Angkasa Pura 2

Karantina Corona, AS Mulai Evakuasi Warganya dari Kapal Pesiar Diamond Princess

Dermaga GaleriSenin, 17 Februari 2020
Ambulans meninggalkan pelabuhan tempat kapal pesiar Diamond Princess yang dikarantina di Yokohama, dekat Tokyo. (ist)

TOKYO (BeritaTrans.com) – Penumpang asal Amerika Serikat (AS) yang dikarantina di kapal pesiar Diamond Princess di Jepang, mulai dievakuasi pada Minggu (16/2/2020) waktu setempat. Para pejabat mengatakan, mereka akan dibawa dengan pesawat sewaan ke salah satu dari dua pangkalan udara militer AS, di mana mereka akan menjalani karantina 14 hari.

Sebelum terbang, para penumpang akan diperiksa untuk mengetahui apakah memiliki gejala penyakit corona atau COVID-19 atau tidak.

Di sisi lain, menurut Kedutaan Besar Amerika di Tokyo, orang Amerika yang memutuskan untuk tidak kembali dengan penerbangan carter, tidak akan dapat melakukan perjalanan ke AS hingga 4 Maret mendatang.

Pejabat Jepang mengatakan, karantina di atas kapal itu harus berakhir pada 19 Februari. Ada 355 kasus virus yang dikonfirmasi pada hari Minggu, yang menjangkit sekitar 3.700 orang dari total penumpang dan awak kapal.

Selanjutnya, seorang perempuan warga Amerika berusia 83 tahun dinyatakan positif terkena virus untuk kedua kalinya sejak terbang kembali ke Malaysia.

Pada pekan lalu sebelumnya, dia dikabarkan naik kapal pesiar MS Westerdam di Kamboja.

Perempuan yang belum diketahui namanya ini adalah salah satu dari 2.257 penumpang dan awak yang terombang-ambing di laut lepas selama hampir 14 hari. Dia juga menjadi yang pertama dinyatakan positif mengidap virus corona.

Para pejabat mengatakan bahwa lebih dari 140 penumpang di kapal melakukan perjalanan melalui bandara Kuala Lumpur Malaysia, dan semuanya, kecuali delapan orang yang terinfeksi, melakukan perjalanan ke tujuan di AS, Eropa, dan Australia.

Seperti yang diberitakan CNBC Internasional, menurut statistik terbaru dari Komisi Kesehatan Nasional China, jumlah total kasus virus corona di Cina daratan telah mencapai 68.500, dan total kematian telah mencapai 1.665 kasus. (ds/sumber CNBC)