Angkasa Pura 2

Lagi, Kapal China Langgar Batas Teritori Jepang

Dermaga HankamRabu, 8 Juli 2020
images - 2020-07-08T111932.435

TOKYO (BeritaTrans.com) – Kapal penjaga pantai milik China lagi-lagi melanggar batas teritorial dengan Jepang. Dalam empat hari terakhir, China tercatat sudah melakukan pelanggaran sebanyak dua kali.

Kapal-kapal China mulai datang sejauh 4 km dalam wilayah pulau Senkaku yang dikelola Jepang. Jauh melampaui batas 19,3 km yang sudah diakui secara internasional.

Hal ini memaksa Jepang untuk mulai melakukan penjagaan ketat pada setiap kapal China yang berada di dekat kapal penangkap ikan milik Jepang.

Sekretaris kabinet utama Jepang Yoshihide Suga megatakan, pemerintah pusat telah berulang kali mengajukan protes diplomatik kepada Beijing. Namun hasilnya nihil.

Pulau Senkaku, atau oleh China disebut sebagai Diaoyu, memang jadi rebutan kedua negara sejak puluhan tahun lalu. Namun sejak tahun 1972 Jepang secara resmi mengelola pulau tak berpenghuni itu.

Sementara China mengklaim bahwa pulau tersebut secara historis sudah menjadi bagian dari negara mereka. Sekarang mereka berusaha untuk mengelola kembali pulau tersebut.

Ketegangan antara kedua negara semakin meningkat setelah Okinawa menyetujui RUU yang mengubah status administrasi pulau Senkaku. Nantinya Jepang akan punya kuasa lebih dalam pengelolaan pulau Senkaku. Ini akan jadi babak baru dalam drama sengketa pulau Senkaku selama puluhan tahun.

Pada hari Senin (6/7), juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, mengatakan bahwa China punya hak untuk berpatroli di perairan sekitar pulau dan justru berniat mengusir Jepang dari wilayah tersebut.

Melansir CNN, kapal-kapal milik China kini telah menghabiskan 84 hari di perairan sekitar pulau Senkaku. Membuat Jepang semakin geram.

Penjaga lepas pantai Jepang mencatat ada 2 intrusi yang terjadi sejak hari Kamis (2/7) lalu. Masing-masing selama 30 jam dan 40 jam. Itu juga jadi aktivitas terlama milik kapal di China di wilayah perairan Jepang sejak sengeketa pulau Senkaku ini memanas.

Jika hal ini terus berlanjut, potensi adanya benturan fisik kedua pihak sepertinya tidak akan bisa dihindari lagi. Militer kedua negara pun sepertinya sudah mulai disiapkan untuk semua kemungkinan terburuk. (lia/sumber:kontan)