tersebut,” kata Dendi.

Dulu Berlokasi di Sekupang

Seperti diketahui, Menteri Perhubungan RI Ignasius Jonan kala itu meminta Pelabuhan Beton Sekupang Kota Batam yang selama ini digunakan untuk pelayaran KM Kelud milik PT Pelni dipindah karena dinilai tidak layak.

“Saya minta Pelabuhan Pelni (Pelabuhan Beton Batam) dipindah ke Batuampar karena kondisinya sangat tidak layak lagi untuk melayani penumpang mudik,” kata Jonan, usai meninjau kesiapan pelabuhan tersebut menghadapi musim mudik Lebaran, di Batam, Jumat 17 Juni 2016.

Ia mengatakan Pelabuhan Batuampar memiliki dermaga dan fasilitas lain, lebih baik dibandingkan dengan Pelabuhan Beton Sekupang yang sebenarnya tidak dirancang untuk kapal Pelni bersandar.

“Pelabuhan Batuampar bagus, terminalnya juga sudah ada.

Kalau tidak ada pakai tenda saja juga bisa. Senin ini juga harus pindah,” kata dia.

Untuk pelabuhan lain di Kota Batam, secara umum sudah siap untuk melayani penumpang mudik Lebaran 1437 Hijriyah.

“Catatan saya hanya yang Pelni itu karena memang tidak layak. Untuk yang lainnya sudah tidak ada masalah.

Kapal-kapal juga sudah dicek kesiapannya untuk melayani mudik,” kata dia.

Diketahui, sudah lebih kurang 3 tahun belakangan, Pelabuhan Pelni ditempatkan di Batuampar.

Tepatnya pertengahan tahun 2016 lalu. Sebelumnya, pelabuhan ini berada di Sekupang, yang dikenal dengan Pelabuhan Beton.

Menteri Perhubungan kala itu, Ignatius Jonan memutuskan memindahkannya ke Batuampar, bersebelahan dengan pelabuhan kargo.

Namun selama kurun waktu 3 tahun berada di Batuampar, fasilitas mumpuni masih jauh dari harapan.

Bahkan kondisi dan fasilitas Pelabuhan Pelni di Batuampar, kerap disanding-sandingkan dengan pelabuhan lain di Indonesia seperti di Belawan di Medan.

Tak usah jauh-jauh, dibandingkan dengan pelabuhan internasional yang ada di Batam saja masih kalah jauh.

Sehingga Warga Batam menanti perbaikan pelabuhan Pelni.

Berdasarkan pantauan Tribunbatam.id baik di terminal keberangkatan maupun kedatangan sama-sama kurang layak dijadikan terminal penumpang.

Di area keberangkatan misalnya, meskipun diberikan tenda-tenda peneduh, namun terasa panas, sesak dan berdebu.

Lebih memprihatinkan lagi adalah terminal kedatangan, area ini ditempatkan di pelabuhan kontainer dengan akses keluar jalanan tanah penuh debu dan banyak kendaraan lalu lalang yang bisa membahayakan penumpang kapal yang akan keluar pelabuhan dengan berjalan kaki.

Ana, seorang warga Batam mengeluhkan kondisi terminal keberangkatan di Pelabuhan Batu Ampar.

Tempatnya yang panas, berdebu membuat calon penumpang kesusahan saat mengantre sebelum masuk kapal.

Apalagi, bagi para wanita yang memiliki balita dan bayi yang harus berdesak-desakan dalam antrian.

Meskipun ada jalur khusus untuk balita dan lansia, namun dengan kondisi yang panas dan berdebu tetap saja tak terasa nyaman.

Sementara itu, Dina, menyesalkan kondisi terminal kedatangan kapal yang ditempatkan di pelabuhan kontainer pelabuhan Batu Ampar.

“Pas kita turun dari kapal sangat berat, kanan kiri kontainer, panas. kalau mau cari mobil terdekat ya harus naik bimbar, kalau mau naik taksi online ya harus jalan dulu sampai simpang polsek Batu Ampar,” katanya.

