Angkasa Pura 2

Viral 3 ABK Indonesia Dilarung ke Laut oleh Kapal China, Ini yang Terjadi pada Jenazah yang Dibuang ke Laut

Dermaga SDMSunday, 10 May 2020

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Tengah ramai berita mengenai pelarungan jenazah anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) dari kapal berbendara China viral dan diungkap oleh media Korea Selatan MBC News.

Dilaporkan, ada tiga jenazah ABK WNI yang dilarung ke laut. Mereka semua adalah ABK WNI dari kapal Long Xing 629, kapal milik China.

Ketiga ABK WNI yang meninggal dunia dan jenazahnya dilarung ke laut adalah Alfata (19), Sepri (24), dan yang terbaru adalah Ari (24).

Sementara satu lagi, inisial EP, meninggal pada 29 April 2020 setelah berhasil mencapai Busan, Korea Selatan pada 24 April 2020. Penyebab kematiannya karena pneumonia dan berencana dipulangkan ke Tanah Air.

Sementaa tiga WNI yang dilarungkan ke laut dilaporkan meninggal dunia saat sedang bekerja di atas kapal.

Keluarga Septi melaporkan mereka hanya menerima selembar surat berbahasa China yang mengabarkan bahwa Sepri sudah meninggal.

Sepri diketahui meninggal dunia terlebih dahulu yaitu tanggal 21 Desember 2019.
 
Sementara Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) masih melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut.

Pemakaman jenazah dengan cara dibuang ke laut cukup tidak biasa di Indonesia. Namun di negara lain, dianggap umum.

Menurut Wikipedia, pemakaman jenazah di laut dengan cara dilarung disebut burial at sea. Ini adalah tradisi yang dilakukan di kapal laut atau pesawat terbang. Sebelum dilarung, jenazah mendapatkan penghormatan dan dilakukan upacara yang layak sesuai dengan agama yang dianut.

Upacara biasanya dilakukan dengan cara penguburan di dalam peti mati, dijahit dengan kain lalu dilarung ke laut. Sebagian juga melarung abu kremasi jenazah dari sebuah kapal.

Perlu diketahui, sebagian besar alasan jenazah yang meninggal di atas kapal lalu dilarung ke laut karena kapten kapal khawatir. Sebab jika jenazah masih di atas kapal, maka bisa menimbulkan berbagai penyakit menular yang bisa menyerang kru lain.

Dalam surat yang diterima keluarga, jenazah Sepri dilarungkan ke laut untuk kepentingan kesehatan. Saat itu disampaikan Sepri mengalami sesak napas dan bengkak-bengkak.

“Menurut pihak perusahaan, meski sudah diberi perawatan dan diinfus oleh tim media kapal ternyata nyawa Sepri tidak bisa diselamatkan,” kata Rita, kakak Sepri.

Keluarga telah berusaha menghubungi pihak perusahaan. Mereka ingin bertanya mengapa Sepri tidak dikembalikan Indonesia namun malah dilarungkan.

Namun pihak perusahaan tidak menjawab karena komunikasi saat itu susah. Pertanyaan Rita cukup masuk akal. Sebab, ketika jenazah dilarungkan ke laut, jenazah bisa terurai.

Dilansir dari Science Focus, lama waktu jenazah terurai tidak menentu. Tapi lingkungan dan suhu berpengaruh dalam proses pengurairan. Jika suhunya dingin, maka pertumbuhan bakteri pengurai akan bekerja lebih lambat dibandingkan pada suhu yang hangat.

Selain itu, ketika air suhu dingin, bakteri bisa membuat tubuh menggembung karena gas di dalam tubuh akan bekerja sangat lambat. Jika tubuh menggembung, maka berat akan bertambah. Inilah yang membuat tubuh akan terus-menerus tenggelam ke dasar laut.

Lalu kulit tubuh juga akan menyerap air laut dan membuat jaringan di bawahnya mengelupas. Waktunya sekitar beberapa minggu. Nantinya, hewan di laut seperti ikan, akan memakan daging dari tubuh tersebut.

Idealnya, di perairan tropis seperti di Indonesia, suhunya lebih hangat. Oleh karenanya, jenazah bisa mengapung setelah tiga sampai empat hari setelah dilarung ke laut.

Nantinya proses penguraian hingga tenggelam ke dasar laut mencapai waktu satu hingga dua minggu. Untuk tulang, butuh waktu berbulan-bulan atau mungkin bertahun-tahun untuk mengurainya. (Fhm/sumber intisarionline)