Angkasa Pura 2

Gegara Corona, KAI Butuh Talangan Dana Rp3,5 Triliun

EmplasemenKamis, 9 Juli 2020
Screenshot_20200616-215303

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Munculnya Covid-19 dan Imbauan Social Distancing mempengaruhi aktivitas operasional perkeretaapian. PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) mengalami kesulitan keuangan yang terutama disebabkan oleh penurunan jumlah penumpang sejak awal tahun 2020.

Tren penumpang harian KAI mulai berkurang signifikan sejak diumumkannya pasien Covid-19 pertama di Indonesia per Maret 2020 disusul dengan berbagai kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar yang semakin membatasi laju penumpang KAI dan anak usahanya.

Pada Bulan Januari pendapatan KAI masih sebesar Rp 2,3 triliun. Sedangkan di Februari mulai turun menjadi Rp 1,2 triliun.

Kemudian, di Maret makin menurun menjadi Rp 890 miliar. Tren penurunan pendapatan tersebut pun berlanjut di April yang hanya sebesar Rp 684 miliar.

Hingga Mei 2020, volume penumpang per hari KAI mengalami penurunan sebesar 78% dan pendapatan angkutan penumpang mengalami penurunan sebesar 87% dibandingkan dengan kondisi normal. Per 31 Mei 2020, KAI mencatat jumlah penumpang harian sebanyak 239.288 dengan jumlah pendapatan penumpang harian sebesar Rp3 miliar.

PT KAI telah merancanakan pertumbuhan Laba Bersih sebesar 105% pada tahun 2020 dibandingkan dengan kinerja 2019. Namun, sampai dengan Mei 2020 saja, PT KAI mencatat rugi bersih sebesar Rp -713 M, atau turun sebesar -34% dari RKAP 2020.

Hingga akhir 2020 diperkirakan arus kas perseroannya akan merugi hingga Rp 3,448 triliun.

Itu juga disampaikan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Didiek Hartantyo, “Pada akhir tahun kas operasional kami akan mengalami negatif Rp 3,448 triliun” ujarnya saat rapat bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (8/7/2020).

Pengeluaran KAI untuk pembayaran kepada pemasok dan karyawan di Januari Rp 1,7 triliun, Februari Rp 749 miliar, Maret Rp 1,4 triliun, dan April Rp 1,2 triliun.

Jika di total, pengeluaran KAI hingga akhir 2020 untuk pembayaran kepada pemasok dan karyawan mencapai Rp 14,02 triliun. Sedangkan pendapatan hinga akhir tahun hanya mencapai Rp 11,98 triliun.

Belum lagi, KAI juga harus melakukan pembayaran bunga dan beban keuangan hingga akhir tahun Rp 920 miliar. Lalu, ada pembayaran pajak penghasilan Rp 479 miliar hingga akhir tahun.

Setelah dilakukannya efisiensi operasional terhadap proyeksi arus kas yang telah disesuaikan dengan skenario akibat Covid-19, agar arus kas akhir operasional tetap positif, KAI membutuhkan dana talangan sebesar Rp 3,5 triliun dari pemerintah.

Pengeluaran KAI hingga akhir 2020 digunakan untuk mendanai segala operasional, mulai dari  perawatan sarana perkeretaapian sebesar Rp680 miliar, perawatan prasarana
termasuk bangunan Rp740 miliar, pemenuhan biaya pegawai Rp1.250 miliar, biaya bahan bakar Rp550 miliar dan pendukung operasional lainnya sebesar Rp280 miliar.

Pelunasan pinjaman Rp 35 triliun dilakukan mulai 2022 selama tujuh tahun sampai tahun 2026. (fhm)