Angkasa Pura 2

Pemerhati Transportasi: Sepeda Motor Bakal Berakhir, Sebentar Lagi Kena Cukai

Galeri KoridorKamis, 20 Februari 2020
oke tor

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Pemerhati Transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, kondisi masa-masa sepeda motor akan mencapai periode jalan di tempat bahkan sunset adalah suatu keniscayaan di masa depan. “Itu bisa terjadi, apalagi mulai gencar transportasi umum. Musuh sepeda motor itu transportasi umum,” kata Djoko.

Selain berkembangnya transportasi massal, transportasi lain, dan perubahan gaya hidup kaum milenial juga bisa mempengaruhi nasib sepeda motor ke depan.

Dari sisi penjualan sepeda motor selama satu windu terakhir memang dalam tren penurunan setelah masa puncaknya 2011 lalu terjual 8 juta unit. Bahkan asosiasi produsen sepeda motor (AISI) meramal pada 2020 penjualan sepeda motor tak lebih baik dari 2019 yang sempat mencapai 6,48 juta unit.

Pemerintah Happy Berkurang

Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi Setiyadi menanggapi positif berkurangnya sepeda motor. Menurutnya, itu berarti penggunaan angkutan umum oleh masyarakat semakin besar.

“Meskipun jalan banyak dibangun tapi jika penjualan motor tidak dibatasi penjualannya, bertambahnya kendaraan baik motor maupun mobil maka akan over capacity untuk jalan kan. Masyarakat di kota besar pasti akan merasakan itu,” kata Budi, Selasa (18/2/2020) lalu.

“Di satu sisi kita akan mencegah angka kecelakaan yang makin meningkat. Salah satu korbannya 75% dari sepeda motor. (Apalagi) sepeda motor capek juga, keselamatan nggak terjamin, ribet juga,” sebut Budi.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian Harjanto, mengakui bahwa perkembangan transportasi massal cukup signifikan di Indonesia. Dia memandang hal tersebut sebagai perkembangan yang positif.

“Saya pikir itu juga suatu perkembangan yang baik, positif dalam meningkatkan efisiensi transportasi dalam negeri. Kan mereka pakai roda dua karena selama ini transportasi massalnya dalam tanda kutip masih memerlukan pembenahan sana sini,” ujarnya, Rabu (19/2/20).

Siap-Siap Bakal Kena Cukai

Sepeda motor termasuk barang yang akan kena cukai, dalam ketentuan rencana pengenaan cukai untuk kendaraan beremisi CO2. Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah mengusulkannya ke DPR.

Kementerian keuangan memperkirakan potensi penerimaan cukai dapat lebih besar dari Rp 15,7 triliun dalam hal sepeda motor juga dikenakan cukai karena saat ini mayoritas sepeda motor tidak dikenakan PPnBM. Sepeda motor kurang dari 250 cc tidak dikenakan PPnBM karena tidak tergolong barang mewah.

Ketentuan pengenaan cukai akan dikenakan kepada pabrikan di dalam negeri dan kepada para importir. Namun, karakter pengenaan cukai pada umumnya, beban cukai itu akan diteruskan kepada konsumen yang membelinya.

Berdasarkan bahan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang diterima, belum ada besaran tarif yang diusulkan. Besaran tarif dapat berubah tergantung tujuan dari kebijakan pemerintah.

Pihak kemenkeu hanya menyatakan “Tarif cukai advalorum dan atau spesifik multi tarif berdasarkan emisi CO2 yang dihasilkan dan aspek keseimbangan dan keadilan”

Bagaimana cara pembayaran? berdasarkan dokumen tersebut diusulkan pembayaran berlaku secara berkala, dibayarkan setiap bulan.

“Tarif cukai kendaraan bermotor dapat ditetapkan dengan memperhatikan emisi CO2 yang dihasilkan yang dikombinasikan dengan parameter yang menggambarkan tingkat kemewahan untuk keseimbangan dan keadilan,” jelas dokumen tersebut.

Bakal Minggir dari Kota

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian Harjanto mengatakan transportasi massal sudah jadi kebutuhan di kota-kota besar, selanjutnya roda dua masih punya peluang di pedesaan. Ia menjelaskan bahwa di sejumlah daerah masih banyak masyarakat yang membutuhkan motor.

“Di banyak tempat, di daerah daerah masih menggunakan transportasi roda dua. Selain untuk angkutan manusia kadang-kadang dia masih menempatkan barang macam macam begitu ya,” katanya.

“Karena memang lokasinya sangat remote dan kemudian akses juga nggak gampang untuk bisa dilalui oleh bus dan sebagainya. Misalnya di pedesaan kadang-kadang memang faktanya seperti itu,” ungkapnya. (ds/sumber CNBC)