Angkasa Pura 2

Bea Masuk Impor Onderdil Pesawat & Tinginya Harga Avtur Jadi Penyebab Mahalnya Harga Tiket Domestik

Ekonomi & Bisnis KokpitSelasa, 18 Februari 2020
rusdi

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Bea masuk impor suku cadang pesawat menjadi salah datu penyebab lebih mahalnya harga tiket pesawat dalam negeri lebih mahal dibandingkan rute internasional.

Bos Lion Air Group, Rusdi Kirana, mengemukakan bea masuk itu membuat cashflow lebih besar.

Saat ditemui di kantor Kementerian Perhubungan pada Senin (17/22020) petang, dia mengemukakan besarnya bea masuk terhadap suku cadang ini membuat manajemen maskapai lebih memilih membengkelkan pesawatnya ke luar negeri ketimbang di dalam negeri. Akibat selanjutnya perusahaan aviasi dalam negeri tak kunjung berkembang.

pramugari-batik

Selain bea masuk impor suku cadang, Rusdi mengemukakan komponen HPP melambung karena tingginya harga avtur dalam negeri. Dibandingkan dengan negeri jiran seperti Singapura, harga bahan bakar pesawat di Indonesia tak kompetitif.

Belum lagi, ujar dia, adanya perbedaan harga avtur di Indonesia bagian timur dan barat. Rusdi mengungkapkan, saat ini selisih harga avtur di Indonesia timur dan barat terpaut Rp 4.000.

“Kita lihat harga avtur di Jawa Rp 9.000, sedangkan Ambon Rp 12 ribu,” tuturnya.

Rusdi mendesak pemerintah dan PT Pertamina (Persero) segera menyeragamkan harga avtur di dalam negeri. Dengan kebijakan avtur satu harga, ia memungkinkan manajemen bakal menurunkan harga tiket pesawat, khususnya untuk penerbangan rute timur.

Selanjutnya, Rusdi mengatakan pemerintah mesti memikirkan adanya kebijakan relaksasi pajak pertambahan nilai atau PPN dari 10 persen menjadi 5 persen. Dengan keringanan pajak itu, maskapai penerbangan ke depan dapat dapat menyajikan harga yang lebih kompetitif dan bisnis penerbangan tumbuh sehat.

“Kalau harga terlalu tinggi, yang beli (tiket pesawat) enggak ada. Jadi, airlines yang rugi,” ujarnya.

Butuh Tak Hanya Insentif

Dia juga menanggapi rencana pemerintah untuk memberikan insetif ke maskapai, menyusul ditutupnya rute penerbangan dari dan menuju China akibat penyebaran virus Corona.

Rusdi mengapresiasi perhatian pemerintah ke maskapai. Meski begitu, dia berharap insentif yang disiapkan pemerintah tidak hanya dikarenakan dampak virus corona, melainkan sebagai program jangka panjang dan berkelanjutan.

“Kita senang dikasih insentif, tapi masalahnya tidak hakiki. Yang hakiki adalah future atau ke depan. Kalau kita tak bisa kompetitif, tidak bisa bawa pariwisata,” kata Rusdi

Rusdi meminta pemerintah fokus terhadap upaya pengurangan biaya produksi maskapai secara keseluruhan.

Misalnya, mendorong PT Pertamina (Persero) untu mengevaluasi harga avtur. Dia berharap harga avtur tidak berbeda jauh antara Indonesia bagian barat dan timur.

unnamed

Kemudian, lanjut Rusdi, pemerintah diharapkan memberikan relaksasi pajak pertambahan nilai atau PPN dari 10 persen menjadi 5 persen.

Dengan kebijakan-kebijakan jangka panjang itu, Rusdi meyakini iklim bisnis maskapai penerbangan dalam negeri lebih sehat, sehingga bisa memberikan harga tiket pesawat yang lebih kompetitif.

Di lokasi yang sama, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan rencana pemberian insentif untuk maskapai masih dalam tahap diskusi dengan kementerian terkait.

Menurutnya, dia menyerahkan kewenangan terkait detil insentif yang akan diberikan ke Menteri Keuangan Sri Mulyani.
(fhm/dan).