Angkasa Pura 2

35 Tahun Bandara Soetta: Tetap Gagah dengan Struktur Pondasi Cakar Ayam

BandaraRabu, 1 April 2020
IMG-20200401-WA0013

TANGERANG (BeritaTrans.com) – Rabu, 1 April 2020 ini tepat usia 35 tahun Bandara Soekaeno-Hatta (Soetta).Di tengah usia puluhan tahun itu, bandara kelolaan PT Angkasa Pura II tersebut tetap kokoh dan tangguh melayani.

Ada kisah menarik tentang hebatnya konstruksi bandara terbesar di Indonesia tersebut, yang diungkapkan Wardhani Sartono, pensiunan Guru Bandar Udara Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (UGM).

Pandangan salah satu pelaku atau saksi sejarah pembangunan bandara itu didapat BeritaTrans.com dan Aksi.id melalui Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin.

IMG-20200401-WA0012

Wardhani Sartono mengemukakan runway, taxiway dan apron sisi Utara dan Selatan yang lama dibangun dengan sSistem/Struktur Fondasi Cakar Ayam, beroperasi mulai tg 1 April 1985.

‘Saya ingin menyampaikan kembali secara singkat tentang Struktur Perkerasan Pondasi Cakar Ayam untuk Runway 25R-07L dan 25L-07R, Taxiway, Apron T1 dan T2 Bandara Soekarno-Hatta yang ditulis di Kompas Minggu, 26 Maret 2017, Bandara Cengkareng, ditambah sumber lain,” tuturnya.

Sistem Fondasi Cakar Ayam

Survei Bandara Cengkareng (CGK) dilaksanakan tahun 1970.
Diputuskan menggunakan sistem Pondasi Cakar Ayam oleh Bpk Presiden Soeharto saat menerima
Menteri Perhubungan Roesmin Noerjadin di Bina Graha, 26 Desember 1979.

IMG-20200401-WA0014

Pondasi Cakar Ayam diciptakan oleh Prof. Sedijatmo Atmohoedojo, Guru Besar institut Teknologi bandung (ITB) pada tahub 1961, dan dikembangkan bersama dengan Ir. Rijanto P. Hadmodjo, alumni Teknik Sipil UGM, lulus tahub 1953, Nomor Mahasiswa 9/TS.

Bandara mulai dibangun tahun 1980 dengan nama JIA-C (Jakarta International Airport-Cengkareng). Letak antor Proyek JIA-C kalj pertama berdampingan dengan Kantor Direktorat Pelabuhan Udara, Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, kemudian pindah ke Kantor yang baru di Komplek Jurumudi, Tangerang.

Saat masih berkantor di Kemayoran, yang menjadi Sekretaris Proyek adalah Rachman Wirjomidjojo, alumni Teknik Sipil UGM tahun 1955, Nomor Mahasiswa 166/TS. Sebelumnya Rachman menjabat sebagai Sekretaris Ditjen Perhubungan Udara.

Saat Proyek JIA menempati Kantor baru di Tangerang, yang menjadi Direktur Teknik adalah Woerjanto, alumni Teknik Sipil UGM tahun 1961, Nomor Mahasiswa 940/TS. Sebelumnya Woerjanto menjabat sebagai Kepala Direktorat Pelabuhan Udara I, sekarang namanya Direktorat Bandar Udara.

JIA dibangun untuk memindahkan penerbangan komersial dari Kemayoran dan Halim Perdanakusuma (HLP), sehingga mampu mendukung pesawat Boeing B 747- 200.

Luas runway, taxiway dan apron 1,2 juta m2, memerlukan 240.000 pipa beton (sumuran) dengan diameter pipa beton untuk runway dan taxiway 120 cm, serta untuk apron 104 cm.

Panjang pipa beton 200 cm, tebal pipa beton 8 cm, jarak antar pipa beton 250 cm. Tebal pelat beton runway dan taxiway 20 cm, dan apron 17 cm (apron Terminal T1 dan T2).

