Angkasa Pura 2

Donald Trump Bakal Kerahkan Militer AS untuk Setop Demo dan Kerusuhan

Another NewsMinggu, 31 Mei 2020
_111880605_hi061140434

WASHINGTON (BeritaTrans.com) – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akan mengerahkan militer untuk meredam demo berujung kerusuhan di beberapa wilayah.

Sejumlah wilayah di AS, khususnya Minneapolis, berubah mencekam akibat protes yang berujung kerusuhan dan penjarahan oleh oknum tak bertanggungjawab.

Unjuk rasa digelar usai terbunuhnya pria Afrika-Amerika, George Floyd, awal pekan lalu. Floyd kehilangan nyawa akibat disiksa anggota kepolisian.
kssbb4fem390qqqmzi4s
Protes kematian George Floyd, di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat. Foto: Reuters/ADAM BETTCHER
Trump meminta pemerintah daerah bertindak lebih keras agar kericuhan tidak semakin meluas. Trump memperingatkan, kalau pemerintah daerah tak mampu, penanganan kericuhan akan diambil pemerintah federal.

“Gubernur dan Wali Kota Liberal harus lebih keras atau Pemerintah Federal bertindak untuk melakukan apa yang semestinya dilakukan,” ujar Trump seperti dikutip Reuters.

“Tindakan termasuk menggunakan kekuatan tak terbatas dari militer kami dan melakukan banyak penangkapan,” sambung dia.
20200531_124354
20200531_124339
Dalam pernyataan terpisah, Trump juga meminta agar demonstrasi berujung kerusuhan harus dihentikan sesegera mungkin. Trump bahkan mengeluarkan ancaman kepada demonstran.

“Kalian akan disambut anjing paling ganas dan senjata paling tidak menyenangkan yang saya pernah lihat,” kata Trump.

Jam Malam

Pemerintah Amerika Serikat (AS) memperpanjang aturan jam malam untuk 25 kota di 16 negara bagian.

Aturan jam malam diberlakukan sebagai langkah antisipasi kerusuhan.

Kebijakan jam malam berlangsung di California, Beverly Hills, Los Angeles, Colorado, Denver, Florida, dan Miami.

Lalu, di Georgia, Atlanta, Illinois, Chicago, Kentucky, Louisville, Minnesota, Minneapolis, St. Paul, New York, dan Rochester,

Kemudian, di Ohio, Cincinnati, Cleveland, Columbus, Dayton, Toledo, Oregon, Eugene, Portland, Pennsylvania, dan Philadephia.

Selanjutnya, di Pittsburgh, South Carolina, Charleston, Columbia, Tennessee, Nashville, Utah, Salt Lake City, Washington, Seattle, Wisconsin, dan Milwaukee.

Wali Kota Los Angeles, Eric Garcetti mengatakan kebijakan jam malam mulanya diberlakukan di pusat kota. Namun pemerintah setempat akhirnya memperluas ke seluruh bagian kota.

Pemerintah Los Angeles mewajibkan masyarakat untuk berada di dalam rumah, setidaknya mulai pukul 20.00 hingga 05.30 waktu setempat. Kebijakan ini mulai berlaku pada hari ini, Minggu (31/5).

“Jam malam ini tersedia untuk melindungi keselamatan mereka dan keselamatan semua orang yang tinggal dan bekerja di kota kami,” ungkap Garcetti dalam sebuah pernyataan dikutip dari CNN.

Selain itu, pemerintah setempat juga akan mengerahkan seluruh petugas keamanan untuk memastikan perlindungan kepada masyarakat di tengah kerusuhan atas aksi protes. Bahkan, pasukan Garda Nasional California ikut turunkan.

Kendati memberlakukan kebijakan jam malam, Garcetti memastikan pemerintah tetap memberi hak kepada masyarakat untuk melakukan aksi solidaritas antirasisme.

“Saya akan selalu melindungi hak masyarakat Los Angeles untuk membuat suara mereka didengar dan kami dapat memimpin gerakan melawan rasisme tanpa takut akan kekerasan atau vandalisme,” ujarnya.

“Sebagian besar orang turun ke jalan melakukannya dengan damai, kuat, dan dengan hormat untuk alasan sakral yang mereka perjuangkan,” sambungnya.

