Angkasa Pura 2

Inilah 6 Destinasi Wisata Religi di Banten

DestinasiSenin, 27 Juli 2020
IMG_20200725_081503_resize_29

BANTEN (BeritaTrans.com) – Dikenal sebagai daerah yang kental dengan nilai-nilai agamis, tak heran jika Banten memiliki sejumlah kawasan wisata religi, karena terdapat makam-makam para ulama dan bermacam situs sejarah Islam, sehingga para peziarah berdatangan dari berbagai daerah mengunjunginya.

Pada moment tertentu ribuan warga dari pelosok tanah air berdatangan untuk wisata religi atau pun sekadar mengunjungi peninggalan sejarah para ulama Banten.

Makam-makam ulama Banten dan peninggalan serta cerita sejarahnya menjadi daya tarik pengunjung. Selain itu, lokasi yang unik juga menambah keseruan saat menginjakkan kaki di tanah santri tersebut.

IMG_20200725_151844_resize_66

Salah satunya adalah Majelis Dzikir Baburrahman yang berasal dar Cibitung, Kab Bekasi, mengatakan “Kami sengaja datang untuk berziarah di beberapa tempat di daerah Banten, seperti Makam Sultan Maulana Hasanuddin Putera dari Sunan Gunung Jati, Makam Sultan Muhammad Yusuf, Makam Syekh Muhammad Sholeh, Situs Batu Qur’an, Makam Sultan Maulana Mansyur, dan terakhir Syekh Asnawi,” ungkap Muklis salah satu dari rombongan tersebut, (25/7/2020), berikut penelusuran ziarahnya di Enam tempat di Banten:

 

Masjid Agung Banten dan Makam Sultan Maulana Hasanuddin

ziarah 12

ziarah 13

Mengawali ziarahnya adalah di Masjid Agung Banten, yang mempunyai menara khas setinggi lebih dari 30 meter ini, selain untuk tempat beribadah, masjid ini juga terkenal sebagai tempat wisata religi. Banyak para peziarah mengunjungi tempat ini untuk mendoakan para raja-raja Banten dan keluarganya. Salah satunya adalah makam putra dari Sunan Gunung Jati yaitu, Sultan Maulana Hasanuddin. Masjid ini juga menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Banten. Selain wisatawan lokal, banyak juga para pengunjung dari mancanegara yang datang ke Masjid Agung Banten ini untuk menikmati arsitektur kuno dan meihat bukti-bukti sejarah Kesultanan Banten.

Makam Sultan Maulana Yusuf

ziarah 1

ziarah 2

Berlanjut berziarah ke Makam Sultan Maulana Yusuf, komplek makam yang berada di kampong Sunyatan, Pekalangan Gede, Kasemen, Serang, Banten atau sekitar 6 km dari kota Serang ini menjadi destinasi wisata ziarah Banten. Sultan maulana Yusuf merupakan salah satu putra dari Sultan Maulana Hasanuddin dan merupakan Sultan Banten ke-2 (1570-1580). Salah satu peran aktif Sultan Maulana yusuf adalah dengan memajukan perekonomian di Banten melalui bidang pertanian.

Makam Syekh Muhammad Sholeh di Gunung Santri

ziarah 5

ziarah 6

ziarah 3

ziarah 4

Melanjutkan perjalanannya menuju daerah Gunung Santri, yang merupakan salah satu bukit dan nama kampung yang ada di Desa Bojonegara, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang. Di puncak gunungnya terdapat makam Syekh Muhammad Sholeh. Jarak tempuh dari kaki bukit menuju puncak berjarak sekira 500 M hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Jalan menuju makam Waliyullah tersebut mencapai kemiringan 70-75 Derajat sehingga membutuhkan stamina yang prima untuk mencapai tujuan jika akan berziarah. Syekh Muhammad Sholeh adalah Santri dari Sunan Ampel, setelah menimba ilmu beliau menemui Sultan Syarif Hidayatullah atau lebih di kenal dengan gelar Sunan Gunung Jati (ayahanda dari Sultan Hasanuddin). Beliau Wafat pada usia 76 Tahun pada 1550 Hijriah dan beliau berpesan kepada santrinya jika dia wafat untuk dimakamkan di Gunung Santri. Di dekat kuburannya juga terdapat kuburan santrinya yaitu makam Malik, Isroil, Ali dan Akbar. Keempatnya termasuk santri setia yang selalu menemani syekh dalam menyiarkan agama Islam.

