Angkasa Pura 2

Alasan Penumpang Terjun dari Kapal Lambelu: Resah 20 Jam Terombang-ambing di Laut

DermagaJumat, 10 April 2020
images

SIKKA (BeritaTrans.com) – Ratusan penumpang KM Lambelu kini dikarantina di Sikka, Nusa Tenggara Timur, provinsi yang baru saja melaporkan kasus Covid-19 pertamanya.

Sebanyak 133 penumpang kapal motor (KM) Lambelu menjalani karantina di Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sementara, tiga kru kapal yang sebelumnya sempat diduga positif virus corona, kini sedang menjalani tes swab di Makassar, Sulawesi Selatan.

Kapal dengan jumlah penumpang 238 orang ini sempat ditolak untuk bersandar di Pelabuhan Lorens Say, Maumere, NTT, karena ada kru kapal diduga terinfeksi Covid-19.

_111723190_image-1
Penumpang kapal, seperti Nikmat ini, mengatakan kecewa karena bupati Sikka tadinya minta kapal tak boleh bersandar. Hak atas foto: YUNUS ATABARA UNTUK BBC INDONESIA

Enam orang penumpang KM Lambelu nekat terjun ke laut di perairan Maumere setelah kapal penumpang milik PT Pelni ini dilarang bersandar di pelabuhan oleh Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, sejak Senin (06/04) malam.

Larangan bersandar dilakukan setelah tim medis RSUD TC Hillers Maumere, melakukan pemeriksaan terhadap seluruh penumpang.

Hasilnya, tiga orang dalam kapal itu dinyatakan positif Covid-19.

Bupati meminta agar seluruh penumpang dan kru kapal dikarantina sementara di atas kapal. Para penumpang yang kesal, memprotes keputusan bupati dengan cara nekat terjun ke laut.

Salah satu penumpang, Nikmat Kurnia Hasan, yang berasal dari Alok, Sikka, menuturkan pengalamannya terombang-ambing di laut selama hampir 24 jam.

“Kita ini terombang-ambing di laut selama 20 jam lebih di perairan, jadi kita ini resah. Kan harusnya kapal sandar [Senin] malam kenapa bisa baru hari Selasa turun, jadi penumpang yang ada di kapal mulai gelisah,” papar Nikmat, ketika ditemui di pusat karantina, Rabu (09/04).

Penumpang kian kecewa ketika Bupati Fransiskus Roberto Diogo mengharuskan kapal kembali ke Makassar, padahal Gubernur Sulawesi Selatan telah mengatakan bahwa warga asli harus kembali ke tempat asalnya.

“Karena Makassar sekarang dalam keadaan zona merah,” kata dia,

Ia menampik kabar bahwa penumpang yang terjun ke laut adalah mereka yang terindikasi positif corona, akan tetapi itu merupakan wujud kekecawaan para penumpang.

“Kita punya alasan tersendiri, mereka punya alasan tersendiri kenapa harus sampai lompat,” tuturnya.

“Ini jalan satu-satunya supaya kami dapat keputusan bahwa kami bisa bersandar,” imbuhnya kemudian.

Akhirnya, pada Selasa (07/04) malam, KM Lambelu diperbolehkan bersandar di pelabuhan, sebanyak 238 penumpang diperbolehkan turun dari kapal dan langsung menjalani karantina.

Merujuk data Dinas Kesehatan, terdapat 93 laki-laki dan 40 perempuan penumpang KM Lambelu yang dikarantina di Sikka.

Sementara 15 penumpang asal Kabupaten Flores Timur dan 22 penumpang asal Kabupaten Ende, dijemput pemerintah daerah setempat untuk kemudian dilakukan karantina lanjutan di daerah masing-masing.

Fasilitas karantina tak memadai

_111722659_antarafoto-bantuan-tim-medis-dari-rspad-gatot-subroto-130320-kh-4
Bupati Sikka, Roberto Diogo, meminta agar seluruh penumpang dan kru kapal dikarantina sementara di atas kapal. Namun kebijakan ini diprotes para penumpang. Foto: Antara.

Salah satu penumpang KM Lambelu yang di karantina di Gedung Sikka Convention Center, Rahmat Hariyanto, mengeluhkan fasilitas di pusat karantina yang tak memadai.

“Tempat karantina dengan satu ruang tiga orang, itu bagus, hanya kadang masih berdempet-dempet sedikit,” ujar Rahmat, seraya menambahkan kondisi ini menyulitkan mereka melakukan jaga jarak satu sama lain.

Ketersediaan air juga menjadi kendala di pusat karantina itu, kata Rahmat.

“Masalah air untuk kamar mandi, kadang mereka harus angkat air tengah malam, ada yang perut sakit tetap harus angkat air,” papar Rahmat seperti dilaporkan oleh wartawan di Sikka, Yunus Atabara.

Hingga kini, baru 17 penumpang kapal yang menjalani pemeriksaan tes cepat massal (rapid test) karena minimnya alat tes di wilayah itu.

Gabriel Gleko, warga Bola, Sikka, yang berlayar menggunakan KM Lambelu dari Bau Bau, Sulawesi Tenggara, berharap Dinas Kesehatan segera menangani mereka.

“Setelah kita masuk di sini, sampai sekarang, orang kesehatan tidak pernah mengambil sikap, cuma pagi datang, senam. Sorenya datang, senam. Apakah itu sudah merupakan obat yang mujarab untuk kesehatan orang yang sementara ini dikarantina?,” ujarnya dengan nada tinggi.

Sementara, Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo berharap warganya “tetap tenang” karena pemerintah merespons insiden KM Lambelu “sesuai protokol” yang telah ditetapkan.

“Setelah dikarantina, tentu kita akan memeriksa, merawat, mengobati. Jadi selama 14 hari di sini itu lebih aman, keluarga harap sabar, untuk sementara waktu belum bisa mengunjungi anggota keluarga yang merupakan penumpang KM Lambelu,” ujar Roberto.

Dia mengatakan pihaknya akan memprioritaskan penumpang KM Lambelu yang dikarantina untuk diperiksa menggunakan 1.000 alat rapid test yang baru saja dikirim oleh pemerintah pusat.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 NTT, Marius Ardu Jelamu, menjelaskan bahwa dari seluruh 95 kru kapal, sudah diambil sampel terhadap 25 orang.

“Dari rapid test, dua ABK dan satu penjaga kantin di dalam kapal itu, positif virus corona, tapi harus dibuktikan lagi dengan swab test, dengan metode PCR yang lebih akurat,” jelas Marius kepada BBC News Indonesia.

Dua ABK tersebut, kata Marius, sudah dipulangkan ke Makassar untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sementara, 17 penumpang yang sudah dilakukan tes dengan metode rapid test, dinyatakan negatif Covid-19.

“Kita akan mengontrol mereka selama 14 hari ini, sesuai dengan masa inkubasi dari virus ini dan untuk sementara kita isolasi penumpang itu. Kita mau lihat perkembangannya dalam 14 hari ini sambil dipantau terus kesehatannya tiap hari,” cetus Marius.

Sumber: bbc.com