Angkasa Pura 2

KM Lambelu Tak Boleh Sandar, Sejumlah Penumpang Nekat Terjun ke Laut dan Berenang

DermagaSelasa, 7 April 2020
images (40)

KUPANG (BeritaTrans.com) – Sejumlah penumpang yang masih berada di KM Lambelu dan dilarang bersandar di Pelabuhan Lorens Say Maumere, Kabupaten Sikka, Pulau Flores karena tiga anak buah kapal (ABK) positif terpapar Covid-19 malah nekat melompat ke laut.

Berdasarkan video yang beredar di media sosial, sebelum melompat mereka terlebih dahulu melempar pelampung ke laut.

Dalam video berdurasi 17 detik itu, para penumpang lain terlihat hanya menjerit dan menangis histeris saat kejadian itu.

Berdasarkan informasi yang beredar ada 5 orang penumpang yang nekad terjun ke laut pada Selasa (8/4/2020) sore.

Mereka mencoba berenang dengan bantuan pelampung. Sepintas terlihat ada sebuah perahu nelayan melintas. Belum jelas, apakah perahu tersebut membantu menyelamatkan mereka.
petugas-naik-ke-atas-kapal-2
Pemerintah Kabupaten Sikka resmi melarang kapal milik pelayaran nasional Indonesia (Pelni) yang berlayar dari Nunukan Kalimantan Timur dan membawa 233 penumpang termasuk anak-anak itu karena tiga ABK positif Covid-19.

Pelarangan bersandar di pelabuhan itu disampaikan pemerintah setempat melalui surat kepada PT Pelni yang ditandatangani Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo.

Dalam surat tertanggal 7 April 2020 tersebut, Pemerintah Kabupaten Sikka, meminta KM Lambelu tak melalukan aktivitas sandar di pelabuhan untuk menurunkan penumpang demi menjaga kemungkinan menyebarnya Covid-19 kepada warga lain di daerah itu. Dasar pertimbangan yang diambil karena daerah itu masih sangat memiliki keterbatasan peralatan medis, sarana dan sumber daya dokter.

“Kebijakan ini sudah kami diskusikan juga dengan pemerintah provinsi dan karena itu kami laksanakan pelarangan tersebut,” kata Bupati Fransiskus dalam surat tersebut.

Sementara itu Anggota Komisi V DPRD Provinsi NTT yang membidangi kesehatan, Eman Kolfidus mendesak pemerintah daerah baik di kabupaten maupun provinsi untuk segera berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat melalui Gugus Tugas Penanganan Covid-19 agar bisa mendapatkan solusi yang lebih baik dan manusiawi.

Menurut dia, jika kondisi membiarkan kapal tersebut berada di lautan akan dimungkinkan menimbulkan sejumlah masalah baru. Bisa jadi akan ada lagi yang nekat melompat dan tenggelam.

“Mereka (penumpang) ini juga warga negara Indonesia. Warga Kabupaten Sikka, warga NTT. Mereka juga harus diselamatkan. Jangan biarkan mereka mati karena ambil keputusan di tengah kepanikan itu,” kata politisi PDIP itu kepada Okezone melalui telepon dari Maumere Kabupaten Sikka.

Menurut dia, semua warga harus diselamatkan. Karena itu dia meminta agar KM Lambelu diizinkan sedikit merapat dekat daratan dan dikawal ketat sambil menanti hasil koordinasi dengan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di Jakarta. “Ini sangat mendesak jadi saya kira pemda harus segera mengambil sikap (koordinasi) itu,” kata Eman Kolfidus.

Informasi yang diperoleh dari Maumere menyebutkan saat ini kapal tersebut bersandar sejauh 2 mil dari pelabuhan karena dilarang bersandar ke Pelabuhan Lorens Say Maumere.

Warga Menolak

Ratusan warga Jalan Kimang Buleng, Kelurahan Kota Uneng, Kota Maumere, menolak SD St. Yosef Maumere sebagai tempat karantina 233 penumpang KM Lambelu yang turun di Pelabuhan Lorens Say Maumere, Senin (6/4).

Warga berkumpul di depan SD St Yosef untuk menyatakan sikap penolakan mereka. Lurah Kota Uneng yang hadir di lokasi, kerepotan menenangkan warga.

(jamin/sumber: okezons.com dan tribunnews.com).