Angkasa Pura 2

Webinar CSAS: Penting Dukungan Regulasi terhadap Airport Collaborative Decision Making

Bandara KokpitSabtu, 11 Juli 2020
6112020174714

MONTREAL (BeritaTrans.com) – Mangan Dirjen Perhubungan Udara M Iksan Tatang menilai penting dan strategis dukungan regulasi Airport Collaborative Decision Making (ACDM).

Dalam webinar internasional bertajuk ACDM: Peluang dan Tantangannya, yang digelar CSAS Indonesia, Jumat (10/7/2020) malam, Tatang mengutarakan melihat perkembangan cukup signifikan dari realisasi ACDM.

“Bandara sudah mulai menata masalah teknologinya yang sesuai dan dibutuhkan utamanya bandar udara yang diusahakan baik oleh Angkasa Pura I maupun Angkasa Pura II,” ungkap ketua umum Ikatan Ahli Bandar Udara Indonesia (IABI) tersebut.

Mantan Sekjen Kementerian Perhubungan itu menekankan peran regulator dibutuhkan sebagai penyeimbang, “karena berdasarkan atas apa yang saya ikuti bahwa perkembangan teknologi informasi sangat luar biasa. Sehingga secara regulasi juga apa yang dilakukan oleh Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II akan percuma jika tidak diikuti dengan perkembangan regulasi. Dukungan berupa regulasi sangat penting.”

Dia mengemukakan sebelumnya ada TAMS (Total Airport Management System) dimana pada saat itu sistem pelayanan navigasi masih bergabung dengan pengelola bandara.

Pada saat itu masih lebih terintegrasi secara internal antara seluruh stakeholder yang ada terutama antara Angkasa Pura sebagai pengelola bandara dengan pelayanan navigasi penerbangan.

“Dari segi manfaat, pasti akan sangat terasa sekali, meningkatnya on time performance dari airline, dari bandara ialah adanya efektifitas pemanfaatan fasilitas, juga dari segi slot akan lebih akurat tentunya,” ujar mantan Presiden Komisaris PT Angkasa Pura II itu..

Dengan terpisahnya pelayanan navigasi penerbangan ini, lengkaplah tiga komponen utama transportasi udara. ” semua moda transportasi itu komponennya ada tiga. Pertama ialah terminal, kedua jalan, ketiga kendaraan. Di udara sudah terminal berarti bandaranya dikelola oleh Angkasa Pura, Jalannya oleh navigasi penerbangan, kendaraannya ada airlines, jadi sudah bagus,” cetusnya.

Tatang menyatakan sangat sependapat bahwa memang saatnya kita membutuhkan sistem yang tidak terkotak-kotak lagi, tetapi benar-benar perencanaan terintegrasi.

“Saya bisa memahami dari tiga pelaku utama ini, kalau airline merupakan single operator, dimana hanya mengelola airlines-nya saja. Airnav juga single operator. Kalau bandara multi-operator, selain harus mengelola sendiri juga harus mengelola kesulitan-kesulitan pihak lain, karena apapun kejadian yang terjadi di bandara, maka yang disalahkan ialah operator bandar udaranya,” ujarnya.

Walaupun masalah sebenarnya diakibatkan karena maskapai, ground handling, atau mungkin karena CIQ, dia menyatakan itu merupakan risiko. Saya sependapat bahwa memang berat untuk mengkoordinasikan berbagai fungsi operator lain selain Angkasa Pura, apalagi jika pihak tersebut merupakan fungsi pemerintah.

“Sehingga pendekatan yang diharapkan lebih dalam hal ini. Sehingga inilah yang membedakan pengelola bandar udara dengan bagian dari dari pengelola penerbangan. Memang perlu ada continuous improving, yang didukung oleh semua pihak termasuk regulasi. Karena perkembangan demand telah kita ketahui bersama, termasuk juga teknologi yang luar biasa, tentu dengan adanya regulator menjadi suatu persyaratan baru bagi bandara baru, harus memenuhi standar persyaratan ACDM yang benar-benar terintegrasi,” tegasnya.