Makam Syekh Maulana Mansyur dan Situs Batu Quran

ziarah 8

ziarah 9

ziarah 7

Tujuan berikutnya ke Situs Batu Quran dan Makam Syekh Maulana Mansyur. Situs Batu Quran salah satu destinasi wisata religius di Kabupaten Pandeglang, Banten. Situs berupa kolam tersebut terletak di kaki Gunung Karang, tepatnya kurang lebih 300 meter dari kawasan wisata pemandian alam Cikoromoy, Desa Kadu Bumbang, Kecamatan Cimanuk. Cerita tentang batu Quran berawal dari Sultan VII Kesultanan Banten yaitu Sultan Maulana Mansyur atau dikenal dengan nama Sultan Haji. Situs Batu Quran memang sarat dengan mitos dan cerita kebesaran Sang Syekh sebagai penyebar agama Islam. Warga setempat memercayai bahwa Syekh Maulana Mansyur sebagai seorang wali memiliki anugerah lebih. Anugerah Syekh Mansyur salah satunya saat ia beribadah haji dengan jalan yang tidak biasa. Dengan hanya mengucap basmalah (dengan menyebut nama Allah), Syekh Maulana Mansyur bisa berada di Tanah Suci Mekah. Prosesi perjalanan spiritual Syekh Manysur tersebut dilakukan di tempat yang sekarang dikenal Situs Batu Quran. Saat Syekh Mansyur kembali dari Mekah di tempat semula, secara bersamaan keluar air sangat deras. Air yang keluar membuat wilayah tersebut tergenang dengan air. Syekh Mansyur kemudia berdoa memohon petunjuk. Ia kemudian salat di atas batu. Setelah salat, Syekh Mansyur mendapat petunjuk agar menutup lubang keluar air dengan al-Quran. Tempat Syekh Mansyur salat disebut Batu Sajadah atau batu tempat menunaikan salat. Sedangkan Quran yang menutup derasnya air yang keluar tersebut konon berubah menjadi batu dan disebut Batu Quran. Batu Quran tersebut tidak berbeda dengan batu lain di sekitar kolam, namun batu tesebut terletak di tengah kolam di kedalaman air. Makam Syekh Mansyur terletak di Kampung Cikadueun, Desa Cikadueun, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Menurut kisah yang berkembang di masyarakat , Syekh Mansyur berkaitan dengan riwayat Sultan Haji atau Sultan Abu al Nasri Abdul al Qahar, Sultan Banten ke tujuh yang merupakan putera Sultan Ageng Tirtayasa.

Makam Syekh Muhammad Asnawi

ziarah 10

ziarah 11

Penelusuran yang terakhir adalah ke salah satu tokoh ulama yang sangat kharismatik yang terletak persis di dekat pantai Kampung Caringin, Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Lebak. Ia dikenal sebagai ulama yang gigih menentang penjajahan Belanda. Syekh Asnawi yang tangguh dan berhasil mengajak jawara dan pemuda untuk melawan penjajah pun menjadi ancaman bagi Belanda. Apalagi, Banten dikenal sebagai tempat lahirnya para ‘pemberontak’ Belanda, bukan hanya dari kalangan rakyat biasa, melainkan juga dari kalangan ulama. Alhasil, Syekh Asnawi pernah ditahan oleh penjajah di Tanah Abang serta diasingkan ke Cianjur. Syekh Asnawi dimakamkan di dekat masjid yang ia bangun, Masjid Caringin. Hingga kini, banyak masyarakat baik dari Banten maupun dari luar Banten yang berziarah ke makamnya. (amt/dariberbagaisumber/foto:dok)