Angkasa Pura 2

Ilham Habibie Bicara Beda Masa Depan Drone dan Pesawat Indonesia

KokpitSenin, 29 Juni 2020
images - 2020-06-29T131310.327

Jakarta (BeritaTrans.com) – Ketua Dewan Pembina The Habibie Center, Ilham Habibie menyatakan industri pesawat terbang di Indonesia masih sangat baik. Dia mengatakan hal itu terjadi karena Indonesia merupakan negara kepulauan.
“Industri pesawat terbang di Indonesia masih tetap cerah karena kita adalah negara kepulauan,” ujar Ilham dalam diskusi virtual, Kamis kemarin.

Ilham menuturkan Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan kapal laut untuk mengantar orang atau barang dari satu pulau ke pulau lain. Dia mengatakan Indonesia membutuhkan pesawat yang dapat mempersingkat waktu.

“Kecepatan itu menjadi penting,” ujarnya.

Di sisi lain, Ilham enggan berkomentar tentang proyek pesawat R80 karya ayahnya yang juga Presiden ke-3 RI BJ Habibie yang keluar dari Proyek Strategis Nasional (PSN) karena diganti dengan proyek drone. Dia hanya mengatakan pesawat dan drone merupakan hal yang berbeda.

Lihat juga: Buka-bukaan Pengembang Pesawat R80 Habibie Usai Diganti Drone
Dia mengatakan pesawat terbang adalah sebuah transportasi untuk mengangkut manusia atau barang dalam jarak yang sangat jauh, misalnya dari Indonesia ke Amerika Serikat. Sedangkan drone, dia mengatakan tidak dapat melakukan hal itu.

“Menurut saya drone beda sekali. Memang dia bisa terbang, tapi pertama terbangnya tidak lama, kedua dia tidak bisa membawa orang banyak apalagi jauh, barang juga tidak bisa,” ujarnya.

Meski demikian, dia menilai drone adalah sesuatu yang penting dan harus dikuasai oleh Indonesia. Namun, dia mengatakan pesawat dan drone adalah dua hal yang berbeda.

Sebelumnya, pemerintah Joko Widodo tidak memasukkan proyek pengembangan pesawat R80 dan N245 dalam PSN warisan BJ Habibie dan menggantikan dengan drone.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan memasukkan tiga proyek pengembangan teknologi drone senilai Rp27,17 triliun dalam daftar PSN. Proyek itu menggantikan pengembangan pesawat R80 dan N245 peninggalan BJ Habibie yang sebelumnya masuk dalam PSN.

Pengunjung melihat Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) jenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) saat pengenalan perdana di hanggar PT Dirgantara Indonesia (Persero), Bandung, Jawa Barat, Senin (30/12/2019). Prototipe Puna Male pertama ini mampu terbang selama 24-30 jam dengan ketinggian jelajah 3.000 hingga 6.000 meter yang diperuntukan mengawasi wilayah NKRI dari ancaman daerah perbatasan, terorisme, penyelundupan, pembajakan serta pencurian sumber daya alam.

77948a6a-ebb6-4dbd-ae3c-750280dd51b5_169
Drone Elang Hitam gantikan Pesawat R80 BJ Habibie. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Ingatkan Nilai Strategis Pesawat R80 Habibie

PT Regio Aviasi Industri (RAI) pengembang pesawat R80 menganggap untuk mengembangkan industri penerbangan, pesawat terbang angkut (large transport airplane) masih menjadi penggerak utama industri, sementara drone hanya pelengkap industri.

Meski demikian, RAI tidak mempermasalahkan keputusan pemerintah untuk mengeluarkan proyek pengembangan pesawat terbang regional turboprop R80 dari PSN. Sebab, RAI meyakini pemerintah akan tetap mendukung pesawat R80 yang direncanakan oleh BJ Habibie.

Humas PT RAI Justin Djogo mengatakan PSN tahun ini didorong untuk pengembangan proyek-proyek infrastruktur dan pengembangan kawasan industri/pariwisata, serta proyek pendukung pemulihan ekonomi pasca Covid-19.

Kedua proyek pesawat itu, akan dialihkan ke Prioritas Riset Nasional (PRN) di bawah Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN).

Padahal menurut RAI, industri dirgantara bernilai strategis ekonomi yang sangat besar. Industri ini dinilai bisa membantu untuk mendukung visi Indonesia menjadi lima pelaku ekonomi terbesar dunia pada 2045. Untuk menjadi lima besar ekonomi dunia perlu pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 5 persen per tahun.

“Hal ini bisa dilakukan jika Indonesia membangun industri berbasis teknologi dan inovasi, selain mengandalkan komoditas sumber daya alam. Ini yang menjadi pesan utama kehadiran program pengembangan pesawat R80 di Indonesia tercinta ini,” kata Justin kepada CNNIndonesia.com.

Selain itu, dia mengatakan nilai strategis yang diberikan oleh industri dirgantara nasional adalah memberdayakan dan mengembangkan SDM

“Dengan diproduksinya pesawat R80 di dalam negeri, maka akan memberikan dampak positif dan manfaat strategis bagi perekonomian nasional, daripada kita harus membelinya dari luar negeri,” ujarnya.

Di sisi lain, Justin mengatakan R80 dimaksudkan untuk dapat mengisi pasar domestik dan regional menggantikan pesawat asing.

BPPT Ungkap Masalah Pendaan Pesawat R80 Habibie

Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT, Wahyu Widodo Pandoe mengatakan proyek Drone Elang Hitam yang masuk dalam PSN menggantikan pesawat R80 Habibie masih dalam proses penyempurnaan.

Kendati demikian, drone berjenis Medium Altitude Long Endurance (MALE) Elang Hitam itu diklaim Wahyu bukan sebagai pengganti proyek pesawat R80 Habibie. Menurutnya pesawat R80 hanya terkendala masalah pendanaan.

“Pesawat R80 bisa saja kembali masuk sebagai PSN ketika masalah pendanaan sudah teratasi,” tambahnya.

Wahyu menuturkan Drone Elang Hitam adalah salah satu program yang diajukan oleh Kemenristek untuk masuk ke PSN, termasuk R80. Setiap program, kata dia tidak terkait satu sama lain.

“Ini masing-masing sebenarnya independen. Jadi tidak ada kaitan,” ujar Wahyu.

Wahyu menuturkan pihaknya masih berharap R80 dikembangkan dan diproduksi oleh Indonesia. Sebab, dia berkata R80 untuk menandingi pesawat yang dibuat oleh negara lain, seperti China.

Namun, Wahyu mengatakan R80 menemui hambatan di sektor pendanaan. Dia mengatakan pengembang R80 tidak memiliki proposal yang bisa meyakinkan pemerintah atau swasta untuk memberikan dukungan dana.

“Masalahnya sekarang di PSN harus ada progress dan targetnya di 2024 apa. Nah sepengetahuan saya, mungkin saya bisa salah juga, R80 ini memang kesulitan pendanaan,” ujarnya.

Di sisi lain, Wahyu berkata pengembangan R80 masih sangat panjang, yakni hingga 2045. Akan tetapi, dia menyampaikan pengembangan R80 tidak memperlihatkan perkembangan hingga tahun ini.

“Kalau engineer siap, SDM, maupun fasilitas juga siap. Hanya ternyata bahwa R80 tidak ada progress sehingga mereka sebenarnya bukan dikeluarkan, tapi step aside. Jadi dia minggir dulu,” ujar Wahyu.

(lia/sumber:cnnindonesia)