Angkasa Pura 2

Kuatkan Industri Otomotif, Pemerintah Bakal Gelontorkan Rp70 Triliun

Ekonomi & Bisnis OtomotifSabtu, 23 Mei 2020
jokowi-di-pabrik-esemka-biro-pers-640x446

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Dalam mendongkrak kelesuan industri otomotif yang dikarenakan dampak pandemi covid-19, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menjanjikan insentif. Yaitu berupa stimulus bagi pelaku industri otomotif sebesar Rp70 triliun.

Seperti diketahui bahwa di sektor otomotif merupakan sektor vital dalam menunjang perekonomian Tanah Air, dengan terkenannya dampak pandemi covid-19 mengakibatkan turunnya angka penjualan. Bahkan pada April 2020 penjualan mobil anjlok hingga 90 persen.

I Gusti Putu Suryawirawan selaku Staff Khusus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian melalui virtual meeting MarkPlus Industry Roundtable Automotive industry Perspective menegaskan. Kalau Kementerian Perekonomian mendorong berbagai kebijakan mengatasi wabah penyakit.

“Salah satu kebijakan yang akan kita lakukan adalah pemberian beberapa stimulus kepada industri otomotif. Ini untuk membantu pelaku industri otomotif bertahan di tengah pandemi. Kalau harus menunggu hingga adanya vaksin, lalu kita baru menjalankan perekonomian, mungkin kita bukan mati karena wabah, melainkan mati karena kelaparan,”ungkapnya beberapa waktu lalu.

Putu menambahkan kalau stimulus yang diberikan yaitu berupa fiskal dan non fiskal dan moneter. Bila di rinci stimulus fiskal tersebut berupa relaksasi PPh Pasal 21, 22, 25 selama enam bulan, insentif PPN dipercepat selama enam bulan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 23/2020 dan juga memberikan pengurangan bea masuk impor.

Sedangkan stimulus non-fiskal diberikan dengan skema penyederhanaan atau pengurangan larangan dan atau pembatasan (lartas) ekspor dan impor untuk bahan baku. Lalu percepatan proses ekspor-impor untuk trader bereputasi, serta penyederhanaan proses ekspor-impor melalui National Logistic Ecosystem (NLE).

Sementara yang ketiga adalah stimulus moneter yang akan diberikan berlandaskan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No 11/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional. Yaitu sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dan Relaksasi Program Jaminan pada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja (BPJamsostek).

Dikutip dari penjelasan Kemenperin, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020, terdapat tambahan penanganan wabah sebesar Rp 405,1 Triliun. Dari jumlah tersebut, Rp 150 triliun untuk membantu pemulihan sektor industri termasuk industri otomotif.

Dalam sisi lain Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mengakui industri otomotif tanah air saat ini sedang menderita karena imbas pandemi.

“Kami juga meminta ke Pemerintah bahwa pada saat sekarang ini industri otomotif suffering, kita menderita. Cuma kita mengharapkan bahwa setelah pandemi, industri otomotif harus tetap diperhatikan,” kata Ketua Umum GAIKINDO Yohannes Nangoi di waktu yang sama.

Nangoi menyebutkan terdapat beberapa stimulus yang diusulkan pihaknya dan sedang dibicarakan dengan pemerintah. Pertama, Ia meminta pemerintah memberikan relaksasi pajak kendaraan bermotor (PKB).

“Misalnya tadinya [PKB] sekitar 10 sampai 12,5 persen kalau memungkinkan bisa dikasih relaksasi sehingga turun sebesar 30 sampai 35 persen dari hal sebenarnya. Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) juga kita diskusikan, karena sampai saat ini masih banyak sekali problem di IT,” katanya.

Selain itu juga pemerinta agar memberi kemudahan dalam proses importasi. Karena dengan adanya pandemi, maka proses surat menyurat menjadi lebih lama. “Akibatnya di sini kita meminta untuk bisa diperpanjang [tenggat waktu proses dokumen]. Kemudian relaxation untuk demurrage untuk sampai satu bulan. Delete yang namanya lartas (larangan dan pembatasan),” katanya.

Bukan hanya itu, GAIKINDO juga meminta pemerintah untuk menghapus biaya penggunaan minimum untuk PLN dan gas, memudahkan proses perpanjangan izin, serta mengoptimalkan kapasitas produksi yang ada dan meminta dasar untuk memindahkan pesanan. Kebijakan ini ni nilai akan sangat membatu para pelaku di industri otomotif akan bisa terus bertahan dan pulih. (dan/jawapos)