Angkasa Pura 2

Perubahan Iklim: Pesisir Indonesia Terancam Tenggelam, Puluhan Juta Jiwa Bakal Terdampak

Lingkungan & KehutananKamis, 26 Maret 2020
_111401472_6188fb9b-4c49-43ab-94a6-c3a3f0fc1f6f

Jakarta (BeritaTrans.com) – Ancaman tenggelam akibat perubahan iklim tak hanya dihadapi oleh ibu kota Jakarta dan pesisir utara Jawa, namun juga puluhan juta warga lain yang tinggal di pesisir Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat. Namun, banyak dari mereka belum menyadari ancaman ini.

Upaya Rapeah mengepel lantai kayu di rumahnya yang tergenang air tampak sia-sia. Banjir rob yang melanda sejak sehari sebelumnya belum kunjung surut, padahal hari sudah menjelang siang.

_111402030_7518843c-a535-45b9-ac6e-25596c2640c7
Hak atas fotoBBC INDONESIA/AYOMI AMINDONI

Genangan air yang tampak jernih membenamkan seluruh pekarangan dan sebagian lantai rumah yang terletak dua kilometer dari muara Sungai Kakap, Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Barang berharga dan pakaian dikemas agar terhindar dari basah. Kaki meja, kursi dan lemari kayu dan perabotan rumahnya tampak lapuk, tergerus oleh banjir rob atau banjir laut yang belakangan menjadi langganan area tersebut.

“Bukan setahun dua tahun, kan bertahun-tahun yang begini, mana lah tak ada yang hancur. Walaupun dia barang yang kuat pasti hancur soalnya kena air terus,” ujar perempuan berusia 76 tahun itu.

Tiap kali musim hujan yang berlangsung sejak November hingga Maret, rumah Rapeah selalu menjadi langganan banjir, atau acap dalam bahasa Melayu Pontianak.

Tiap malam, kala curah hujan tinggi, air pasang dari laut dan Sungai Kakap melanda area rumah, namun menyurut ketika pagi menjelang. Ada kalanya acap yang datang tak terbendung.

“Cucu saya ini pernah hampir meninggal. Waktu subuh, ayah dan ibunya belum bangun. Dia masih bayi dan tidur di pinggir tempat tidur. Tiba-tiba air banjir datang dan basahlah sebelah badannya,” tutur Rapeah.

Meski rumahnya jadi langganan banjir laut, namun Rapiah masih enggan untuk pindah dari rumah yang ia tinggali sejak 1996 itu, meskipun anaknya menyarankan untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain.

_111402028_54641a17-9e94-49de-ab32-2a4b4de44ed2
Hak atas fotoBBC INDONESIA/AYOMI AMINDONI

Ia mengaku pasrah jika di tahun-tahun mendatang, ancaman banjir harus dia hadapi.

“Hati saya nggak mau rasanya mau pindah. Sayang rasanya, karena dekat masjid. Saya bilang, ‘[saya] sudah tua, tidak bisa kemana-mana’.”

Kendati begitu, dia mengaku tak khawatir jika suatu kali banjir rob yang menerjang akan lebih dahsyat dari apa yang sudah terjadi. Di benaknya, genangan air pasti akan surut lantaran air akan selalu mengalir ke laut.

“Ndak pernah saya bayangkan tu kalau penuh air rumah saya, ndak pernah. Tinggal pasrah aja saya seandainya air besar,” paparnya.

Apa yang terjadi di Kubu Raya, menurut peneliti geodesi dan geomatika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas, adalah bukti banjir laut yang terjadi karena muka tanah turun dan muka air laut naik.

“Dan nanti ke depannya mungkin akan lebih buruk dari ini,” cetusnya.

“Ketika lautnya lagi surut, mungkin ini lebih tinggi dari lautnya, tapi nanti suatu saat karena ini turun terus. Pada akhirnya ketika laut normal juga akan banjir dan bahkan akan permanen, akan tergenang terus,” jelas Heri ketika ditemui di sela penelitiannya tentang penurunan muka tanah di Kubu Raya.

