Angkasa Pura 2

Jadi Satu-satunya Penumpang Pesawat, Perempuan Ini Dapat Layanan First Class

KokpitRabu, 8 April 2020
5e88b9da4bb5a.image

Jakarta (BeritaTrans.com) – Di tengah pandemi virus corona, semua orang pasti memilih untuk isolasi mandiri dibanding jalan-jalan.

Untuk menekan penyebaran virus corona, tentu saja semua orang tidak dibolehkan keluar rumah jika tak ada keperluan mendesak.

Seperti yang dilakukan oleh wanita asal Amerika Serikat ini, ia terpaksa harus keluar untuk menengok ibunya.

Wanita yang diketahui bernama Sheryl Pardo ini melakukan penerbangan dari Washington DC menuju Boston dengan naik maskapai American Airlines.

Dilansir TribunTravel dari azfamily, Pardo melakukan perjalanan hanya satu hari saja pada 27 Maret 2020 lalu untuk meminimalisir risiko penularan virus.

“Begitu saya sampai di sana (bandara), saya menyadari bandara lebih aman daripada toko kelontong,” lanjutnya.

Sebelumnya ia berpikir jika area bandara cukup berbahaya akan penyebaran virus corona.

“Sebagain besar area bandara ditutup, kecuali toko Dunkin Donuts. Hanya ada beberapa orang yang duduk di ruang keberangkatan pada pukul 6 pagi,” katanya.

Menariknya lagi, selama penerbangan, Pardo menjadi satu-satunya penumpang di pesawat karena pandemi virus corona.

Karena menjadi satu-satunya penumpang pesawat, Pardo pun mendapatkan layanan first class dari maskapai.

Para pramugari memberikan ucapan untuk Pardo melalui pengeras suara “Kami memiliki Sheryl sebagai penumpang hari ini. Selamat menikmati layanan first class, mama!”.

Bahkan ia juga dilayani oleh dua pramugari bernama Jessica dan Dion.

Pramugari American Airlines itu menyapanya melalui pengeras suara.

Setelah itu, Kapten pesawat memberitahu jika mereka berada di ketinggian 10.000 kaki.

Di tengah penerbangan, Pardo dan kedua pramugari yang melayaninya itu sempat selfie untuk mengabadikan momen.

Mereka tetap melakukan social distancing dan berdiri terpisah saat selfie bersama.

“Para pramugari begitu hebat dan itu menyenangkan,” ujar Pardo.

“Saya berniat ingin menengok ibuku untuk yang terakhir kalinya. Tapi diluar dugaan saya malah mendapatkan hal yang luar biasa,” sambungnya.

Dia tersentuh oleh sikap pramugari yang lembut dan saat bertanya tentang ibunya tanpa membuatnya sedih.

Pardo menceritakan pada Jessica jika ibunya bekerja sebagai perawat sekolah.

Lalu tak berapa lama ibunya kembali ke sekolah untuk mendapatkan gelar master dalam ekologi manusia.

“Dia menghabiskan bertahun-tahun membantu keluarga pengungsi di AS dan dia menjadi sukarelawan di Haiti setelah gempa bumi 2010,” tutur Pardo.

Pardo menghabiskan satu hari terakhir bersama ibunya yang berusia sekira 83 tahun dan menderita penyakit demensia.

Akan tetapi takdir berkata lain, pada 28 Maret 2020 ibu Pardo harus berpulang dan meninggalkan keluarganya.

“Saya pikir di momen seperti ini, rasa sakit kehilangan seorang ibu akan jauh lebih buruk saat masih di tengah kondisi yang menakutkan ini” ujar Pardo. (lia/sumber:tribunnews)