Angkasa Pura 2

Seret Orderan, Ojol Terpaksa Ngutang Buat Biaya Sekolah Anak

KoridorRabu, 3 Juni 2020
Screenshot_20200603-143343

BEKASI (BeritaTrans.com) - Selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan adanya larangan mengangkut penumpang, membuat pendapatan ojek online (ojol) menurun drastis, bahkan untuk kebutuhan tagihan, pegemudi gojek ini harus berhutang.

Hal itu dirasakan pengemudi Gojek bernama Ruslan Daud, selama ini jumlah orderan yang di terima perhari sangat sedikit, karena hanya dapat mengambil pesanan mengantar barang dan pemesanan makanan, bahkan dia juga kerap tidak mendapat orderan sama sekali dalam sehari.

“Biasanya normalnya ada narik orang(sebelum PSBB), itu bisa dapat Rp200-Rp250 ribu, sekarang(selama dilarang angkut penupang) paling dapat empat orderan dari pagi sampe malam dapat Rp40-Rp50 ribu,” katanya kepada BeritaTrans.com, Rabu (3/6/2020).

Bahkan untuk keperluan membayar uang sewa bulanan tempat tinggal dan biaya sekolah tiga orang anaknya, Ruslan selama ini telah berhutang Rp 5 juta kepada saudaranya.

“Kemaren kebetulan ada sodara yang baru jual tanah, saya minjam aja kebetulan ada, itulah buat nutupin kontrakan, sama yang penting-penting lainlah,” kata Ruslan.

“Sekolah memang diliburkan tapi uang SPP kan tetap, sewa bulanan gak libur, kalau eggak bisa disuruh pindah,” tambahnya.

Dia merasakan turunnya pendapatan sudah dari virus Covid-19 mula ramai di tanah air.

“Dulu sebelum PSBB, duluan anak sekolah libur, dari situ sudah dilarang narik penumpang, sudah susah,” katanya.

Untuk kebutuhan makanan pokok selama ini, warga Pengasinan, Kota Bekasi, Jawa Barat ini sangat terbantu dengan batuan donatur dan pemerintah yang memberi beras. Namun, untuk kebutuhan lauk pauk dan kebutuhan lainnya ia rasa kurang.

“Dulu (kondisi normal) nyampur ambil gosend, semenjak orang gak ada, anak skolah libur tu kan, go-send mau gak mau, go-food jauh dekat diambil, gak milih-milih,” cerita Ruslan yang saat ditemui BeritaTrans.com baru mendapat dua orderan. (fhm)