Pembangunan bandara dengan konstruksi Cakar Ayam ditinjau Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto pada 31 Januari 1983.

Didarati kali pertama pesawat VC-8 Merpati MZ 451 pada 1 Januari 1984. Pengoperasian pertama Bandara Soetta pada 1 Aprul 1985 dan diresmikan menjadi Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta oleh Presiden Soeharto pada 5 Juli 1985.

Saat peresmian Bandara, Pemimpin Proyek Bandara Internasional Soekarno-Hatta, adalah Soetomo Adisasmito, alumni Teknik Sipil UGM tahun 1951, sebelumnya menjabat sebagai Sekjen dan Irjen Departemen Perhubungan.

Daya dukung relatif movement area tahun 1985: PCN 121,4 /R/D/W/T. Tahun 1999, nilai PCN ditinjau ulang dalam Rapat di Lt 1, Gd 600 PT AP 2, dipimpin oleh Direktur Teknik, Yayoen Wahyoe. “Saya dan Dr. Bambang Suhendro ikut hadir rapat. Nilainya direvisi menjadi :
PCN 120/R/D/W/T,” jelas Wardhani.

Dia mengutarakan pada tahun 2017 Runway Bandara Soekarno-Hatta sudah beroperasi selama 32 th, runway 25R-07L dan taxiway NP-2 dioverlay dengan hotmix tebal 19 cm, dan selesai akhir 2019. Pekerjaan itu agar mampu mendukung pesawat Boeing B 777-300ER dan MTOW 351.4 T, sehingga dapat direct flight dari Jakarta (CGK) ke London (LHR).

Sistem Fondasi Cakar Ayam sekarang terus dikembangkan Prof. Bambang Suhendro, alumni Teknik Sipil UGM tahun 1979, Nomor Mahasiswa 8267/TS, dan Prof. Harry Christady, alumni Teknik Sipil UGM tahun 1981, Nomor Mahasiswa 8223/TS, tentunya dengan ilmu dan teori yang baru.

Selain itu, Jalan Tol Sedijatmo, panjang sekitar 22 km, juga dibangun dengan Sistem Fondasi Cakar Ayam pada 35 tahun lalu, dan pernah dioverlay dengan hotmix th 1989. Kondisinya masih sangat bagus, walaupun terdapat lokasi tertentu yang mengalami penurunan >100 cm, tetapi struktur perkerasannya tidak patah.

Apron B Terminal 2 Bandara Internasional Juanda, dibangun dengan struktur cakar ayam tahu 1975 dan beroperasi th 1978. Saat ini masih digunakan untuk parking stand pesawat Garuda B 777- 300ER dan A 330- 300. Sebagian slab sudah terjadi kerusakan dan diperbaiki dengan temporary patching menggunakan hotmix. Tahun 2020 apron tersebut akan dioverlay dengan beton tulangan rangkap tebal 17 cm, menggunakan sistem unbonded overlay dengan hotmix interlayer tebal rata2 : 2 cm.

Belum ada struktur perkerasan runway, taxiway dan apron type lain (rigid atau flexible pavement) yang mempunyai durability tinggi, sama seperti struktur Cakar Ayam, karena belum terbukti. Khusus untuk Runway dan Parallel Taxiway Bandara Hang Nadim, Batam, Flexible Pavement, beroperasi th 1995 – 2020 (25 th), sekarang kondisinya masih cukup baik, belum pernah dioverlay.

Ada beberapa struktur perkerasan runway, taxiway dan apron lain yang dibangun setelah th 2000, sudah terjadi kerusakan dini (early deterioration) sebelum mencapai 10 th atau 50% dari design life 20 th (ICAO, FAA). Hal ini dapat dilihat dari metoda dan jumlah perbaikan yang pernah dilakukan (maintenance and repair) di perkerasan tersebut, yang katanya menggunakan sistem terbaru.