Ancaman tenggelam yang di depan mata, tidak hanya dihadapi oleh warga di pesisir Kalimantan Barat saja, melainkan hampir seluruh pesisir Indonesia, termasuk ibu kota Jakarta yang digadang-gadang sebagai kota paling cepat tenggelam di seluruh dunia.

Merujuk pada studi yang dilakukan Climate Central, sebuah organisasi nonpemerintah yang bermarkas di Amerika Serikat, jumlah ini naik lima kali lipat ketimbang perkiraan sebelumnya.

_111413661_sea_level_rise_indonesia_national_map640-nc-1

Namun, Heri Andreas mengatakan ancaman tenggelam tak hanya disebabkan peningkatan ketinggian air laut saja, akan tetapi lebih banyak dipengaruhi faktor penurunan muka air tanah yang antara lain disebabkan ulah manusia.

“Ketika ancaman itu ada, [masyarakat] menyerahkan ke alam. Bahwa itu proses alam. Padahal sebenarnya bencana ini adalah ulah manusia,” kata dia.

“Ini bukan bencana alam atau natural disaster, tapi man-made disaster,” imbuhnya.

Dia menambahkan ancaman tenggelam karena makin tingginya permukaan air laut dan penurunan tanah, tak hanya dialami oleh Jakarta dan pesisir utara Pulau Jawa saja, namun juga pesisir timur Sumatra, Kalimantan dan Papua bagian selatan.

“Kalau kita bicara Indonesia, hampir di semua pesisir dataran rendah Indonesia itu berpotensi terjadi penurunan tanah dan tentunya ada sea level rise. Makanya berpotensi untuk ada banjir laut,” ujar Heri.

Tahap yang ‘mengkhawatirkan’

Menurut Heri, dalam skala nasional, ancaman tenggelamnya pesisir Indonesia sudah sampai pada tahap yang “mengkhawatirkan”.

Kenaikan suhu global berimbas pada gunung es di kutub utara dan selatan, yang mencair dan mendorong kenaikan permukaan air laut.

Merujuk data satelit yang dikumpulkan selama 20 tahun oleh ITB, penurunan permukaan air laut di perairan Indonesia diperkiraan sekitar 3 – 8 mm per tahun.

Sementara, estimasi penurunan permukaan tanah diperkirakan lebih drastis, berkisar antara 1-10 cm per tahun. Bahkan, di beberapa tempat, penurunannya mencapai 15-20 cm per tahun.

“Tapi secara umum 1-10 cm per tahun, itu terjadi terutama di daerah anglomerasi, pesisir yang banyak orangnya,” jelas Heri.

“Sehingga kalau kita proyeksikan dua model itu maka jelas bahwa sebenarnya kondisi ini akan sangat-sangat mengkhawatirkan.”

Faktor penurunan muka tanah, antara lain pengambilan air tanah yang berlebih karena bertumbuh pesatnya populasi dan infrastruktur dengan berat yang berlebih.

Selain itu, penurunan muka tanah juga terjadi karena konsolidasi natural atau terjadinya pemantapan tanah, yakni ada bagian yang terbentuk dari endapan lengkungan pasir-pasir halus yang kemudian mengeras.

Eksploitasi air tanah yang berlebihan dipercaya sebagai salah satu tipe penurunan tanah yang dominan untuk kota-kota di pesisir yang terancam tenggelam.

_110792224_40d405d0-eb44-421f-92a6-8344073ef168
Hak atas fotoULET IFANSASTI/GETTY IMAGES
Seorang warga Demak, Pasijah, duduk di perahu yang bertengger di teras rumahnya yang tergenang air laut.

Pesisir yang berada di kawasan yang lebih rendah dibandingkan permukaan air laut membuat daerah pesisir semakin rawan akan bencana berupa kenaikan permukaan air laut yang dapat menggenangi daratan yang biasa disebut dengan banjir laut atau banjir rob (tidal flood).

Heri menambahkan potensi tenggelam yang mengancam hampir seluruh pesisir Indonesia, mengakibatkan lebih dari 100 kabupaten/kota di pesisir Indonesia berpotensi tenggelam, namun sayangnya tidak semua warga di pesisir menyadari ancaman itu.

“Lebih dari 100 kabupaten/kota yang berpotensi mengalami masalah ini.”