Senada, Wali Kota Philadelphia Jim Kenney juga telah menandatangani perintah eksekutif untuk memperpanjang kebijakan jam malam.

Rencananya, kebijakan jam malam akan dilangsungkan di seluruh bagian kota mulai malam ini sampai Senin (1/6) pagi.

Jam malam diberlakukan mulai 20.00 sampai 06.00 waktu setempat.

“Orang dapat meninggalkan rumah mereka hanya untuk pergi bekerja di bisnis penting atau untuk mencari perhatian medis atau bantuan polisi,” kata Kenney.

Perwira Polsi Ditangkap
_112562145_3de6c1a6-e49c-42ab-a07c-dffc67962307
Sebelumnya diberitakan seorang mantan perwira polisi Minneapolis telah ditangkap dan didakwa melakukan pembunuhan setelah kematian seorang pria kulit hitam tidak bersenjata dalam tahanan.

Derek Chauvin, yang berkulit putih, terlihat dalam rekaman video sedang menginjak leher George Floyd, 46 tahun, dengan menggunakan lututnya, hari Senin lalu.

Dia dan tiga aparat polisi Minneapolis lainnya telah dipecat terkait kasus kematian Floyd, yang berkulit hitam.

Kematian Floyd telah memicu kemarahan di Amerika Serikat (AS), yang melahirkan aksi protes di berbagai kota dan belakangan diwarnai penjarahan dan pembakaran di Minnesota.

Apa yang dikatakan jaksa?
Jaksa di wilayah Hennepin, Mike Freeman mengatakan, Chauvin didakwa melakukan pembunuhan tingkat tiga dan dua.

Dia mengatakan telah “menyiapkan dakwaan” bagi tiga orang anggota polisi lainnya, namun tidak memberikan rinciannya.
_112562148_551260b9-0695-40ec-b4b5-e0ad42d46a54
George Floyd meninggal dunia setelah insiden lehernya ditindih dengan lutut oleh anggota polisi. Hak atas foto: TWITTER/RUTH RICHARDSON.

Freeman mengatakan “dakwaan kasus ini dilakukan dengan cepat, setelah bukti-buktinya diberikan kepada kami”.

“Sejauh ini, inilah yang tercepat yang pernah kami dakwakan kepada anggota polisi,” katanya.

Dalam laporan pengaduan, tindakan Chauvin itu dilatari “pikiran jahat, tanpa memperhatikan peri kemanusiaan”.

Bagaimana George Floyd meninggal?

Laporan lengkap hasil pemeriksaan kesehatan belum diumumkan, tetapi materi pengaduan menyatakan bahwa pemeriksaan postmortem tidak menemukan bukti adanya “traumatic asphyxia atau cekikan”.
_112562206_demofloyd
Di Washington DC, AS, ratusan orang menggelar unjuk rasa menuntut agar seorang petugas polisi berkulit putih ditahan terkait kematian George Floyd, Jumat (29/05). Hak atas fotoYASIN OZTURK/GETTY

Hasil pemeriksaan sementara mencatat bahwa riwayat kondisi jantung George Floyd dan kombinasi dari “minuman keras atau obat-obatan (intoxicant) di tubuhnya” dan tindakan petugas polisi “kemungkinan berkontribusi pada kematiannya”.

Laporan itu mengatakan bahwa Derek Chauvin, sang aparat polisi, menekan leher Floyd dengan menggunakan lututnya selama delapan menit dan 46 detik
_112562208_demofloyddua
Seorang pendemo membawa poster “Am I Next” dalam unjuk rasa di Washington DC, AS, memprotes keamtian George Floyd, Jumat (29/05). Hak atas fotoYASIN OZTURK/GETTY

Hampir dua menit sebelum dia mengangkat lututnya, petugas polisi lainnya memeriksa denyut nadi tangan kanan Floyd dan tidak dapat merasakan denyutnya.

Pria kulit hitam itu kemudian dilarikan ke rumah sakit Hennepin dengan ambulans dan dinyatakan meninggal sekitar satu jam kemudian.

Buku panduan kepolisian Minnesota menyatakan, di bawah kebijakan penggunaan kekerasan, petugas dilatih teknik untuk menekan leher dengan lutut tanpa harus menghambat aliran napas.

Teknik ini digolongkan sebagai pilihan kekerasan yang tidak mematikan.
(lia/sumber: kumparan dan bbc)