Angkasa Pura 2

Malaysia Lockdown, Sejumlah Warga Aceh Gunakan Jalur Ilegal untuk Mudik

Another News Dermaga DestinasiSenin, 30 Maret 2020
oegkvktb8vxtrmttsijs

BANDA ACEH (BeritaTrans.com) – Warga Aceh yang berada di Malaysia ramai-ramai bergerak untuk pulang ke kampung halaman setelah negara itu melaksanakan lockdown mencegah penyebaran virus corona atau COVID-19.

Sebagian dari mereka memilih pulang dengan jalur ilegal melalui laut dan tak sedikit dengan jalur pelabuhan resmi.

Salah seorang warga Aceh, yang tak ingin namanya disebut mengaku dirinya pulang dari Malaysia pada Minggu (29/3/2020). Dia pulang ke Aceh melalui jalur laut, dikarenakan semua penerbangan dari Malaysia ke Aceh sudah ditutup.

Dia menyeberang Selat Malaka melalui Pelabuhan Pasir Gudang di Johor ke Pelabuhan Batam Center, di Batam, Kepulauan Riau. Menurutnya, untuk memperoleh tiket kapal, dia harus mengantre sejak pukul 2 dini hari dan baru mendapatkan tiket pukul 10 pagi.

“Ramai sekali antrean orang untuk membeli tiket kapal,” kata dia Senin (30/3/2020).

Menurutnya, dalam sekali berlayar, kapal mengangkut sebanyak 100 penumpang. Dalam sehari, kapal dari Johor ke Batam itu hanya berlayar empat kali.

“Dalam sehari berarti ada sekitar 400 orang dari Malaysia ke Indonesia,” kata dia.

Sebelum memasuki kapal, semua penumpang diperiksa suhu tubuh dan disemprot disinfektan. Hal serupa juga dilakukan ketika memasuki Pelabuhan Batam Center, semua penumpang dicek kembali suhu tubuh.

Menurut dia, setelah Malaysia menerapkan lockdown, banyak warga Aceh yang bergerak ke kampung halaman. Selain melalui jalur resmi seperti yang dilakukannya, tak sedikit warga yang memilih pulang dengan jalur ilegal menggunakan perahu nelayan.

“Paling banyak yang pulang itu warga Bireuen, Pidie, dan Aceh Utara,” kata dia.

Sebelumnya Pemerintah Aceh melalui Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) di Jakarta, Almuniza Kamal, meminta masyarakat Aceh dirantau agar tidak pulang kampung alias mudik untuk sementara guna mencegah penyebaran COVID-19.

“Imbauan itu dikeluarkan berdasarkan perkembangan penyebaran Virus Corona yang mengkhawatirkan masyarakat di Aceh, karena masifnya penularan virus itu di berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa,” ujarnya pada Senin (23/3/2020) lalu.

Sampai saat ini di Aceh sudah 5 orang dinyatakan positif COVID-19, salah satu di antaranya telah meninggal dunia. Hingga Minggu (29/3) sore, jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) di Aceh mengalami peningkatan menjadi 567 dari jumlah 416 satu hari sebelumnya.

Dari 567 ODP tersebut sebanyak 453 di antaranya dalam proses pemantauan, dan sisanya 144 ODP telah selesai melewati masa pemantauan. Sementara jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 41 orang.
(fhm/sumber kumparan)