Angkasa Pura 2

Begini Kisah Dokter Pengajar di UI yang Wafat Setelah Terinfeksi Corona Diduga dari Pasien

Another NewsJumat, 10 April 2020
12138190-3x2-large

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Dokter Bambang Sutrisna sebenarnya sudah curiga, pasien yang menolak dirawat dan terus batuk-batuk saat datang ke tempat praktiknya itu terjangkit virus corona.

“Saat masuk ke ruangan praktik Papa, pasien itu memang pakai masker, tapi setelah di dalam ruangan praktik, maskernya dibuka,” tutur putri Bambang, dr Leonita Triwachyuni.

Selain batuk, hasil rontgen pasien tersebut juga mengarah ke COVID-19. Leonita menduga, pasien inilah yang kemudian menulari ayahnya, karena tak lama berselang ayahnya jatuh sakit.

“Salah satu penyesalan saya adalah enggak menemani Papa, sebelum Papa masuk ruang isolasi.”

“Saat itu saya juga memang menghindari pertemuan dengan Papa dan Mama karena saya sebagai dokter kerja di rumah sakit dan saya takut sekali membawa pulang penyakit dan menulari Papa Mama,” kata Leonita kepada Hellena Souisa dari ABC News.

12138176-16x9-large
Dokter Leonita Triwachyuni dan Ayahnya, dr Bambang Sutrisna semasa hidup. Leonita meminta masyarakat untuk mematuhi dan serius menjalankan ‘social distancing’. (Supplied: Leonita Triwachyuni).

Dokter Bambang Sutrisna, ahli penyakit menular yang juga pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia akhirnya tutup usia pada tanggal 23 Maret 2020.

Saat meninggal dunia, dr Bambang Sutrisna berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP), karena hasil swab tesnya saat itu belum keluar.

“Seminggu setelah pemakaman Papa, baru hasilnya keluar dan diketahui Papa positif corona,” ujar Leonita.

Meskipun dalam status PDP, dr Bambang Sutrisna dimakamkan menurut protokol pemakaman pasien COVID-19.

Leonita menuturkan, saat ayahnya meninggal, ia didatangi dokter ahli forensik yang menjelaskan prosedur dan protokol pemakaman ayahnya.

Ia juga diminta untuk menandatangani surat pernyataan kesediaan pemakaman mengikuti protokol, kemudian pihak rumah sakit meminta baju untuk ayahnya.

“Jadi setelah dipakaikan baju, jenazah Papa disemprot dengan disinfektan, kemudian dimasukkan ke dalam kantong jenazah yang kedap air, ditutup, disegel, lalu dimasukkan ke peti. Petinya kemudian ditutup rapat, disemprot lagi dengan disinfektan, dan terakhir petinya dibungkus dengan plastik,” kata Leonita.

12138432-1x1-medium
Leonita dalam unggahan di akun media sosialnya menggambarkan pengalamannya sebagai keluarga dari pasien COVID-19 yang meninggal dunia. (Supplied: Instagram Leonita Triwachyuni).

Selama proses itu, Leonita tidak boleh berada di ruangan.

Saat peti sang ayah sudah siap dibawa ke pemakaman pun, hanya petugas dinas pemakaman dan staf taman pemakaman dengan pakaian hazmat yang boleh membawa peti tersebut.

“Kami boleh hadir di pemakaman. Tapi kami tidak boleh mendekat atau menyentuh. Dan karena saat pemakaman Papa itu sedang gencar-gencarnya social distancing, pemakamannya hanya dihadiri oleh keluarga kami dan salah satu adik Papa. Tidak ada kebaktian pemakaman. Kami berdoa saja masing-masing,” ujarnya.

Sumber: abc.net.au/foto: Supplied: Leonita Triwachyuni.