Angkasa Pura 2

Obama: Kita Merasakan Pahitnya akibat Abaikan Peringatan Pandemi

FigurKamis, 2 April 2020
images (13)

WASHINGTON (BeritaTrans.com) – Mantan presiden Amerika Barack Obama hari Selasa (31/3) secara terselubung mengecam penggantinya Donald Trump, mengkritik pedas mereka yang “menolak peringatan” pandemi virus corona yang mematikan dan memperingatkan agar tidak mengabaikan konsekuensi akibat perubahan iklim.

Presiden dari partai Demokrat yang populer dan menjabat selama dua periode itu menulis di media sosial sementara pemerintahan Trump bersiap membatalkan peraturan irit bahan bakar kendaraan era Obama, dan standar emisi gas rumah kaca untuk memperlambat pemanasan global.

“Kita telah merasakan pahitnya akibat mengabaikan peringatan pandemi,” tulis Obama di Twitter.

Pemerintahan pimpinan Partai Republik menghadapi kritik tajam karena gagal mengindahkan peringatan global awal tentang wabah virus itu, setelah korban tewas mulai melonjak di China dan Italia.

Sejauh ini tercatat 185 ribu penderita virus corona di Amerika, terbanyak di seluruh dunia, dan angka kematian di Amerika melonjak melampaui 3.800 – melebihi korban resmi di China.

Cuitan Obama memuat tautan ke berita tentang aturan baru tentang penggunaan bahan bakar yang dikeluarkan pemerintahan Trump.

8257D96E-A30B-4EBB-9EBE-47A12EBD4775_cx1_cy2_cw95_w408_r1_s (1)Kawasan Central Park di kota New York dialihfungsikan sebagai Rumah Sakit khusus pasien corona (31/3).

Serangan terhadap Trump juga muncul sata debat antara dua bakal calon presiden yang tersisa dari Partai Demokrat — mantan Wakil Presiden Joe Biden dan Senator Vermont Bernie Sanders — pada Minggu (15/3) malam berlangsung sengit. Mereka berdebat mengenai berbagai isu.

Keduanya sama-sama berusaha kuat menjadi nominasi partai untuk berhadapan dengan Presiden Donald Trump dari Partai Republik dalam pilpres November mendatang.

Kedua kandidat itu menyerang Trump berulang kali. Biden menyebutnya “ancaman terhadap negara.” Sementara Sanders menyatakan bahwa Trump adalah seorang “pembohong patologis” yang memimpin “pemerintahan korup.”

Keduanya menyerang cara Trump dalam menangani pandemi virus corona di AS. Sanders menuduhnya “meremehkan ilmuwan.” Dan Biden menyalahkan pemerintah karena pada tahap awal krisis menolak untuk mengimpor perangkat tes dari negara lain ketika AS berkesempatan melakukannya.

“Kita seperti diserang,” kata Biden. “Dalam perang, kita harus melakukan apa saja yang diperlukan untuk merawat warga AS. Semua yang diperlukan untuk menangani krisis ini seharusnya gratis. Dibayar oleh para pembayar pajak AS.”

Sementara itu, Presiden Donald Trump mengemukakan masyarakat Amerika harus “bersiap-siap hadapi hari-hari sulit yang terbentang di depan,” dalam perjuangan melawan wabah virus corona.

Ini terjadi saat jumlah korban virus corona di AS meningkat melewati 3.600 orang, Selasa (31/3), melampaui angka resmi yang dilaporkan China.

Trump mengakui jika penyebaran virus corona (Covid-19) lebih parah dari flu biasa. Pernyataan ini berbanding terbalik dengan ucapan sebelumnya yang mengatakan jika Covid-19 tak ubahnya dengan flu biasa.

Trump sebelumnya sempat mengatakan jika virus corona dibiarkan karena penyebarannya tak ubahnya flu musiman.

“Jalani saja, tidak perlu melakukan apa-apa, cukup dihadapi dan anggap itu sebagai flu musiman. Tetapi ini (Covid-19) tidak seperti flu, justru lebih berbahaya,” ujar Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, Selasa (31/3) seperti mengutip AFP.

Pernyataan Trump kali ini kontras dengan argumen pribadinya yang mengatakan penyebaran pandemi virus corona sebanding dengan penyebaran flu musiman.

Argumen Trump terkait Covid-19 yang dianggap sama dengan flu biasa bukan pertama kali diungkapkan.

Bahkan pada 9 Maret saat kasus virus corona mencapai 546 dan 22 kematian, ia tetap mengatakan semua lini kehidupan tetap berjalan normal dan tidak ada yang perlu ditutup.

“Tidak ada yang akan ditutup, semua kehidupan dan perekonomian akan tetap berjalan. Saat ini ada 546 kasus yang dikonfirmasi dengan 22 kematian dari virus corona,” tulis Trump dalam cuitannya pada 9 Maret lalu.

Trump Kini Akui Covid-19 dengan Flu BiasaFoto: CNN Indonesia/Fajrian
Pandangannya tentang virus corona mulai berubah sejak AS menjadi negara dengan jumlah kasus tertinggi di dunia, melampaui China dan Italia.

Data yang dirilis Worldometers mencatat sejak pertama kali dilaporkan pada 20 Januari lalu, saat ini AS memiliki 188.578 kasus dengan 4.055 kematian dan 7.251 pasien dinyatakan sembuh.

Lihat juga: Gelar Kebaktian Saat Larangan Corona, Pastor di AS Ditangkap
Trump kemudian mengubah argumennya dengan meminta warga AS untuk menjaga jarak sehingga diproyeksikan bisa menekan angka kematian sebanyak 2,2 juta jiwa.

“Jika kita tidak melakukan apa-apa, jika kita tetap hidup seperti seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Anda akan melihat orang-orang sekarat di pesawat terbang dan di lobi hotel. Anda akan melihat kematian di seluruh dunia,” kata Trump.

(AFP/VOA/CNN).