Angkasa Pura 2

Bisnis Mobil Bekas Babak Belur: Bikin Pedagang Terjerat Utang Dampak Pandemi Covid-19

Another News Ekonomi & Bisnis OtomotifSelasa, 4 Agustus 2020
Penjualan Mobil Bekasi di WTC Mangga Dua.

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Pemilik bisnis mobil bekas mau tidak mau harus rela menjual mobil dengan harga murah. Membuat mereka merugi, terutama mobil-mobil stok lama. Pasalnya, pedagang sebelumnya membeli mobil-mobil tersebut dengan harga tinggi alias harga sebelum pandemi virus corona.

Harga mobil bekas turun drastis karena pandemi covid-19. Kejatuhan harganya sampai puluhan juta rupiah, bahkan ada yang turun hingga Rp 60 juta per unit.

Pemilik Nava Sukses Motor yang berada di Jl. Madrasah No. 23, Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan, Fahmi mengatakan, jatuhnya harga mobil bekas sejak April lalu telah membentuk harga baru mobil bekas.

Menurut Fahmi apabila penjual tidak mau menjual mobil bekasnya dengan kondisi rugi, maka perputaran bisnis tidak akan jalan.

“Harga beli kita dulu nggak mungkin mengejar harga pasaran sekarang. Kita juga harus menyesuaikan harga itu jadinya,” kata Fahmi, Senin (3/8/2020) kemarin.

Menurutnya, kondisi ini masih akan terus berlanjut hingga beberapa bulan ke depan. Harga mobil bekas akan tetap stagnan di bawah harga rata-rata saat belum ada pandemi. Saat ini, strategi penjual mobil bekas saat ini lebih untuk bertahan.

“Feeling saya awal tahun depan baru akan kembali normal. Harga yang sekarang turun ya bisa seperti dulu lagi,” sebutnya.

Dia mencontohkan ketika membeli Honda Mobilio RS 2014 beberapa waktu lalu, dia menebus dengan harga Rp120 juta. Dia biasanya menjual kembali di kisaran harga Rp140 juta.

Kendati demikian, di tengah pandemi saat ini harga jual tidak bisa dipasang dengan harga Rp140 juta, seperti dulu sebelum pandemi covid-19. Akhirnya cara mengatasinya adalah dengan menawarkan dengan harga sama dengan pembelian bahkan lebih rendah lagi asalkan bisa terjual.

“Walaupun DP kita turunkan, tapi tetap harga jual sekarang. Nggak bisa ditekan gede, harga untuk balik dulu nggak mungkin (dalam waktu cepat),” sebutnya.

Terlilit Utang Bank

Fahmi mengungkapkan, sejumlah showroon ada yang menggunakan dana dari bank sebagai modal.

Ketika awal meminjam, tentu ada proyeksi dari debitur untuk mengembalikan dana pinjamannya setelah diputar pada bisnis jual beli mobil bekas. Namun, ketika kondisinya berubah drastis, maka rencana itu bisa gagal total.

“Uang modal dari leasing atau bank [awalnya] dicairkan buat menambah mobil, kalau berhenti kan tetap harus dibalikin duitnya semua,” jelas Fahmi.

Sayangnya, ketika dijual, belum tentu mobil tersebut mampu menutupi modal yang sudah dikeluarkan untuk membeli semula. Harganya jatuh, apalagi dijual ketika butuh uang (BU), harganya bisa makin terjerembab lagi.

Menurut Fahmi perlu strategi khusus dalam berbisnis saat ini. Bisnisnya tetap jalan meski kondisi sedang sulit.

Fahmi rela menjual mobilnya dengan kondisi rugi, namun disubsidi oleh penjualan mobil lain yang bisa diambil margin keuntungannya. Cara ini diyakini bisa tetap menarik pasar untuk membeli mobil bekas di tempatnya.

“Dijual yang penting utang ke bank nutup dulu nih. Itu pun mungkin masih minus, kayak teman saya masih minus udah dibalikin, padahal udah maksimal. Mau nggak mau harus jual aset pribadi,” paparnya.

“Strateginya sekarang bertahan dulu deh.” (ds/sumber CNBC Indonesia)