Angkasa Pura 2

Tanpa Mudik Lebaran, Pakar Prediksi Positif Corona di Indonesia Hanya 6 Ribu

KoridorKamis, 2 April 2020
images (1)

YOGYAKARTA (BeritaTrans.com) –
Guru Besar Statistika Universitas Gadjah Mada, Dedi Rosadi memprediksi, penyebaran virus corona di Indonesia akan mencapai puncaknya pada 7-15 April, dan selesai pada akhir Mei 2020.

Tidak hanya itu, Dedi juga memaparkan, berdasar perhitungan data yang diamati selama ini, jumlah kasus di Indonesia juga tidak sebesar yang telah dipublikasikan.

Sejauh ini, prediksi yang dikeluarkan Dedi adalah yang paling kecil di antara perhitungan lain yang sudah dipublikasikan. Dedi menyebut angka proyeksi optimistis hanya sekitar 6.200 kasus dan pesimistis 18.000 kasus.

“Perkiraan optimistis kami itu enam ribu, sekitar itu. Kemudian yang prediksi moderat dengan mempertimbangkan faktor tertentu, sekitar 12 ribu, dan yang pesimistis sekitar 18 ribu. Tetapi kami lebih senang mempublikasikan yang enam ribu ini, karena dari proyeksi kami sampai saat ini cukup baik menggambarkan kenyataan,” kata Dedi.

Namun, angka itu memiliki syarat yang pelaksanaannya cukup berat di lapangan, yaitu kepatuhan masyarakat untuk tidak mudik sejak saat ini hingga Idul Fitri.

E3CF5D61-2C00-452D-A048-19D3170BD100_w408_r0_s
Guru Besar Statistika UGM, Dedi Rosasi. (Foto: Humas UGM).

”Asumsi kita, anjuran itu dilaksanakan dengan taat. Asumsi kami begitu, dalam membuat model. Jadi, angka itu sangat optimis, tetapi dengan tambahan. Anjuran pertama, masyarakat tidak pulang, Lebaran juga tidak pulang dan sebagian besar taat,” kata Dedi.

Dedi mengatakan, permodelan ini perlu disampaikan sebagai pembanding hasil prediksi model matematika dinamik terhadap data penderita positif virus corona yang cenderung bombastis dan berlebihan. Dalam hitungan Dedi dan tim, penambahan pasien sekitar 740 sampai 800 per empat hari hingga pertengahan April, dan diperkirakan akan terus menurun.

Prediksi ini, lanjut Dedi juga mempertimbangkan asumsi bahwa telah ada intervensi ketat dari pemerintah sejak minggu ketiga Maret 2020. Sementara efek pemudik dari kota besar yang terdampak sejak minggu ketiga Maret 2020 diasumsikan tidak signifikan. Model ini juga masih membatasi bahwa efek-efek eksternal lainnya, seperti suhu udara, jumlah populasi, dan kepadatan penduduk diasumsikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah penderita.

Sebelum ini, peneliti biostatistik di Eijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU) Iqbal Elyazar mempublikasikan perkiraan ada 71.000 orang terkena virus corona di Indonesia pada akhir April 2020. Sedangkan tim dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) memperkirakan jika tanpa intervensi dan langkah progresif pemerintah, pasien virus corona di Indonesia yang membutuh layanan rumah sakit bisa mencapai 2,5 juta orang pada pertengahan Mei 2020.

Jika ada intervensi seperti saat ini, angkanya akan turun hingga 1,8 juta orang. Dengan intervensi moderat melalui tes massal dan pembatasan sosial, kemungkinan ada 1,2 juta pasien. Sedangkan jika dilakukan intervensi tertinggi, seperti karantina wilayah dan tes massal, diprediksi 600.000 orang butuh perawatan.

Sementara itu, Koordinator tim respons COVID-19 UGM, Riris Andono Ahmad memaparkan beberapa skenario penyebaran virus corona beserta beragam skenario intervensi. Dalam diskusi daring, Riris mengatakan tanpa intevensi, durasi wabah di suatu wilayah pandemi diperkirakan mencapai 32 hari, dengan puncaknya terjadi pada hari ke-14.

D282A621-3BAD-41FA-A78E-7D34E01C0993_w408_r0_s
Petugas di BBTKLPP Yogyakarta sedang memeriksa sampel pasien terkait virus corona. (Foto: Irene/ BBTKLPP)

Dikatakan Riris, jika moderate social distancing diterapkan sejak awal wabah, pengaruh terhadap penyebaran bisa cukup signifikan. Dengan asumsi kapasitas deteksi lima persen, skenario yang ditampilkan Riris menunjukkan reduksi kasus bisa mencapai 70 persen. Sayangnya, kebijakan ini terlambat diterapkan.

“Kami mencoba memodelkan, intervensi yang paling memungkinkan adalah social distancing. Di Indonesia sendiri, sejak kemunculan kasus pertama hingga penerapan kebijakan social distancing, ada delay sekitar dua minggu,” kata Riris.

Keterlambatan penerapan social distancing ini memperpanjang durasi wabah menjadi 50 hari. Ditambahkan Riris, ada dua jenis social distancing, yaitu moderat dan maksimum. Moderat dilakukan antara lain dengan penutupan fasilitas umum dan melakukan aktivitas di rumah. Sedangkan maksimum dikenal pula sebagai karantina wilayah, dimana ijin mobilitas hanya diberikan untuk keperluan logistik.

Riris merekomendasikan penerapan kebijakan maximum social distancing atau karantina wilayah di zona merah. Selain itu, pemerintah juga perlu meningkatkan kapasitas pegujian dan diagnosis minimal 10 kali lebih besar dari saat ini, serta meningkatkan kapasitas layanan kesehatan.

Dengan penerapan karantina wilayah dan kapasitas deteksi sebesar 50 persen, kasus dapat dikurangi hingga 77 persen dengan durasi wabah selama 22 hari. Peningkatan kapasitas bisa dilakukan dengan pembangunan fasilitas isolasi atau karantina non rumah sakit. Diperlukan juga peningkatan kapasitas rumah sakit mengantisipasi lonjakan pasien dan memastikan alat pelindung diri (APD) tenaga medis tersedia cukup.

Pemda Larang Mudik

Pemerintah daerah (pemda) memiliki kebijakan berbeda terkait mengantisipasi membanjirnya warga yang mudik di saat wabah virus corona melanda. Ada daerah yang memilih lockdown/penutupan lokal hingga mengajukan persyaratan tertentu bagi warga yang mudik ke kampung halaman.

Pengelola Terminal Tirtonadi Solo sejak akhir pekan lalu telah menyiapkan langkah antisipasi penyebaran virus corona. Mulai dari memeriksa suhu tubuh para penumpang bus dengan termometer, penyemprotan disinfektan, hingga pembagian masker.

Walikota Solo, Hadi Rudyatmo, Sabtu (28/3), mengatakan Pemkot Solo tidak bisa melarang warga untuk mudik keluar masuk Solo. Menurut Rudy, pemeriksaan ketat di terminal, stasiun, fasilitas di dalam transportasi publik, dan kesadaran diri penumpang menjadi kunci mencegah penyebaran virus corona.

“Saya sudah menyampaikan ke camat, lurah, hingga RT/RW begitu ada pendatang dari luar kota atau daerah, mohon dikarantina 14 hari. Kita jadikan ODP (orang dalam pemantauan) saja. Warga yang mudik harus mengkarantina diri. Petugas kesehatan terdekat, puskesmas, akan memantau kondisi warga yang mudik ini. Kita tidak punya data berapa jumlah warga Solo yang merantau. Kalau kita melarang warga mudik, ya nggak bisa. Itu hak mereka untuk pulang, cuma kita perlu memperketat Terminal Tirtonadi atau stasiun kereta api di Solo menyediakan hand sanitizer, penyemprotan disinfektan, masker, cek kesehatan para pemudik ini supaya benar-benar dalam kondisi sehat.”