“Tapi kalau dilihat apakah sudah aware semua, mungkin Jakarta dan Semarang, yang lain masih belum,” katanya.

Kebanyakan pesisir berada di dataran rendah

Kondisi geografis pesisir kepulauan Indonesia yang merupakan dataran rendah, ditambah dengan dampak perubahan iklim serta penurunan muka tanah, dianggap sebagai faktor banjir laut tahunan yang mengancam keberlangsungan kehidupan warga yang tinggal di pesisir.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dodo Gunawan mengungkapkan kondisi geografis pesisir Indonesia ini yang membuat area tersebut rentan terhadap perubahan iklim.

“Rata-rata low land, daerah pesisir dan pulau-pulau pesisir [merupakan] daerah dataran rendah. Kota-kota besar di Jawa misalnya, kebanyakan di daerah pesisir, daerah pantai, sehingga rentan dengan ancaman kenaikan muka laut itu,” jelas Dodo.

Karena kondisi geografis ini, peneliti Geodesi dari ITB Heri Andreas memperkirakan pesisir timur Sumatra, mulai dari Aceh hingga Lampung, berpotensi “tenggelam”.

Demikian halnya pesisir Kalimantan bagian barat ke timur, mulai dari Singkawang, Mempawah dan Pontianak di Kalimantan Barat, Banjarmasin di Kalimantan Selatan, hingga Samarinda di Kalimantan Timur.

_111390036_kubu_raya_mempawah_map640_v2-nc

Kondisi serupa dialami oleh pesisir selatan Papua, termasuk Dolok dan Merauke.

“Papua di bagian selatan, daerah rawa-rawa sampai Merauke. Itu kan tanahnya gambut, pasti akan turun juga meskipun tidak seekstrem di Pantura saat ini,” kata Heri.

Adapun pesisir utara Jawa, mulai dari Tangerang, Bekasi, Muara Gembong, Subang, Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Pekalongan, Semarang, Demak, dan Surabaya, yang juga merupakan dataran rendah lebih dulu menghadapi ancaman tenggelam selama beberapa tahun terakhir, dengan banjir laut tahunan yang datang tiap musim penghujan.

Kalau kita bicara yang paling parah itu pantura [pantai utara Jawa], kemudian Sumatra bagian timur baru ke Kalimantan dan Papua,” ujarnya.

“Karena kalau udah ada unsur manusia di situ [pantura], mengeksploitasi air tanah, di situ land subsidence-nya akan masif.”

Pekalongan di pesisir utara Jawa Tengah, mengalami penurunan tanah sekitar 1-20 cm setiap tahunnya.

_111414586_bandengan_sea_level_rise_map640-nc

Pada 2018, 31% wilayah daratan Pekalongan telah tergenangi air laut secara permanen.

Salah satu warganya, Sisriati, terpaksa meninggikan lantai rumahnya hingga 1 m.

“Lantai di-urug biar nggak ada air. Kalau nggak di-urug kan ada air masuk, nggak bisa melakukan aktivitas sehari-hari, misal lihat TV, aktivitas anak-anak belajar kan repot,” akunya.

Mereka yang bertaruh nyawa
Suwi adalah perempuan paruh baya yang tinggal di muara Sungai Kakap di pesisir pantai Kalimantan Barat yang tiap tahunnya mengalami banjir laut tahunan.

Dia merasa bertaruh nyawa tiap kali banjir rob datang menerjang.

“Khawatir lah, ada dulu sekali acap dalam dua tahun. Ibu balik ke rumah, acap rumah kami, basuh anak aku,” tuturnya.

Dia menuturkan, banjir rob kala itu sempat meluluhlantakkan rumah warga, membuat mereka terpaksa mengungsi.

Suwi menjelaskan relokasi pernah diusulkan pemerintah daerah, namun kebanyakan warga memutuskan kembali ke rumah, meski kondisinya sudah hancur.

Pun, Suwi memilih bertahan di rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter dari laut, meski ancaman banjir rob membayangi. Meski dia akui, setiap hari dirinya merasa was-was.

“Takut. Kami sudah merasa air besar. Tak usahlah kami dapat dua kali.”

