Angkasa Pura 2

Angkasa Pura II Terbitkan Obligasi Rp2,25 Triliun untuk Modal Kerja dan Belanja Modal

Bandara Ekonomi & BisnisSenin, 10 Agustus 2020
images (2)

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Untuk memenuhi kebutuhan pembayaran modal kerja dan capital expenditure (belanja modal), PT Angkasa Pura 2 akan menerbitkan obligasi senilai Rp2,25 triliun.

Dalam prospektus yang diterbitkan dan dikutip cnbcindoneaia, surat utang ini merupakan dari Obligasi Berkelanjutan I AP 2 dengan nilai total Rp3 triliun dan diterbitkan sejak 2018. Sebelumnya AP II telah menerbitkan obligasi Rp750 miliar.

Obligasi ini terdiri atas 4 seri, yakni Seri A dengan jumlah pokok Rp 32 miliar, tingkat bunga tetap sebesar 7,80% per tahun dan berjangka waktu 3 tahun. Seri B jumlah pokok Rp 159 miliar dengan bunga 8,50% dan jangka waktu 5 tahun.

images (3)
Selanjutnya, Seri C : Jumlah Pokok Rp 1,602 triliun dengan bunga sebesar 9,10% dan jangka waktu 7 tahun. Adapun Seri D jumlah pokok Rp 457 miliar dengan bunga 9,25% dan jangka waktu 10 tahun.

Masa penawaran obligasi ini mulai 7 Agustus hingga 10 Agustus. Adapun penjatahan dilakukan pada 11 Agustus 2020 dan Pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada 14 Agustus 2020.

Pangkas Capex

Sebelumnya Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin menjelaskan pada awal 2020 pihaknya menetapkan belanja modal atau capital expenditure senilai Rp7,8 triliun. Tetapi seiring dengan pandemi, belanja modal dipangkas menjadi Rp1,4 triliun, dan kemudian diperketat lagi menjadi Rp1,1 triliun.

Capex tahun ini khusus digunakan untuk proyek yang bersifat multiyears, pemeliharaan fasilitas guna menjamin keamanan, keselamatan, pelayanan, serta perumusan desain Terminal 4 Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

“Tahun ini bukan tahun ekspansi bagi Angkasa Pura II karena kami memperhitungkan segala sesuatunya di tengah pandemi ini,” ujarnya, Minggu 14 Juni 2020.

Awaluddin menjelaskan perjalanan masyarakat dengan menggunakan pesawat berkurang signifikan selama pandemi global Covid-19. Kondisi ini berdampak berat bagi industri penerbangan.

Namun demikian, konektivitas udara di tetap perlu dijaga. Operator pelat merah tersebut saat ini tetap mengoperasikan 19 bandara untuk melayani penerbangan.

Awal menyebut langkah tersebut sudah ditempuh sejak Maret 2020 atau saat pandemi ditetapkan, supaya konektivitas udara Indonesia tetap terjaga.

“Fokus di dalam business survival itu adalah memperhitungkan pengeluaran dengan ketat melalui program cost leadership, lalu memangkas capex, serta memperketat cash flow management,” tekannya.