Angkasa Pura 2

Toilet Seharga Rp7,1 Miliar, Khusus Astronaut Buang Hajat di Luar Angkasa

KokpitRabu, 1 Juli 2020
toilet

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Urusan buang air astronaut di luar angkasa bukan perkara mudah untuk ditangani, bahkan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) sampai harus gonta-ganti desain dalam berbagai misi. Terkini, NASA baru saja menggelar sayembara desain toilet untuk dipakai dalam misi ke Bulan pada 2024.

Soal mekanisme hajat astronaut ini cukup menantang karena lingkungan di luar angkasa tak ada gravitasi.

Sejak tahun 1960-an, NASA telah mengirimkan puluhan misi antariksa dan urusan pembuangan hajat selalu menjadi salah satu perhatian.

Faktanya, toilet belum dipasang di pesawat antariksa hingga stasiun luar angkasa pertama NASA, Skylab, diluncurkan pada 1973. Toilet dibutuhkan karena astronaut harus tinggal di situ selama berminggu-minggu.

Sebelum Skylab, astronaut harus buang air kecil di sebuah kantong berbentuk seperti kondom. Baru setelah 1962, tepatnya di misi Gemini, NASA baru mencari cara agar astronaut bisa buang air besar.

Kantong Air Berbentuk Kondom

toilet 1

Sebelum misi Apollo 11 yang mendaratkan manusia di Bulan, NASA belum fokus pada urusan buang air kecil dan besar astronaut karena durasi misi yang dianggap tak memakan waktu lama.

Faktanya, Alan Shepard, pilot pertama penerbangan antariksa pada 1961 terpaksa harus kencing di celana karena NASA tidak menyediakan tempat kencing. Setelah kejadian itu NASA baru mulai memberikan peralatan untuk buang air kecil.

Peralatan kecil pertama berbentuk seperti kondom yang terdiri dari tiga ukuran. NASA menyebutnya terlihat seperti kondom dan punya tiga ukuran. Alat ini tidak didesain untuk wanita.

Alat ini terhubung ke tabung plastik, katup, klem, dan kantong. Alat ini disebut terkadang bocor. Manusia pertama yang mengorbit untuk NASA, John Glenn, pada misi Mercury Atlas 6, menggunakan alat ini. Misi berlangsung selama 4 jam 55 menit.

Kantong untuk Buang Air Besar
Misi Gemini pada tahun 1960-an menandakan pertama kalinya NASA berupaya menangani kotoran di luar angkasa. Perangkat pertama yang dibuat untuk tujuan ini hanyalah sebuah yang ditempel di bokong astronot.

“Setelah buang air besar, anggota kru diminta untuk menutup tas dan meremasnya untuk mencampur bakterisida cair dengan kotoran untuk memberikan tingkat stabilisasi kotoran yang diinginkan,” kata NASA.

“Karena tugas ini tidak menyenangkan dan membutuhkan banyak waktu, makanan residu rendah dan obat pencahar umumnya digunakan sebelum peluncuran,” lanjut NASA.

Alat yang digunakan dalam misi Apollo tidak jauh lebih baik. Alat tersebut masih merupakan sistem kantong, tetapi tidak semua spesimen kotoran ditangani dengan bersih.

Selama misi Apollo 10 pada tahun 1969, astronaut Tom Stafford tiba-tiba berkata “Bawakan aku serbet cepat. Ada kotoran yang melayang di udara.”

Sistem Penampung Kotoran
NASA juga mengembangkan sistem penampung kotoran untuk digunakan astronaut Apollo ketika berada di luar pesawat ruang angkasa. Sistem ini terdiri dari sepasang celana pendek dengan lapisan bahan penyerap.

NASA mengatakan celana pendek akan berfungsi menampung kotoran apapun.

Toilet Pertama untuk Skylab

toilet 2

Ketika NASA membangun Skylab – stasiun luar angkasa pertamanya – pada tahun 1973, toilet baru dibuat. Sebab astronaut akan tinggal di luar angkasa selama berbulan-bulan di stasiun tersebut.

Skylab mendukung tiga misi luar angkasa awak pada tahun 1973 dan 1974; yang terakhir dan terlama adalah 84 hari.

Toilet astronaut pada dasarnya adalah sebuah lubang di dinding yang terhubung ke sebuah kipas dan kantong.

Setelah selesai buang air besar, astronaut harus mengeringkan tinja dengan cara divakum dengan panas. Hal ini dilakukan agar kotoran tersebut bisa dibuang ke tangki limbah atau untuk dipelajari.

Pampers untuk Astronaut Wanita
Era pesawat ulang alik juga membawa inovasi agar astronaut bisa kencing di luar angkasa. Selain itu, desain baru juga dibutuhkan karena wanita juga telah menjadi astronaut.

Untuk memungkinkan astronot perempuan kencing selama peluncuran dan di luar angkasa, NASA menciptakan ‘Disposable Absorption Containment Trunk’ yang dirancang untuk menyerap kencing. Pampers dapat menampung 3,75 gelas air kencing.

Toilet Rp7,1 miliar

toilet 3

Pesawat ulang-alik dilengkapi dengan toilet seharga US$50 ribu atau sekitar Rp7,1 miliar.

Kendati demikian, sistem toilet masih tidak mudah digunakan. Lubang toilet hanya berukuran 4 inci atau 10 cm, sekitar seperempat ukuran lubang toilet biasa.

Oleh karena itu, astronaut harus terlebih dahulu dilatih. Beberapa uji coba bahkan menyertakan kamera khusus di bawah toilet sehingga mereka dapat menyempurnakan target pembuangan.

“Kesejajaran itu penting,” kata Scott Weinstein dari NASA, yang mengajar kru ruang angkasa bagaimana menggunakan toilet ulang-alik.

Astronaut Mike Massimino mengatakan dia menggunakan pengikat di paha ketika dia duduk di toilet luar angkasa. Ia mengatakan duduk di toilet terasa seperti mengendarai motor chopper.

Toilet Modern di ISS

toilet 4

Saat ini para astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) buang air besar ke lubang toilet seukuran piring kecil. Toilet dilengkapi dengan kipas angin menyedot kotoran mereka.

Setelah selesai buang air besar, kotoran astronaut disimpan dalam kantong plastik. Kotoran akan dikirim dengan kapal kargo menuju Bumi.

Pensiunan komandan stasiun Peggy Whitson mengatakan melayang itu menyenangkan, tetapi tidak saat buang air di ruang angkasa. Peggy menghabiskan lebih banyak waktu di ruang angkasa daripada astronaut NASA lainnya.

“Setelah toilet mulai penuh. Kamu harus mengenakan sarung tangan karet dan mengemasnya,” ujar Peggy.

Rusia juga mengirimkan toilet terbaru ke ISS. Toilet tersebut membutuhkan ongkos US$19 juta atau sekitar Rp272,8 miliar. Toilet itu menjadi yang kedua di ISS.

Kompartemen limbah ini dikirim ke ISS dengan menumpang pesawat ulang-alik Endeavour. Sistem buatan Rusia ini secara terpisah menyalurkan limbah cair dan padat.(amt/cnnindonesia/foto:istimewa/berbagaisumber)