_111402034_a053a28a-cd69-488d-b697-045a48f22325
Hak atas fotoBBC INDONESIA/AYOMI AMINDONI

Selain Kubu Raya, Mempawah di Kalimantan Barat juga menjadi langganan banjir rob, bahkan abrasi terus-menerus mengubah garis pantai.

Salah satu warga yang tinggal di Kampung Benteng yang terletak di pesisir Mempawah, Syarif mengatakan sejak pertengahan 1990an, banjir rob mulai terjadi di kampungnya.

Pengalaman banjir terparah dia alami pada tahun 1999 silam, ketika dia sedang melaut tiba-tiba gelombang besar datang dan menyapu kapalnya, satu anggota keluarganya meninggal dalam peristiwa itu.

“Sejak itulah kita jage-jage, asal bulan 12 kita cukup jage lah itu. Nanti kalau untuk banjirnya air darat di daerah ini belum separah itu lah.”

“Kalau di rumah kite, soalnya itu kena hambat jalan umum, ndak seberape sih. Cuman bagian rawannya daerah sini, kalau sedang nelayan itu nak pulang ndak bisa, apalagi kita nak ke laut, ndak bisa itu,” tuturnya dengan logat Melayu yang masih kental.

Biasanya, lanjut Syarif, ketinggan air banjir rob mencapai paha orang dewasa, sekitar 20-40 cm. Meski sudah menjadi langganan banjir rob, namun ancaman banjir air laut lebih menakutkan bagi Syarif.

“Soalnya yang pernah terjadi air laut disertai angin bisa menghancurkan rumah. Tapi kalau banjir air hujan dari hulu, itu paling-paling hanya tenggelam, ndak menghancurkan. Itu yang kita alami di sini.”

Meski ancaman banjir datang dari laut dan dari darat, namun Syarif memutuskan untuk bertahan di rumahnya. Sebab, tempat itu adalah tempatnya mencari nafkah.

“Itu masalah pekerjaan, jadi pekerjaan kita hanya nelayan, nak pindah dari sini jauh dari pekerjaan rasanya ndak bisa kita ninggalkan.”

Dengan kondisi ancaman banjir rob yang berpotensi menyebabkan rumah tinggalnya tengglam, dia mengaku tidak mempersiapkan antisipasi.

“Kita hanya berserah”.

Ancaman tenggelam yang dihadapi pesisir Kalimantan Barat, dipahami betul oleh Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji.

Pria yang pernah menjabat sebagai walikota Pontianak selama dua periode itu mengatakan topografi Pontianak hanya 0,2 – 1,2 cm di atas permukaan air laut. Sedangkan pasang laut lebih dari 1 m, kadang 1,5 m.

Sehingga, pada bulan Desember di Pontianak ada beberapa titik yang tergenang, termasuk Sungai Kakap dan beberapa area yang berada di cekungan.

“Kita selama ini tidak pernah berbicara mengenai topografi secara utuh sebagai panduan untuk perencanaan pembangunan, sehingga kadang ada daerah cekungan yang dijadikan permukiman. Harusnya kan tidak.”

“Daerah cekungan inilah paling padat penduduknya, pasti tergenang,” jelas Sutarmidji.

Kubu Raya berada di daerah cekungan sehingga menyebabkan ketika hujan deras, tanah gambut tergerus, membuat pemukaan tanahnya semakin turun.

“Kalau Pontianak tergenang, daerah lain sudah pasti kena, sebagian besar tergenang di pesisir itu dan intensitasnya semakin tahun makin tinggi,” kata dia.

“Apalagi di sini kawasan pergerakan tanah semakin banyak. Tanah kita tuh labil sehingga pergerakan [semakin banyak],” kata dia.

Sutarmidji mengungkapkan, Kalimantan Barat menghadapi ancaman ekologi dari berbagai penjuru, tidak hanya pesisir yang terdampak pemanasan global, namun juga alih fungsi lahan yang membuat penurunan muka tanah semakin parah.

Salah satunya, penambangan bauksit yang merajalela di Kalimantan Barat. Padahal, menurut Sutarmidji, bauksit merupakan penyeimbang tanah yang labil.

“Begitu ditambang, permukaan tanah turun,” tegasnya.

