Angkasa Pura 2

Maskapai Penerbangan Bangkrut, Banyak Teknisi Pesawat Nganggur

Bandara KokpitKamis, 13 Agustus 2020
IMG-20200507-WA0014

JAKARTA (BeritaTrans.com) - Pandemi Covid-19 membuat berbagai sektor mengalami tekanan bahkan diramal banyak yang bangkrut. Pukulan ke bisnis penerbangan juga berdampak pada lesunya usaha bengkel pesawat, bahkan sudah banyak teknisi atau pekerja bengkel pesawat yang menganggur.

Hal ini juga diakui Direktur Utama GMF AeroAsia, I Wayan Susena. Dia menegaskan, segmen bisnis line maintenance mengalami penurunan tajam.

“Ini menyebabkan sumber daya manusia atau manpower dari teknisi maupun engineer ini mengalami idle (nganggur),” katanya yang, dikutip BeritaTrans.com dari CNBC, Rabu (12/8/2020).

Sepinya jasa perbaikan dan perawatan pesawat membuat para pekerja ini tak begitu sibuk seperti biasanya. Hanya saja Wayan Susena tak menjelaskan lebih lanjut perihal adanya pemutusan hubungan kerja.

“Kami melakukan upskilling daripada manpower kami. Jadi artinya kami memberikan pengangkatan kompetensi,” tandasnya.

Kendati begitu, bukan berarti semua teknisi menganggur. Menurutnya, masih ada sejumlah segmen bisnis GMF yang tetap membutuhkan tenaga di kala pandemi Covid-19.

“Tidak semuanya mengalami idle, kami lakukan distribusi man power menunjang daripada bisnis segmen yang ada di heavy maintenance,” bebernya.

Sebagian lain juga dialihkan ke segmen bisnis lain. Dikatakan, meski banyak pesawat yang dikandangkan, perawatan rutin tetap terjadwal.

“Sedangkan untuk sumber daya lainnya teknisi atau engineer melakukan prolong inspection untuk pesawat pesawat yang grounded. Karena pesawat yang grounded ini meskipun setop operasi, harus kita jaga untuk safety, kondisinya layak terbang dan kesehatan daripada kabin area,” bebernya.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi sempat mengungkapkan prediksi terhadap industri penerbangan di Indonesia ke depan. Dia bilang, pandemi Covid-19 menimbulkan ancaman kebangkrutan maskapai penerbangan.

“Transportasi mengalami situasi yang parah, dalam prediksi penurunan omzet 30%, bahkan sektor udara lebih dari 50%. Ini tentu membuat ancaman bangkrut,” ujar Budi Karya, Selasa (11/8/20). (fhm/sumber:cnbc)