Angkasa Pura 2

Afen Sena: Tantangan Manajemen Lalu Lintas Sistem Pesawat Tak Berawak untuk Harmonisasi Global

KokpitJumat, 3 Juli 2020
drone-jfk-728x420

UNTUK memenuhi permintaan berbagai kepentingan keekonomian maupun tuntutan kemanuasiaan lainya, komunitas penerbangan dunia didorong untuk menjadi jauh lebih inovatif dan proaktif dalam mengelola isu-isu terkait proposal manajemen lalu lintas sistem pesawat tak berawak (Unmanned Traffic Management-UTM); harmonisasi menjadi kata kunci yang dapat berdampak pada keselamatan, keamanan, lingkungan, keandalan sistem dan efisiensi ekonomi.

Melalui UTM, otoritas penerbangan sipil (Civil Aviation Authority /CAA) dan Air Navigation Service Provider/ ANSP, mengusahakan informasi real-time mengenai kendala ruang udara dan proyeksi penerbangan yang tersedia untuk operator Unmanned Aircraft System/UAS secara langsung atau melalui penyedia layanan UTM (UTM-Service Provider/USP).

Operator UAS kemudian akan bertanggung jawab untuk mengelola operasi mereka dengan aman dalam batasan-batasan tertentu tanpa menerima layanan kontrol lalu lintas udara positif dari ANSP.

63202064832
(Sumber Gambar : Unmanned Aircraft Systems Traffic Management (UTM) – A Common Framework with Core Principles for Global Harmonization, International Civil aviation Organization, 2020)

Sementara UTM, sebagai sebuah konsep, sedang dalam pengembangan, kesepakatan bersama tentang kerangka dan prinsip-prinsipnya sangat penting untuk memastikan harmonisasi dan interoperabilitas global. Karenanya, International Civil Aviation Organization/ICAO mendukung Negara-negara, pemimpin industri UAS, akademisi dan professional penerbangan, dalam pengembangan kesepakatan bersama tentang kerangka kerja UTM dengan tetap konsisten mendasari prinsip-prinsip konvensi penerbangan dunia.

Menjadi sangat penting untuk memberi Negara-negara yang mempertimbangkan implementasi sistem UTM, dengan kerangka kerja dan kemampuan inti dari sistem UTM “khas”.

Sistem UTM semacam itu harus dapat berinteraksi dengan sistem ATM menyeluruh tanpa memengaruhi keselamatan atau efisiensi sistem ATM yang telah ada. Kerangka kerja umum diperlukan untuk memfasilitasi harmonisasi antara sistem UTM secara global dan untuk memungkinkan industri, termasuk produsen, penyedia layanan dan pengguna akhir untuk tumbuh dengan aman dan efisien tanpa mengganggu sistem penerbangan berawak yang ada.
drones-e1575259343492-770x540
Ada beberapa komponen sistem UTM yang aman dan efektif yang mungkin belum dibahas dalam versi kerangka kerja existing, seperti standar desain dan sertifikasi Unmanned Aircraft/ UA dan sistem UTM pada high altitude airspace.
UTM dibayangkan sebagai bagian dari ATM yang dimaksudkan untuk mengelola operasi UAS secara aman, ekonomis dan efisien melalui penyediaan fasilitas dan serangkaian layanan tanpa batas dalam kolaborasi dengan semua pihak dan melibatkan fungsi-fungsi berbasis udara dan darat. Sistem seperti itu akan menyediakan UTM melalui integrasi kolaboratif manusia, informasi, teknologi, fasilitas dan layanan, didukung oleh udara, darat dan / atau komunikasi berbasis ruang, navigasi dan surveillance.

Oleh karenanya, sistem UTM diharapkan dapat dioperasikan dan konsisten dengan sistem ATM yang ada untuk memfasilitasi operasi yang aman, efisien, dan dapat diskalakan. Meskipun persyaratan tingkat sistem untuk sistem UTM belum dikembangkan, prinsip-prinsip inti dapat ditetapkan yang akan memandu pengembangannya. Ada juga banyak prinsip yang ada dalam struktur ATM saat ini yang tetap berlaku untuk layanan UTM.

