Angkasa Pura 2

Sri Mulyani: Kemungkinan Terburuknya Rp20.000/Dollar AS

Ekonomi & BisnisRabu, 1 April 2020
images (12)

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan, nilai tukar rupiah masih akan melemah dari level yang saat ini akibat penademi corona (Covid-19).

Dalam skenario berat Sri Mulyani, nilai tukar rupiah bisa mencapai Rp 17.500 per dollar Amerika Serikat (AS). Sementara dalam skenario sangat berat, nilai tukar rupiah bisa menembus level Rp 20.000 per dollar AS.

“Kemungkinan terburuknya rupiah bisa mencapai 20.000 per dollar AS,” kata Sri Mulyani dalam video conference, Rabu (1/4). Level ini jauh dari target yang dipatok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 yang sebesar Rp 14.400 per dollar AS.

Tak hanya nilai tukar, tingkat inflasi tahun ini juga diperkirakan akan meleset dari target. Dalam skenario berat Sri Mulyani, inflasi 2020 akan mencapai 3,9% dan skenario sangat berat inflasi akan tembus 5,1%.

Pertumbuhan Ekonomi Bisa Negatif

Sri Mulyani menyampaikan pertumbuhan ekonomi pada 2020 bisa menyentuh negatif 0,4%. Ini merupakan skenario terberat dampak dari wabah virus corona (Covid-19).

Lebih lanjut, Menkeu menyebut skenario pertumbuhan ekonomi tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa perubahan skenario dalam asumsi makro ekonomi lainnya.

“KSSK (Komite Stabilitas Sektor Keuangan) memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini turun jadi 2,3% dan lebih buruk bisa negatif 0,4%. Sehingga kondisi ini menyebabkan penurunan kegiatan ekonomi dan berpotensi menekan lembaga keuangan karena kredit tidak bisa dibayarkan dan perusahaan alami kesulitan revenue,” ungkapnya.

Dengan skenario terburuk, Indonesia Crude Price (ICP) berada di level US$ 31 per barel, nilai tukar rupiah menyentuh Rp 20.000 per dollar Amerika Serikat (AS), inflasi 5,1%. Sehingga PDB nominal diproyeksi mencapai RP 16.574,9 triliun jauh dari asumsi pemerintah sebelumnya sebesar Rp 17.464,7 triliun.

Namun demikian, ini merupakan skenario terburuk, pemerintah berkomitmen akan terus menjaga stabilitas makro ekonomi. “Ini akan diantisipasi agar tidak terjadi,” tuturnya.

Penerimaan Negara Turun 10%

Dia juga menyatakan penerimaan negara tahun ini akan turun sebesar 10%. Penurunan penerimaan negara ini akibat aktivitas ekonomi terganggu oleh merebaknya wabah virus corona Covid-19 baik dari sisi penerimaan negara dari Pajak maupun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

“Penerimaan perpajakan turun akibat kondisi ekonomi yang melemah, dukungan insentif pajak dan penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) untuk turun dampak jatuhnya harga komoditas,” ungkapnya.

Sementara belanja dan pembiayaan anggaran akan diarahkan untuk mengatasi wabah virus corona Covid-19.

Pertama, belanja negara fokus pada kesehatan, sosial safety net dan membantu dunia usaha yang terkena wabah virus corona Covid-19. Caranya denga refocusing dan realokasi anggaran untuk penanganan virus corona Covid-19.

Adapun penghematan belanja negara sekitar Rp 190 triliun yakni dari Kementerian Lembaga sebesar Rp 95,7 triliun dan Transfer ke daerah dan Dana Desa (TKDD) sebesar Rp 94,2 triliun, termasuk penghematan alamiah. Tambahan belanja penanganan virus corona Covid-19 sebesar Rp 255,1 triliun.

Kedua dukungan pembiayaan anggaran untuk penanganan virus corona Covid-19 sebesar Rp 150 triliun, diantaranya pembiayaan dalam rangka mendukung program pemulihan ekonomi nasional.