D8CC4367-E836-4E20-B4C9-D9E87A26F5BA_w408_r1_s
Aktivitas para petugas di Terminal Tirtonadi, Solo (foto: VOA/Yudha).

Tegal Berlakukan Lockdown

Sementara itu, Kota Tegal sejak pertengahan pekan lalu justru melakukan local lockdown atau penutupan sementara lokal wilayahnya dari akses aktivitas keluar masuk warga. Pemkot Tegal meminta kepada warganya yang tengah merantau untuk tidak mudik ke kampung halaman selama lebaran tahun ini.

Bis-bis tujuan Tegal kini tak bisa lagi masuk ke pusat kota setelah kebijakan local lockdown diberlakukan. Para sopir bus antar kota antar propinsi atau dalam propinsi mencari jalur alternatif. Penumpang bus diturunkan di pinggir jalan dan berjalan mencari jalur pintas menuju dalam kota.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam video di media sosial, akhir pekan ini, mengingatkan warganya yang merantau di daerah zona merah virus corona tidak mudik ke kampung halaman. Menurut Ganjar, langkah ini untuk memutus rantai penyebaran virus corona meluas ke berbagai daerah.

“Bagi warga Jawa Tengah di perantauan, urungkan niat untuk mudik atau pulang kampung. Jika nekat pulang, akan berpotensi menyebar virus corona selama perjalanan hingga di desa kampung halaman. Sayangi orang tua, keluarga, teman-teman, semua kerabat di kampung halaman. Kasus virus corona di Solo menjadi pelajaran buat kita semua, dia tertular usai pulang dari Bogor. Menulari istri, anak, hingga teman seperjalanannya. Dia sendiri akhirnya meninggal.” tutur Ganjar.

888E4AA5-F88B-41B2-91A3-5FFD363BAD01_w408_r0_s
Para petugas melakukan penyemprotan disinfektan di dalam sebuah bus (VOA/Yudha).

Ganjar menambahkan, “Di Purbalingga ada 4 warga positif Corona yang baru pulang dari Jakarta. Jumlah PDP dan ODP di Jawa Tengah mengalami lonjakan signifikan. Dugaan kami, salah satunya karena lonjakan warga perantauan yang mudik ke wilayah Jawa tengah. Mohon maaf, kami harus bertindak keras melarang warga untuk mudik.”

Diperkirakan 46 Ribu Pemudik Kembali ke Kampung Halaman

Pemprop Jateng juga melihat ada indikasi mobilisasi massa warga Jawa tengah dari luar daerah yang sudah mudik duluan di berbagai daerah di Jawa Tengah. Data pemrpop menyebutkan ada 46 ribu pemudik dari berbagai propinsi pulang ke Jawa Tengah antara lain di Purwokerto, Wonogiri, Cepu, Pemalang, Semarang, Tegal, Purbalingga, Jepara, Boyolali, Karanganyar, Kebumen, Wonosobo, Kudus, Pati, Magelang, dan Cilacap sejak pertengahan Maret lalu hingga pekan ini.

EEC996C0-19C2-49D2-9AF2-14FA959D08AE_w408_r1_s
Petugas membagi-bagikan masker bagi pemudik untuk mencegah penyebaran virus corona (VOA/Yudha).

Pemerintah daerah pun diminta aktif dan menetapkan mereka yang mudik itu dalam kategori Orang Dalam Pengawasan ODP dan harus menjalani karantina mandiri selama 14 hari. RT hingga RW pun dilibatkan untuk mendata mereka yang mudik dan sudah sampai di kampung halaman.

Tak hanya di Jawa Tengah, penutupan lokal sementara juga akan dilakukan pemkot Tasikmalaya di Jawa Barat mulai 31 Maret 2020.

(omy/VOA).