Angkasa Pura 2

ABK WNI Wafat karena Virus Corona, Orang Tua Gugat Kapal Pesiar

DermagaSenin, 25 Mei 2020
IMG_20200525_135905_resize_99

BeritaTrans.com – Pujiyoko, seorang pria muda asal Jawa Tengah yang masih berusia 27 tahun meninggal ketika bekerja di salah satu kapal pesiar terbesar di dunia, karena virus corona (COVID-19).

12271332-3x2-large

Dikenal sebagai seorang yang suka bepergian, berpetualang, dan mencintai kehidupan, Pujiyoko yang tumbuh dalam keluarga miskin mengadu nasib di kapal pesiar “Symphony of the Seas”.

Dengan bekerja di kapal, ia tidak hanya ingin menafkahi keluarganya, tapi juga mewujudkan mimpinya untuk berkeliling dunia.

12270842-3x2-large

“Dia senang sekali bekerja di kapal itu. Dia mendengar tentang pekerjaan itu dari temannya, lalu meminta izin saya, akhirnya saya izinkan,” kata ayahnya, Isanto.

“Ini keinginannya sendiri. Ia memang adalah pencari nafkah bagi keluarga kami.”

Pujiyoko bekerja di bagian tata graha atau “housekeeping” di salah satu kapal pesiar terbesar di dunia tersebut yang dimiliki oleh perusahaan bernama “Royal Caribbean”, sebelum meninggal bulan April lalu.

“Bekerja untuk membahagiakan keluarga”

Pada 23 Maret lalu, seminggu setelah para penumpang kapal tempat Pujiyanto bekerja berlabuh di Miami, Amerika Serikat, ia merasakan gejala seperti tertular virus corona.

Berdasarkan gugatan yang diajukan ke pengadilan Miami, disebutkan gejala yang dialaminya semakin memburuk setiap melakukan konsultasi mingguan di fasilitas kesehatan kapal tersebut.

Seiring waktu, gejala demam dan sakit badan Pujiyoko berkembang menjadi pneumonia, atau gangguan pernafasan parah. Sejak tanggal 28 Maret, dia harus memakai tabung oksigen.

Hari selanjutnya, ia dinyatakan positif mengidap COVID-19, namun baru keesokan harinya dilarikan ke rumah sakit dan mendapat bantuan penggunaan ventilator atau alat bantu pernafasan.

Kurang dari dua minggu setelah dirawat, Pujiyoko dinyatakan meninggal dunia karena “cedera otak parah.”

Mendengar hal tersebut, orangtuanya di Indonesia kini menuntut “Royal Caribbean”, perusahaan dari kapal tersebut, karena tidak melakukan pengetesan COVID-19 pada Pujiyoko dan membawanya ke darat lebih cepat.

“Mereka tidak melakukan tindakan cepat. Mereka tidak memperhatikan dia. Seandainya dia dibawa ke rumah sakit lebih awal, dia pasti masih hidup sekarang.”

Ibu Pujiyoko Sukarni, menangis terisak melihat foto anaknya ketika masih bekerja di kapal pesiar.

“Rencana dia adalah untuk bekerja, untuk membahagiakan kami,” kata dia.

“Ia bilang kepada saya bahwa suatu hari akan membiayai saya naik haji karena kami sangatlah miskin.”

Ketika dihubungi ABC, perusahaan “Royal Caribbean” menolak untuk memberikan komentar tentang kasus yang sudah masuk ke pengadilan tersebut.(amt/vivanews.com/foto:abcnews.com)