Angkasa Pura 2

Presiden Erdogan Sebut Turki Siap Lancarkan Serangan Udara dan Darat ke Suriah

HankamJumat, 14 Februari 2020
images (26)

ANKARA (BeritaTrans.com) – Militer Turki memperingatkan pasukan pemerintahan Suriah, akan menyerang mereka di masa saja berada jika ada satu lagi tentara Turki terluka.

Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan, bahkan pihaknya akan menggunakan kekuatan udara jika perlu.

Ini disampaikan Erdogan saat berbicara di parlemen negara itu di Ankara pada hari Rabu, Erdogan mengatakan Turki bertekad untuk mendorong pasukan pemerintah Suriah melampaui pos-pos pengamatan Turki di wilayah Idlib barat laut pada akhir Februari.

“Kami akan melakukan ini dengan cara apa pun yang diperlukan, melalui udara atau darat,” katanya dilansir dari Al Jazeera, Rabu, (12/02/2020).

Turki telah mendirikan 12 pos pengamatan di kubu yang dikuasai pemberontak di Suriah sebagai bagian dari perjanjian 2018 dengan Rusia, yang mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Bulan ini pihaknya telah mencurahkan ribuan pasukan dan konvoi kendaraan militer melintasi perbatasan ke Idlib, termasuk tank, pengangkut personel lapis baja dan peralatan radar untuk meningkatkan posisi militernya saat ini.

Serangan pemerintah Suriah telah menewaskan 13 personel militer Turki di Idlib bulan ini, mendorong tanggapan mematikan dari Ankara di tengah kekhawatiran atas eskalasi kekerasan dalam perang hampir sembilan tahun di negara itu.

Pada hari Selasa, Erdogan mengatakan, pemerintah Suriah akan membayar harga yang sangat berat untuk menyerang pasukan Turki di Idlib.

Ankara mengatakan, pihaknya membalas kedua serangan itu, menghancurkan sejumlah sasaran Suriah.

Dengan dukungan dari Rusia, pasukan Suriah telah melakukan serangan selama berminggu-minggu di provinsi Idlib dan beberapa bagian Aleppo di dekatnya, memicu krisis kemanusiaan dengan sekitar 700.000 orang meninggalkan rumah mereka.

Sebagian besar pertempuran dalam sepekan terakhir berfokus pada jalan raya M5, menghubungkan bekas pusat ekonomi Aleppo ke ibu kota Damaskus ke selatan.

Baik Ankara dan Moskow sepakat pada September 2018 untuk mengubah Idlib menjadi apa yang disebut zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.

Namun pemerintah Suriah dan sekutunya, secara konsisten melanggar ketentuan gencatan senjata – termasuk gencatan senjata baru yang dimulai pada 12 Januari – melancarkan serangan mematikan yang sering terjadi di dalam zona itu. (lia/sumber:sindonews)