Angkasa Pura 2

Airport Collaborative Decision Making Butuh Komitmen dan Konsistensi

Bandara KokpitSabtu, 11 Juli 2020
6112020111539

MONTREAL (BeritaTrans.com) – Webinar virtual bertajuk “Airport Collaborative Decision Making (A-CDM): Tantangan dan Peluang” digelar CSAS Indonesia dengan menghadirkan pembicara bergengsi, termasuk dari ICAO.

Gelaran itu menghadirkan pembicara Vic Van Der Westhuizen sebagai ICAO Expert, Dr. Ir. M. Awaluddin, MBA, (CEO Angkasa Pura II), Cecep Marga Sonjaya (Vice President Airport Operation Angkasa Pura I), Capt F. Kawulusan (Garuda Indonesia), Roy Johanis, S.Sos., M.S. (Vice President ANS Data & Evaluation Airnav Indonesia), Ari Satria S. (Slot Coordinator Indonesia Airport Slot Management/IASM), serta moderator Dr. Afen Sena (Alternate Representative of Indonesian Delegation to ICAO).

Dalam webinar, yang digelar Jumat (10/7/2020) malam, itu melahirkan kesimpulaan strategis dalam memberdayakan penerbangan nasional, terutama pascapandemi Covid-19.
611202011138
Wisnu Darjono T. U., S.Sos., S.SiT., M.M. dari CSAS Indonesia membacakan kesimpulan sebagai berikut:

ACDM tidak akan hadir dengan dipelajari dan dibahas berulang kali. ACDM merupakan bentuk kerjasama antara berbagai stakeholder yang di dalamnya terdapat airport provider, PT Angkasa Pura I, PT Angkasa Pura II, Badan Usaha Bandar Udara, ANSP, serta dukungan penuh dari pemerintah dalam hal ini ialah Direktorat Jendreral Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

ACDM bertujuan untuk mendapatkan best outcome yaitu terwujudnya trasnportasi udara Indonesia yang lancar, teratur, selamat, serta nyaman sampai tujuan. Kata kunci dari proyek besar ini adalah kolaborasi. Kolaborasi didefinisikan sebagai the process of two or more people or organisation working together to complete a task or achieve a goal.

ACDM dengan demikian didefinisikan sebagai programe to improve efficiency of airport operation by optimizing use of resources. ACDM merupakan bentuk kerjasama, interkasi, kompromi beberapa unit kerja dengan bahasa dan persepsi yang sama yang terkait dari masing – masing perusahaan yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung yang menerima manfaat dan tentu juga harus sadar dan serta mau menanggung konsekuensi atau akibatnya.

Saat ini dan pasca pandemic nanti, sistem bisnis penerbangan kelihatannya akan menjadi semakin kompleks, dalam usahanya untuk mengoptimalkan biyaya, kwalitas pelayanan, ketepatan waktu, dan berbagai variasi tuntutan masyarakat akan transportasi udara yang nyaman.

Di samping itu, adanya tuntutan untuk memenuhi standar keselamatan yang telah disepakati secara global, tuntutan penggunaan dan pemanfaatan IT, komputasi mobile, internet dan pemanfaatan teknologi canggih lainnya yang mendukung kebutuhan akan harmonisasi dan berbagai data untuk terwujudnya sinergi dan kolaborasi tersebut tentu menjadi kebutuhan pokok yang mutlak harus dilengkapi dan diberdayakan.

Kompleksitas itulah yang akan menguji kebutuhan komitmen dan konsistensi dalam berkolaborasi guna mewujudkan transportasi udara yang teratur, disiplin dan dapat dibanggakan.

Sedangkan kegagalannya, bukan saja akan membuat transportasi udara Indonesia menjadi terhambat, sembrawut, tidak lancar, tidak efisien dan lain – lain tetapijuga mengganggu atau bisa jadi menurunkan tingkat keselamatan penerbangan.

Karenanya, kolaborasi yang disebut ACDM ini perlu diwujudkan dan semua pihak harus jujur dengan etikad baik serta tekat yang kuat untuk mewujudkannya. Sang waktu yang akan menguji kesungguhannya. (awe).