Angkasa Pura 2

Sopir Angkot di Bekasi: Sehari Cuma Dapat Rp30 Ribu, Kadang Malah Nggak Dapat Uang

KoridorRabu, 3 Juni 2020
Studio_20200603_135938_resize_10

BEKASI (BeritaTrans.com) – Pengemudi angkutan kota (Angkot) di Bekasi mengeluhkan selama pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) akibat merebaknya wabah virus Corona (Covid-19) pendapatan mereka turun hingga 70 persen.

Penurunan pendapatan itu terjadi lantaran banyak warga tidak berpergian dan menaiki angkot. Selain itu, dalam aturan PSBB pun jumlah penumpang angkutan umum dibatasi dari kapasitas angkot yang ada.

20200603_113827_resize_92

Hasbulloh (58) Pengemudi Angkutan Kota (Angkot) Bekasi

Hasbulloh (58), pengemudi angkot yang BeritaTrans.com dan Aksi.id temui menuturkan bahwa pendapatannya kini turun drastis selama PSBB berlangsung. Dalam sehari dirinya hanya bisa mengantongi Rp30 ribu dibandingkan dengan sebelum merebaknya wabah virus Corona (Covid-19) bisa membawa pulang Rp70 ribu.

“Kalau biasanya bisa Rp70 ribu sehari sekarang hanya Rp30 ribu itupun juga tidak tentu, kadang bisa tidak bawa pulang uang sama sekali semenjak PSBB,” tuturnya.

Dia mengaku, kian hari penumpang angkot makin menurun. Namun dengan kondisi saat ini, jumlah penumpang makin parah. Apalagi sekarang warga diminta bekerja di rumah dan anak sekolah diliburkan.

“Sebelum-sebelumnya memang sudah sepi. Ini ditambah sekarang dibatasi, semakin berkurang penghasilan. Makanya sekarang banyak angkot yang tidak beroperasi,” akunya.

Selama PSBB, penghasilan dari angkot sekarang ini pun terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.

“Jadi kalo dirata-rata penghasilan sehari di bawah 50-70 persen kalau dibandingkan dengan hari biasanya. Itu belum dipotong bensin dan lain sebagainya ya. Kalau yang mobilnya punya orang makin pusing soalnya kudu setor,” tambahnya.

Keluhan serupa disampaikan pengemudi lainnya, Muji (52). Pengemudi angkot jurusan Babelan, Bekasi, mengaku sudah pasrah dengan kondisi yang ada. Kendati berulang kali menarik angkot, dirinya tetap kesulitan mendapatkan penumpang.

“Misalnya kalau sehari biasanya enam rit, coba ditambah jadi delapan atau sembilan kali bolak-balik, tetap saja. Malah boros bensin, Soalnya penumpangnya sedikit dan banyak orang yang masih belum aktif bekerja sama anak sekolah masih diliburkan. Jadi ya saya pasrah saja,” ucapnya.

Sementara itu, jelang dan diberlakukannya new normal, dua pengemudi tersebut mengatakan jika jumlah penumpang angkot tetap dibatasi maka kondisi penghasilan tetap tidak ada kenaikan seperti biasanya.

“Kalau new normal sudah berlaku tapi penumpang angkot tetap dibatasi sama saja seperti PSBB, penumpang tidak banyak yang naik, penghasilan ya sama saja,” ujar kedua pengemudi angkot.

Mereka berharap new normal nantinya dapat mengembalikan pendapatan angkot seperti biasanya. Namun, jika selama new normal tetap ada pembatasan jumlah penumpang maka pendapatannya tetap dengan kondisi sekarang ini.

“Harap saya new normal nanti tidak ada pembatasan jumlah penumpang. Kalau masih dibatasi juga sama saja kaya sekarang penghasilan kita hanya cukup untuk makan sehari-hari saja,” tutup Hasbulloh. (dan)