Dari hasil pantauan Tribunbatam.id, kondisi pelabuhan kontainer Batu Ampar memang kurang layak bagi para penumpang kapal Pelni.

Di saat para penumpang turun dan berjalan hingga simpang polsek Batu Ampar di jalanan tanah dan berdebu, di jalan yang sama, mobil-mobil kontainer juga sedang beraktivitas dan lalu lalang.

Padahal, kondisi ini sangat berisiko membahayakan para penumpang yang berjalan di sepanjang jalan tersebut.

Tak hanya kerepotan membawa barang bawaan, ada juga wanita yang harus tetap konsentrasi mengawasi anaknya yang ikut berjalan di jalanan tersebut agar tak tertabrak atau tak kena serempet mobil-mobil yang lewat.

Belum lagi jika saat penumpang turun dari kapal di saat hujan turun, otomatis beban yang harus mereka tanggung lebih berat lagi.

“Kita berharap pemerintah memperhatikan keluhan masyarakat. Karena pelabuhan ini sangat tidak layak. Sangat berbeda dengan kondisi pelabuhan lain seperti pelabuhan Belawan, Medan. Baik ruang tunggu maupun ruang kedatangan sangat nyaman. Para penumpang juga tak perlu jauh-jauh berjalan saat akan keluar pelabuhan,” ungkap Muhammad.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Tribunbatam.id, Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Edy Putra Irawady mengatakan, pelabuhan Pelni di Batuampar memang mau dipindahkan ke Pelabuhan Beton, Sekupang. Soal realisasi waktunya ini yang masih dibahas.

Saat kedatangan Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi ke Batam, Mei lalu, Edy sudah mengusulkan, agar menggunakan terminal dalam negeri (terminal domestik) di Pelabuhan Sekupang sementara waktu.

Namun kapalnya berlabuh di Pelabuhan Beton. Hal ini dilakukan untuk pelayanan publik, kenyamanan penumpang keluar-masuk Batam sebagaimana perintah Menhub.

“Kamis (11/7) saya akan rapatkan lagi dengan Pelni, Persero Batam, Sarinah dan pihak terkait lainnya soal ini. Sekalian sinergi BUMN untuk pengembangan gudang logistik untuk tol laut,” kata Edy kepada Tribun, Sabtu (6/7).

Soal waktu realisasinya, Edy mengatakan, janji saat itu memang setelah Lebaran.

Namun, Pelni harus menyediakan bis untuk penumpang dari terminal Sekupang menuju kapal. Jaraknya sekitar 250an meter.

“Direktur (Pelni) nya setuju. Kan di Pelabuhan Beton itu ada gudang Persero Batam yang bisa dikerjasamakan untuk kepentingan bisnis logistik Pelni,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, saat datang ke Batam, Menhub sempat berdialog dengan empat sampai lima penumpang kapal Dorolonda, soal keluhan yang dirasakan, dan masukannya. Intinya, Budi juga mengakui fasilitas yang ada di pelabuhan untuk penumpang, kurang memadai.

“Kalau disuruh pilih, mau di pelabuhan mana. Batuampar atau Sekupang?,” kata Budi saat berdialog dengan seorang penumpang di dek kapal.

“Pelabuhan Sekupang pak. Di sini gabung dengan kontainer. Kalau di sana kan tidak,” jawab penumpang.

Banyak penumpang kapal yang mengeluhkan kondisi Pelabuhan Pelni di Batuampar saat ini. Selain masih bergabung dengan pelabuhan kargo, sehingga membuat tingkat risiko kepada penumpang juga tinggi.

Beberapa penumpang juga mengeluhkan jarak antara ruang tunggu penumpang menuju kapal bersandar. Mereka harus menaiki bus terlebih dahulu, jika akan berangkat. Belum lagi dihadapkan dengan situasi berdebu, jika kondisi panas. Dan kena hujan jika kondisi sedang hujan.

Selain itu, tidak ada kendaraan umum di dekat pelabuhan. Kondisi ini berbeda dengan di Sekupang, di sana terdapat jalur bus-bus Trans Batam di dekat pelabuhan. (lia/sumber dan foto:tribunbatam)

loading...