Angkasa Pura 2

Berdarah-darah! Airbus dan Boeing Rugi Puluhan Triliun Rupiah Akibat Corona

Ekonomi & Bisnis KokpitJumat, 31 Juli 2020
27537192-8247971-The_airport_has_the_capacity_to_store_500_planes_according_to_th-a-138_1587629971682

images (1)
TOULOUSE (BeritaTrans.com) – Pandemi Covid-19 membuat dua pabrik pesawat terbesar dunia berdarah-darah. Airbus dan Boeing menderita rugi puluhan triliun rupiah.

Airbus menderita rugi bersih sebesar 1,9 miliar euro atau US$2,2 miliar (setara Rp31,9 triliun dengan kurs Rp14.500 per dolar AS) sepanjang semester I 2020.

Kerugian terjadi setelah pengiriman pemesanan pesawat berkurang 50 persen di tengah krisis akibat pandemi virus corona.

Airbus mengaku hanya mengirimkan 196 pesawat dalam enam bulan pertama tahun ini. Pengiriman pesawat turun drastis karena maskapai di seluruh dunia memangkas jadwal penerbangannya untuk menghentikan penularan virus corona.

“Dampak pandemi covid-19 (virus corona) sangat terasa pada keuangan kami, di mana pengiriman pesawat komersial kami berkurang separuhnya pada semester I 2020 dibandingkan dengan tahun lalu,” ujar Kepala Airbus Guillaume Faury, dikutip dari AFP, Kamis (30/7/2020).

images (3)
Faury mengungkapkan pendapatan perusahaan anjlok 39 persen menjadi hanya 18,9 miliar euro pada semester I 2020. Penurunan drastis khususnya terjadi pada kuartal II 2020 yang mencapai 55 persen.

Airbus pun memangkas produksinya sebesar 40 persen karena lalu lintas udara diperkirakan tak kembali seperti sebelum ada pandemi virus corona. Perusahaan hanya akan memproduksi 40 Airbus tipe A320 setiap bulan dari sebelumnya yang mencapai 60 unit.

Sebelumnya, manajemen Airbus mengumumkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 15 ribu atau 11 persen karyawan mereka di seluruh dunia. Hal ini sejalan dengan tekanan keuangan yang dialami perusahaan.

Airbus merinci jika jadi dilakukan PHK akan dilakukan terhadap karyawan di beberapa negara. Untuk Perancis, jumlah karyawan yang di PHK akan mencapai 5.000 orang.

Untuk Jerman, karyawan yang akan di PHK sebanyak 5.100, Spanyol 900, Inggris 1.700 posisi dan 1.300 posisi lainnya di situs Airbus lainnya di seluruh dunia.

Boeing Rugi Rp35 Triliun
images (4)
Pabrikan pesawat asal AS Boeng melaporkan kerugian sebesar 2,4 miliar dollar AS atau setara sekira Rp35 triliun (kurs Rp 14.621 per dollar AS) pada kuartal II 2020.

Dikutip dari CNN, Kamis (30/7/2020), kerugian ini mengisyaratkan masalah yang dialami Boeing lantaran terus bergumul dengan permasalahan terkait pesawat seri 737 MAX dan pandemi virus corona (Covid-19).

Dalam catatan kepada para pegawai, CEO Boeing Dave Calhoun menyatakan, berlarutnya dampak virus corona akan mewajibkan Boeing melakukan asesmen terkait jumlah tenaga kerja.

Ini adalah sinyal bahwa Boeing akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) lebih dari 10 persen atau 16.000 orang, angka yang sebelumnya diumumkan.

Investor sendiri tidak terkejut dengan pengumumkan kinerja keuangan Boeing. Sebab, mereka sudah tahu pada bulan lalu Boeing hanya mengirimkan 10 pesawat.

Calhoun pun menuturkan, Boeing berencana melanjutkan pengurangan produksi seluruh pesawat jet komersialnya. Bahkan, ada potensi lini perakitan pesawat Boeing 787 Dreamliner akan ditutup.

“Kami juga harus mengevaluasi cara paling efisien untuk memproduksi (pesawat) 787, termasuk mempelajari kemungkinan konsolidasi produksi di satu lokasi,” imbuh Calhoun.

Boeing memproduksi pesawat seri 787 Dreamliner di pabriknya di Charleston dan dekat Seattle. Boeing menyatakan hanya akan memproduksi 6 unit pesawat tersebut per bulan pada tahun depan, lebih rendah dari angka saat ini yakni 10 unit.

Boeing juga berencana menurunkan produksi pesawat Boeing 777 per bulannya menjadi hanya dua unit dari sebelumnya 5 unit per bulan.

Pada awal Juli 2020, Boeing menyatakan hanya sanggup mengirimkan 20 unit pesawat komersial. Ini adalah angka terendah pengiriman pesawat komersial Boeing dalam satu kuartal sejak 1977.

Sepanjang Juli 2020, Boeing harus menghadapi pembatalan pesanan 60 unit pesawat. Pada Maret 2020, pesanan pesawat yang dibatalkan mencapai 150 unit, April 2020 mencapai 108 unit, dan 126 unit pada Mei 2020.

Konsumen utama Boeing, yakni maskapai penerbangan di seluruh dunia, terpukul akibat pandemi virus corona. Anjloknya permintaan transportasi udara membuat ribuan pesawat diparkir di seluruh dunia dan maskapai pun berdarah-darah.

PHK 6.000 Pegawai

Sebelumnya Boeing berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap lebih dari 6.000 karyawannya pekan ini. PHK tersebut akibat dampak pandemi corona yang menyebabkan permintaan berkurang drastis.

Pemberhentian 6.000 karyawan tersebut sebagai upaya untuk memangkas biaya operasional pabrikan pesawat Amerika Serikat ini.

Boeing memang sempat menyebut akan mengurangi jumlah karyawannya sebesar 10 persen dari total karyawan di tahun 2019 sebanyak 160.000 karyawan.

“Setelah pengumuman pengurangan karyawan yang kami buat bulan lalu, dan sekarang kita telah sampai pada saat yang tidak menguntungkan karena harus memulai PHK. Kami memberi tahu 6.770 anggota tim di AS pertama kami minggu ini bahwa mereka akan diberhentikan,” kata CEO Boeing Dave Calhoun seperti dikutip dari CNBC, Kamis (28/5/2020).

Dave juga mengisyaratkan bulan depan ada 5.520 karyawan Boeing lainnya telah disetujui untuk diberhentikan.

“Saya berharap ada cara lain. Bagi karyawan yang diberhentikan, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih pribadi saya atas kontribusi yang berikan kepada Boeing, dan saya berharap yang terbaik bagi Anda dan keluarga Anda,” tambah dia.

Setelah di tahun 2019, maskapai mengalami kerugian lantaran banyak pesawat yang harus dikandangkan akibat dua kecelakaan dari 737 pesawat Max yang menewaskan 346 orang. Kini Pandemi Covid-19 membuat jumlah pemesanan makin jeblok.

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari