Angkasa Pura 2

Biaya Terbang Jadi Mahal, Bos LionAir Tawar Rapid Test Rp 50 ribu

Bandara KokpitKamis, 11 Juni 2020
Screenshot_20200611-163750

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Persyaratan dokumen kesehatan untuk naik pesawat terbang di kala new normal dinilai sempat membingungkan. Selain prosesnya yang lama, ongkos tes kesehatan yang cukup mahal berdampak pada menyusutnya minat orang untuk terbang.

Presiden Direktur Lion Air Group, Edward Sirait mengaku persoalan itu sempat jadi masalah bagi bisnis penerbangan. Hal ini terkait simpang siur sebelumnya mengenai kewajiban Reverse Transcription – Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), rapid test, dan surat keterangan bebas Covid-19.

“Misalkan di daerah, tidak semua tersedia PCR, tetapi mereka membawa surat keterangan sehat dari Puskesmas atau dari rumah sakit. Tetapi ada bandara juga yang masih ngotot meminta rapid test,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (11/6/2020).

Kini simpang siur itu sudah diperjelas dengan terbitnya aturan terbaru dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan Kementerian Perhubungan. Menurut Edward, kini pemerintah sudah mengatur bahwa PCR bukan lagi jadi kewajiban.

Dalam aturan terbaru memang dijelaskan, jika tes kesehatan yang digunakan rapid test, maka masa berlaku adalah 3 hari, atau jika tes kesehatan yang digunakan PCR maka masa berlaku ialah 7 hari.

Apabila kedua metode tes di itu tidak tersedia di daerah asal, maka calon penumpang harus mendapatkan surat keterangan bebas gejala seperti influensa (influenza-like illness) dari dokter rumah sakit/ Puskesmas.

“Nah sekarang Perhubungan kan sudah mengatakan nggak perlu PCR, rapid test cukup, ini menurut saya sebenarnya yang harus dipikirkan untuk mempercepat normalnya itu bagaimana harga rapid test ini menjadi lebih murah,” urainya.

Sehingga ia mengusulkan agar ada penyesuaian harga rapid test menjadi semurah mungkin. Dia juga bakal membicarakan hal ini dengan para pihak terkait untuk penyediaan rapid test yang lebih terjangkau. Selama ini pemeriksaan rapid test dan PCR mandiri masing-masing Rp 300 ribu dan Rp 2,5 juta sekali tes.

“Agar para pelaku bisnis, para pekerja ini cepat berputar, cepat melakukan perjalanan, menggairahkan angkutan udara dan tentunya harapan kita akan menggairahkan ekonomi,” tuturnya.

“Kalau bisa misalkan Rp 50 ribu atau Rp 60 ribu saya pikir gairah orang untuk terbang akan lebih cepat. Karena beban mereka, dan kemudahannya juga dipikirkan untuk bisa rapid testnya mereka lakukan lebih murah,” katanya. (fhm/sumber:cnbc)