Angkasa Pura 2

Lulusan Poltekpel Surabaya ini Jadi Kru Tugboat Penarik Tongkang

DermagaSenin, 17 Februari 2020
IMG_20200217_105020_resize_91

JAKARTA – (BeritaTrans.com) – Cuaca cukup cerah di Pelabuhan Marunda, Jakarta Utara. Terlihat jajaran truk-truk besar sedang menunggu muatan pasir, sedangkan kapal tug boat sedang bersandar. Ada sejumlah anak buah kapal duduk di atas kapal.

Di salah satu kapal tugboat, terdapat Adalah Reza (33). Prìa asal Madura dan Politeknik Ilmu Pelayaran (Poltekp) Surabaya itu menjadi kapal membawa tongkang muatan pasir dan sedang sandar di Pelabuhan Marunda, Jakarta Utara.

Ketika ditemui BeritaTrans.com dan Aksi.id (17/2/2020), dia mengemukakan “Saya sudah 3 hari sandar di Pelabuhan Marunda ini, dari Palembang bawa muatan pasir, setelah selesai balik lagi ke Palembang”.

Di kapal ini, ia bertugas sebagai mualim dua dan baru tiga bulan bekerja di kapal ini dengan gaji Rp5 juta. Dari hasil kerja di kapal penghasilannya untuk membiayai hidup keluarga dan untuk meningkatkan tingkat pendidikan pelaut ANT-IV.

“Apa yang saya hasilkan dari kerja di kapal benar-benar saya manfaatkan buat keluarga dan menabung untuk persiapan pendidikan lagi,” ungkap Reza.

Sebelum jadi pelaut, Reza kerja di darat di kampung halamannya. Berbagai kerjaan ia jalani, mulai dari berkebun, dagang sampai jaga toko dijalani asal halal. Kemudian ia melihat kegiatan orang yang kerja di kapal, ketika dia sedang berada pelabuhan.

” Waktu itu saya tanya sama orang yang jadi pelaut, bagaimana cara bisa kerja di kapal, ” Katanya.

Ia bersyukur pertanyaannya itu dijawab dengan baik dan diarahkan ambil diklat di sekolah pelayaran di Surabaya.

Setelah mendapat penjelasan, ia pun mulai cari tahu sekolah pelayaran di Surabaya. Dan sekolah itu PIP Surabaya.

” Saya langsung ke PIP Surabaya dan mendapat arahan mengikuti diklat,” Ujarnya.

Selama diklat ia berkenalan dengan sejumlah pelaut. Dan bak sudah takdir ia tidak terlalu lama untuk cari kapal dan menjadi pelaut di kapal yang sekarang tempat ia bekerja.

Reza juga mengakui untuk jadi pelaut harus kuat mental. Bukan saja tantangan di lautnya, tapi juga pada orang yang dicintainya, seperti istri dan anaknya. Apalagi ia tinggal di daerah yang antara rumah yang ditempati keluarganya satu sama lainnya berjauhan.

” Tapi alhamdulillah keluarga mendukung dan saudara-saudara menjaga keluarganya, apalagi sekarang ada hape yang setiap saat bisa berkomunikasi,” Katanya.(ahmad)