Angkasa Pura 2

Kalau Ada Penerbangan Darurat, Bandaranya Ditutup, Masak Pesawat Mesti Mendarat di Empang

Bandara Perspektif Bang AweMinggu, 29 Maret 2020
a380_899895

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Penutupan sementara akses penerbangan oleh sejumlah pemerintah daerah (pemda) memang dapat dipahami dalam konteks kepentingan pencegahan penyebaran virus Corona, Covid-19.

Ada otoritas dipegang pemda untuk menjaga kesehatan sekaligus menyelamatkan masyarakatnya. Karenanya, lockdown parsial berupa kebijakan penutupan sementara bandar udara (bandara) ini dapat diterima secara logika.

Namun patut juga diterima pemahaman bahwa bandara sebagai infrastruktur transportasi tidak hanya berfungsi sebagai simpul transportasi, tempat orang dan barang lalu lalang menggunakan jasa transportasi udara.

Bandara memiliki multifungsi antara lain menjadi katalisator perekonomian daerah serta nasional. Lancarnya mobilitas orang dan barang secara otomatis melancarkan aktifitas bisnis dengan begitu banyak turunannya, termasuk UMKM.

Dengan peran besar itu, maka penutupan bandara dapat berpotensi justru semakin melemahkan perekonomian daerah di tengah wabah Corona.

Dalam konteks pencegahan sebaran Corona, maka sepatutnya tak lantas memvonis bahwa bandara menjadi penyebab masuknya virus Corona. Pada sisi lain, belum ada penelitian sahih alias valid, yang dapat membuktikan bahwa sebaran virus Corona disebabkan oleh terbukanya akses transportasi di bandara.

Apalagi operator bandara, baik Ditjen Perhubungan Udara, PT Angkasa Pura I dan II serta pemegang Badan Usaha Bandara Udara (BUBU) telah berusaha keras menyediakan skenario dan fasilitas pencegahan masuknya virus Corona, termasuk di dalamnya penyediaan thermal gun, thermal scanner, walk through insfection, disinfeksi, wastafel untuk cuci tangan, penyediaan paramedis dan koordinasi dengan rumah sakit terdekat.

Ada banyak lagi pertimbangan, yang harus dijaga marwah otoritas dan fungsi, sebelum menutup aktivitas bandara.

Seperti dikemukakan Dirjen Perhubungan Idara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto dalam surat HK.104/3/1/DRJU.KUM-2020 tertanggal 24 Maret 2020, yang ditujukan kepada seluruh kepala Otoritas Bandara.

Dirjen menyatakan memahami maksud dan tujuan menerapkan kebijakan penutupan bandar udara dalam rangka pencegahan penyebaran virus Covid-19.

Namun penutupan bandar udara merupakan kewenangan dari
Kementerian Perhubungan cq. Direktorat Jenderal Perhubungan
Udara, sehingga apabila bandar udara akan ditutup maka harus
disampaikan kepada Kementerian Perhubungan cq. Direktorat
Jenderal Perhubungan Udara untuk terlebih dahulu dilakukan
evaluasi;

Bandar udara merupakan obyek vital yang tidak hanya melayani penerbangan untuk penumpang tetapi juga melayani angkutan kargo, logistik dan pos yang dibutuhkan oleh masyarakat;

Bandar udara juga mempunyai fungsi sebagai bandar udara alternatif (alternate) bagi penerbangan yang mengalami kendala teknis maupun operasional, melayani penerbangan untuk penanganan kesehatan/medis (medivac evacuation) serta untuk
penerbangan yang mengangkut sampel infection substance Covid-19;

Pelayanan navigasi penerbangan (Airnav Indonesia) juga
tidak dapat ditutup mengingat layanan navigasi penerbangan ini
tidak hanya diperuntukan bagi penerbangan dari dan ke bandar
udara setempat, tetapi juga melayani penerbangan yang melalui
bandar udara tersebut atau yang ada pada ruang udara yang
menjadi wilayah kerja pelayanannya.

Terkait pembatasan ataupun larangan bagi penerbangan angkutan
udara niaga maupun angkutan udara bukan niaga yang mengangkut
penumpang prinsipnya dapat dilakukan dalam rangka pencegahan
penyebaran virus covid-19, namun kiranya perlu terlebih dahulu
dilakukan sosialisasi kepada Badan Usaha Angkutan Udara maupun
kepada pengguna jasa penerbangan sebelum pembatasan penerbangan tersebut diberlakukan.

Pernyataan Novie itu jelas dan tegas bahwa ada fungsi lain bandara antara lain menjadi tempat alternatif pendaratan darurat pesawat.

Kalau ada pesawat mengalami kerusakan teknis dan operasional atau mendapat halangan cuaca buruk, maka butuh bandara alternatif untuk mendarat di luar jadwal. Nggak mungkin juga mendarat di kali, empang atau sawah.

(Gus Awe).