Civil engineer generasi sekarang tidak tertarik mengembangkan Sistem Fondasi Cakar Ayam untuk perkerasan bandara dan jalan, yang merupakan temuan putra terbaik Bangsa Indonesia dan sudah teruji durabilitynya demi kemajuan bangsa dan negara RI. Hal ini mungkin disebabkan karena kemalasan atau ketidaktahuan.

Pada tahun 2018, Bandara Internasional Soekarno-Hatta merupakan bandara tersibuk nomor 18 dunia yang melayani 66,9 juta penumpang, di atas Singapore Changi Airport rangking 19, yang melayani 65,6 juta penumpang, tetapi infrastruktur Bandara Soekarno-Hatta rangking 40 dunia, sedangkan Singapore Changi Airport rangking 1 dunia.

Setalah ke-35

Runway 25R – 07L dan taxiway NP-2 sisi utara sudah selesai overlay akhir th 2019, tetapi masih menunggu hasil Quality Assurance dari PT AP 2 dan Verifikasi dari Direktorat Bandar Udara.

Soetta merupakan satu-satunya bandara di Indonesia yang sudah dilengkapi dengan runway maintenance equipment yang terdiri dari HWD, Skiddometer, Mu Meter dan Laser Beam Profilometer, masing-masing satu unit.

Overlay runway (25L-07R) dan taxiway sisi selatan, belum dimulai, walaupun menurut design life rekomendasi dari ICAO dan FAA (20 tahun) sudah terlambat 15 tahun. Demikian juga overlay taxiway WC-1 dan WC-2, serta apron depan Terminal T-1 dan T-2.

Dia mengutarakan lebih mendesak adalah rekonstruksi sebagian taxiway NP-1 sepanjang sekitar 900 m, dan realignment taxiway NC-4, yang mempunyai longitudinal slope change > 5%, melebihi persyaratan max 1,5%, karena dapat membahayakan pesawat saat taxiing di lokasi tersebut.

“Saya merasa bersyukur mendapat kesempatan bertemu beberapa kali dan menerima banyak nasehat dari para Guru dan Super Senior saya alumni Teknik Sipil UGM Bapak Soetomo Adisasmito, Bapak Rijanto P. Hatmodjo, Bapak Rachman Wirjomidjojo, dan Bapak Woerjanto,” ujarnya.

“Salah satu nasehat yang masih saya ingat dari Bapak Rachman W, tahun 1977 adalah jadilah insinyur yang baik dan jujur yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.”

Dia menuturkan sejak tiga tahun lalu beecita-cita ingin memberi training kepada anggota runway maintenance sekitar 20 orang, tentang Runway Maintenance & Repair, tetapi belum terlaksana.

“Saya belajar airport pavement sudah 2 generasi atau 45 tahun, dari saat menjadi PNS Ditjen Perhubungan Udara tahun 1975, sampai sekarang 2020. I ‘ll do my best for my country NKRI,” tegasnya.

Awaluddin: Berkapasitas Terbesar

Sementara itu, Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin menuturkan onstruksi cakar ayam adalah salah satu metode rekayasa teknik dalam pembuatan pondasi bangunan. Pondasi cakar ayam ini merupakan salah satu jenis pondasi hasil karya anak bangsa Indonesia yaitu ditemukan oleh Prof Dr Ir Sedijatmo pada tahun 1961.

“Hari ini pada 1 April 2020, Bandara Internasional Soekarno Hatta tepat berusia 35 tahun. Saat ini, Bandara Internasional Soekarno Hatta adalah bandara terbesar, tidak hanya di Indonesia tapi juga menjadi bandara dengan kapasitas terbesar di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pacifik,” ucapnya.

Menjadi kebanggaan bagi Angkasa Pura II sebagai operator dan pengelola Bandara Internasional Soekarno Hatta dan menjadi komitmen bagi Angkasa Pura II untuk mempertahankan nilai nilai sejarah bandara yang menjadi kebanggaan Indonesia. (awe).