Angkasa Pura 2

Ini Antisipasi KKP Jika Pandemi Covid-19 Ganggu Ekspor dan Perikanan Budidaya

IMG-20200329-WA0020_resize_87

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menyiapkan sejumlah skenario jika pandemi Covid-19 berdampak signifikan terhadap produksi perikanan di Tanah Air, terutama perikanan budidaya dan kinerja ekspor.

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo tidak menampik adanya sejumlah kekhawatiran mengenai imbah wabah Covid-19 terhadap kinerja produksi dan ekspor perikanan.

“KKP atau negara akan terus hadir untuk memastikan bahwa produktivitas tetap terjaga karena saat ini produktivitas di sektor perikanan budidaya kita sedang bagus-bagusnya. Kami terus memantau untuk memastikan bahwa perikanan budidaya terus maju, “kata Edhy.

Memang dalam kondisi ini ada penurunan ekspor karena konsumsi udang/ikan di beberapa negara menurun. Seperti di Amerika, Eropa dan China membatasi jumlah impor karena banyak restoran yang tutup. Namun ini diharap tidak menjadi kendala, masyarakat tidak kendor dalam berbudidaya, harus diyakini bahwa negara tetap hadir untuk masyakarat.

“Nanti jika memang permintaan menurun, kami coba akan siapkan beberapa skenario seperti misalnya Pemerintah membeli langsung (produksi perikanan). Tapi, itu juga kita harus pikirkan ketersediaan coldstorage untuk menampung. Hal ini tentunya akan kami koordinasikan terlebih dahulu dengan Presiden. Menurut laporan yang saya terima, wabah Covid-19 memang ada pengaruh terhadap penurunan permintaan 10-20%, tapi saya rasa ini tidak terlalu signifikan,” jelas Menteri Edhy, Sabtu (28/3/2020).

Berkaitan dengan hal tersebut, pihaknya terus melakukan koordinasi baik di internal maupun eksternal untuk memastikan ketersediaan stok ikan dan aktivitas pembudidaya.

“Saya telah menugaskan Dirjen Perikanan Budidaya untuk mendata potensi udang di masyarakat yang belum terjual dan kepada Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan untuk mendata coldstorage baik yang operasional maupun yang tidak operasional, untuk scenario diatas,” imbuh Edhy.

Potensi lain dari dampak pandemik Covid-19, KKP terus melakukan antisipasi jika ke depannya ada upaya penerapan pembatasan atau bahkan penutupan akses ke beberapa wilayah.

“Tentu kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait agar khusus untuk urusan suplai logistik dan sarana prasarana penunjang usaha tidak dibatasi. Misalnya pengiriman produk ikan, pakan, benur dan obat obatan,” tutupnya.

Sementara itu Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, menegaskan pihaknya akan terus mendorong produktivitas budidaya, salah satunya udang vaname di beberapa daerah. Ia mengaku telah menyiapkan strategi untuk genjot produksi di hulu.

“Kita punya target peningkatan ekspor udang sebesar 250% hingga tahun 2024. Artinya kita perlu optimalisasi lahan tambak yang ada. Daerah-daerah di kawasan pantai Selatan Jawa punya potensi besar untuk kita kembangkan menjadi sentral produksi udang. Namun, tentunya kita harus pertimbangkan daya dukung lingkungannya juga,” ungkap Slamet.

Slamet mengaku sudah menyiapkan roadmap untuk 5 (lima) tahun ke depan yang berisi straregi KKP dalam menggenjot produksi udang nasional. Menurut Slamet, pihaknya bakal melakukan optimalisasi lahan tambak melalui pendekatan kawasan berbasis kawasan, dimana aspek keberlanjutannya bakal terjamin.

“Kami akan pastikan bahwa supply benih dan juga ketersediaan pakan ikan terjamin dengan harga yang terjangkau di masyarakat,” lanjut Slamet.

Sebagai informasi, salah satu daerah budidaya udang vaname di Jawa Barat berada di kawasan Cidaun, Kabupaten Cianjur. Adalah PT. Kawan Kita Semua yang mengelola tambak seluas 5 hektare dengan menerapkan teknologi intensif. (fhm)