Ketika suatu Negara mempertimbangkan penerbitan persetujuan operasional untuk sistem UTM, ada banyak faktor yang harus dinilai. Selain enabler utama pendaftaran dan identifikasi, komunikasi dan geo-awareness / geo-fencing, perlu pula diperhatikan dalam kerangka kerja ini, operasi UAS yang aman – dan operasi Beyond Visual Line Of Sight/ BVLOS pada khususnya – dalam sistem UTM akan bergantung pada serangkaian dukungan dan kemampuan tertentu. Sistem UTM dipertimbangkan untuk menyediakan beberapa dari ini, tetapi mereka akan membutuhkan kebijakan yang memungkinkan dan kerangka kerja peraturan yang memperhitungkan solusi teknologi yang muncul. Banyak dari tindakan ini dapat diatasi oleh Negara-negara dalam persiapan untuk implementasi sistem UTM.

Sistem UTM dapat dianggap sebagai kumpulan layanan, di antara fitur-fitur lainnya, yang dimaksudkan untuk memastikan operasi UA yang aman dan efisien dalam volume ruang udara resmi UTM dan yang sesuai dengan persyaratan peraturan. Operasi UAS dapat terjadi di wilayah udara yang tidak terkendali dan terkontrol, dengan masing-masing jenis wilayah udara berpotensi membutuhkan layanan tertentu. Ketika operasi UAS terjadi di wilayah udara yang dikendalikan (Controlled Airspace), operator UAS akan diminta untuk mengikuti prosedur dan persyaratan untuk wilayah udara tersebut, kecuali jika pengecualian atau prosedur alternatif telah dilakukan untuk membebaskan mereka yang beroperasi di sistem UTM dari aturan wilayah udara yang ditetapkan.

Integrasi UAS yang aman dan efisien, terutama UA kecil, ke wilayah udara yang ada, menghadirkan banyak tantangan. Memang, studi baru-baru ini meramalkan pertumbuhan operasi UAS yang signifikan, yang mengarah pada pergeseran fokus ke operasi pada ketinggian yang rendah dan daerah berpenduduk padat, dengan berbagai jenis operasi dan UA. Cakupan diskusi tentang banyaknya kesenjangan, masalah, dan tantangan yang harus diatasi untuk memungkinkan operasi UAS yang aman dalam sistem UTM, masih sangat dibutuhkan.

ICAO melanjutkan tugasnya sebagai leader forum penerbangan global, untuk mendukung Negara-negara, para pemimpin industri UAS, akademik dan para profesional penerbangan, mengeksplorasi keadaan terkini untuk UTM dan menggunakan informasi itu untuk mengembangkan kerangka kerja dan prinsip-prinsip inti UTM.

Kerangka kerja tersebut tidak dimaksudkan untuk mendukung atau mengusulkan desain sistem UTM spesifik atau solusi teknis tertentu untuk tantangan UTM tetapi lebih pada memberikan kerangka kerja menyeluruh untuk sistem tersebut. Maksudnya agar konsep ini menjadi konsepsi yang hidup dan ketika informasi baru atau pengembangan baru diperoleh, kerangka kerja UTM akan diperbarui.

Sifat pengembangan UTM membuatnya sulit untuk memprediksi bagaimana kerangka kerja tindak lanjut akan diorganisir, divalidasi, dan disertifikasi. Oleh karenanya, partisipasi lebih banyak dari industri dan / atau pelaku usaha masa depan akan diperlukan untuk mengeksplorasi perangkat minimal atas isu isu keselamatan dan keamanan dalam penyebaran / pengembangan produk yang akan memiliki potensi untuk mencapai interoperabilitas global.
unnamed
(Ditulis oleh : Dr. Afen Sena, Atase Perhubungan/ Alternate Representative RI pada ICAO; Penggiat Center for Strategic and Aviation Studies)