Sementara itu, alih fungsi lahan yang terjadi di Kalimantan Barat, mengakibatkan ketika cuaca ekstrem terjadi, air dari hulu mengalir deras dan berdampak pada warga yang tiinggal di hilir.

“Tanaman lokal sudah tidak ada, diganti tanaman pendatang seperti sawit.”

“Hilir yang paling menderita. Masyarakat menengah ke bawah pasti menderita. Ini yang kita tidak mau sehingga kita harus antisipasi dari awal,” kata dia.

‘Perubahan iklim sudah menjadi kenyataan’

Selama dua puluh tahun meneliti penurunan muka tanah di Indonesia yang bisa menenggelamkan daratan di kemudian hari, Heri mengatakan respon pemerintah selama ini “masih lambat”.

“Awalnya mereka tidak percaya, akhirnya seiring waktu percaya, kemudian mengambil langkah-langkah, tapi kelihatannya masih sedikit lambat,” akunya.

Masyarakat yang tinggal di pesisir pun, menurut Heri, sebagian besar masih belum memahami ancaman banjir permanen ini.

Kondisi darurat iklim global ‘jelas dan tak terbantahkan’, kata ribuan ilmuwan
Berhentilah merusak tanah, para ilmuwan memperingatkan
Pemanasan global membuat negara panas menjadi lebih miskin

“Masih banyak yang tidak aware, mungkin fenomena alam. Dan di Indonesia unik, bahwa ujung-ujungnya ke pasrah, [karena menganggap] semuanya dari Tuhan,” katanya.

Akan tetapi, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ruandha Agung Sugardiman mengungkapkan pihaknya sudah memetakan daerah-daerah mana yang terdampak dan beberapa kali mengingatkan pemerintah daerah dan warga di daerah bahwa “perubahan iklim sudah menjadi kenyataan”.

“Jadi betul di pantai utara Jawa dan pantai timur Sumatra itu selain kenaikan muka air laut juga ada subsidence dari tanah di sana karena gambutnya dikeringkan, sehingga ada double effect, dari air laut, juga adanya subsidence tanah di situ.”

“Ini yang harus disadarkan ke masyarakat bahwa ini sudah bukan cerita lagi, ini sudah terjadi betul. Oleh karena itu kita harus segera melakukan upaya nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.

_110792222_59717256-bb97-4a71-b0c3-24eb4659fe38
Hak atas fotoULET IFANSASTI/GETTY IMAGES
Seorang ibu membopong anaknya melewati banjir di rumahnya di Pekalongan

Adapun hasil survei yang dilakukan sebuah komunitas global YouGov tahun lalu, menyebut 18% orang Indonesia meyakini bahwa perilaku manusia bukanlah penyebab perubahan iklim saat ini.

Indonesia sendiri menempati peringkat pertama sebagai negara yang membantah terjadinya perubahan iklim akibat ulah manusia dari 23 negara yang dilakukan survei.

Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji mengungkapkan yang menjadi pekerjaan rumah kini adalah membuat masyarakat yang tinggal di pesisir, yang merupakan golongan ekonomi lemah dan belum sepenuhnya sadar akan ancaman perubahan iklim, untuk mulai mengubah perilaku.

“Itu sudah kita lakukan, cuman kadang masyarakat ini kan kalau belum ada korban dia belum kapok. Itu ada korban baru ribut.

“Harus ada penanganan mitigasi bencana yang komprehensif, semua harus dalam kepentingan jangka panjang anak cucu kita,” kata dia.

Relokasi warga yang tinggal di kawasan rawan, disebut Sutarmidji sebagai salah satu solusi.

Sementara, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan akan menangani masalah tersebut “kasus per kasus”, dengan mengedepankan pendekatan pembangunan infrastruktur dan sosial.

“Case by case, tidak ada yang tunggal.”

“Jadi upamanya, di Pekalongan di beberapa titik dibuat tanggul. Kemudian, Semarang – Demak dibuat tol, tolnya saya minta dibuat tanggul. Tapi sementara di beberapa lain yang masih ada potensi untuk dihijaukan, dihijaukan,” jelasnya.
(sumber:bbc)