ATFM dan ACDM Jamin Penerbangan Aman & Efisien

Sebelumnya Roy Johanis, S.Sos., M.S. Vice President ANS Data & Evaluation Airnav Indonesia mengutarakan Air traffic flow management (ATFM) lebih ditunjukkan untuk mengatur Demand dan Capacity, sedangkan ACDM tujuannya ialah untuk meningkarkan prediksi dan pengoptimalan sumber daya.

Bidang utama ATFM dang utamanya ialah ruang udara, sementara ACDM ialah bandar udara. “ATFM dan ACDM perlu adanya koordinasi ATFM dan ACDM, sehingga tujuan operasional penerbangan tercapai,” ujarnya.

FIR Indonesia terdiri dari dua FIR, dengan kurang lebih 17.000 pulau, dan penerbangan doestik sekitar 80% dari seluruh penerbangan di Indonesia. “Pada tahun 2019, demand sudah melebihi kapasitas yang ada, sehingga ATFM dan ACDM diperlukan untuk menjamin bahwa penerbangan yang aman dan efisien dapat berlangsung,” cetusnya.
6112020174734
Untuk saat ini, dia mengutarakan ATFM dan ACDM hanya fokus pada origin dan destination, kedepannya diharapkan adanya mindset bahwa penerbangan merupakan suatu network dari satu bandara ke bandara tujuan dan seterusnya mengikuti mobilisasinya;

Air operator, airport, ground handler, militer, Airnav dan pihak terkait lain memiliki perencanan masing-masing. Ke depannya harus ada koordinasi. Ke depannya diperlukan transparansi dan information sharing guna mengoptimalkan apa yang diinginkan dari adanya ACDM.

Apabila di suatu bandara diterapkan adanya CTOT maka dapat diketahui bahwa di bandara tersebut demand melebihi kapasitas. ACDM dan ATFM dapat berkolaborasi untuk meningkatkan efisiensi penerbangan.

Langkah yang dibutuhkan untuk dapat mengharmonisasikan antara ACDM dan ATFM, Roy menuturkan dimulai dengan pertemuan kecil kemudian sharing information dan kemudian membuat suatu sharing data yang lebih besar;

Sedangkan Ari Satria S selaky Slot Coordinator Indonesia Airport Slot Management (IASM), menjelaskan tujuan IASM ialah untuk mengkatkan keselamatan penerbangan. IASM terdiri dari tiga pihak yaitu Angkasa Pura I, Angkasa Pura II dan Airnav Indonesia;

“Persiapan untuk pembuatan jadwal penerbangan akan dibuat enam bulan sebelum season dimulai. Slot Conference diadakan oleh IATA sebanyak dua kali dalam satu tahun,” ungkapnyam

Dia mengutarakan IASM memiliki data yang lengkap untuk mendukung implementasi ACDM. Output ACDM dan ATFM dapat berupa TSAT, ASRT, TOBT, dan CTOT.

“Hal penting dalam kolaborasi ialah partnership dan sharing information sehingga kelak akan meningkatkan efisiensi operasional yangmerupakan tujuan utama dari Airport, Airlines, dan ANSP,” cetusnya.

Narasumber Webinar

Webinar itu menampilkan pembicara Mr. Vic Van Der Westhuizen sebagai
ICAO Expert, Cecep Marga Sonjaya
(Vice President Airport Operation Angkasa Pura I), Capt F. Kawulusan
(PT Garuda Indonesia), Roy Johanis, S.Sos., M.S. (Vice President ANS Data & Evaluation Airnav Indonesia), Ari Satria S.
(Slot Coordinator Indonesia Airport Slot Management/IASM), Dr. Ir. M. Awaluddin, MBA (CEO Angkasa Pura II), serta moderator Dr. Afen Sena (Alternate Representative of Indonesian Delegation to ICAO)