Angkasa Pura 2

Kajian Djudjur Prasodjo tentang Keselamatan Bertransportasi, Budaya, Mentalitas Bangsa & Komitmen Nasional

Dermaga Kokpit KoridorRabu, 16 September 2020
816202011193

MASIH tersisa suasana peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75, dan menyambut Hari Perhubungan Nasional semoga tulisan berjudul Keselamatan Transportasi, tentunya di Indonesia, dapat lebih menyemangati jajaran kementerian dalam lingkup perhubungan. Tulisan ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kecelakaan transportasi baik di udara, di darat dan di laut, dalam beberapa tahun terakhir ini.

Banyaknya kecelakaan lebih kepada kejadian luar biasa antara lain jatuhnya pesawat Boeing 737 Max dan kapal kargo yang meruntuhkan beberapa derek di pelabuhan. Saya akan mencoba mengkaji dari sisi nonteknis: faktor manusia. Masalah teknis serahkan saja kepada pakar terkait yang berada di jajaran kementerian, saya percaya itu.

Kejadian kedua setelah jatuhnya pesawat udara Boeing 737 Max, saya menulis dalam beberapa kalimat singkat dalam forum Diskusi Transportasi di media sosial: “Setelah ini masih akan terjadi lagi kecelakaan-kecelakaan……”. Dan berturut-turut terbukti demikian. Nah, tulisan ini adalah bahasan yang melatarbelakangi pemikiran saya saat itu. Pertama, akan kita tinjau kembali pengertian “keselamatan”. Kemudian berturut-turut budaya, mentalitas bangsa dan komitmen nasional.

Kita dan Keselamatan

Secara fitrah manusia tidak ada yang mau celaka atau dicelakai. Keselamatan adalah hak manusia. Keselamatan adalah kondisi yang terjaga dari hal tidak menyenangkan atau hal yang tidak kita inginkan. Hal-hal yang mengancam secara fisik, finansial, sosial, spiritual, politik, pendidikan dan sejenisnya seperti kegagalan, kerusakan, kesalahan, kecelakaan. Jadi bila kita bicara keselamatan transportasi nasional, sesungguhnya tidak semata hanya tanggung jawab kementerian perhubungan, atau direktorat-direktorat terkait.

Dari sisi tanggung jawab kerja, siapakah yang bertanggungjawab terhadap keselamatan karyawannya? Jawabannya: majikan. Yang memperkerjakan kita. Siapa pun itu. Pimpinan dalam sebuah lembaga/institusi pemerintah, para direktur BUMN, atau perusahaan-perusahaan swasta; atau mal, toko-toko, bengkel-bengkel pinggir jalan. Apakah hanya keselamatan saja tanggung jawab mereka? Tidak. Melekat dengan keselamatan adalah kesejahteraan. Artinya tidak dapat dipisah-pisahkan antara keselamatan dan kesejahteraan. Majikan menjamin keselamatan dan kesejahteraan orang-orang yang dipekerjakannya.

Manusia dan Tahapan Perkembangannya

Terdapat kemiripan filosofi tahap kebutuhan manusia antara Abraham Maslow dan budaya kita. Di antara kita tentunya ada yang mengenal: “Sandang, papan, pangan. Turangga. Kukila”. Secara harfiah, artinya: Pakaian, tempat berteduh, pakan – Kuda – Burung. Maknanya adalah keperluan hidup manusia paling mendasar adalah keperluan makan dan minum sehari hari; adanya tempat di mana kita dapat tinggal dengan aman.

Tahapan berikutnya adalah ketersediaan sarana transportasi masa kini adalah motor, bis, kereta api, pesawat terbang, dan lain-lainnya. Setelah purnabakti, artinya kita sudah berada pada puncak karier sebagai karyawan, menikmati, memetik hasil karya.

Dari Maslow, kebutuhan fisiologis yang paling mendasar adalah makan, pakaian, tidur; dan itu harus dapat dicukupi oleh upah minimum. Dari sini harus juga mampu menunjang rasa aman, stabil saat ini dan ke depan, masa pensiun. Lalu ke hubungan sosial. Penghargaan. Dan terakhir pada tahap aktualisasi diri. Tahapan-tahapan ini seyogyanya dan normalnya demikian. Tidak dapat meloncat langsung ke atas tanpa melalui tahapan seharusnya.

Mentalitas Bangsa

Terburu-buru dan ingin cepat-cepat. Apakah demikian mental kita pada umumnya? Legenda “Candi-Sewu” mungkin menunjukkan hal ini. Seribu candi harus selesai dalam semalam. Terjadilah itu, dengan catatan kurang satu. Selorohan kepada anak sekolahan yang belajar jelang ujian, SKS alias sistem kebut semalam. Anehnya mereka pada lulus. Apakah mereka luar biasa?

Dalam kaitan dengan keselamatan transportasi hal-hal yang berkenaan dengan terburu-buru akan mempengaruhi keselamatan; apakah itu akan terjadi dalam jangka pendek, menengah, atau jangka panjang. Silakan dikaji saja apakah terdapat bukti-bukti yang demikian.

Coba lihat lapangan bola tingkat desa, alun-alun tingkat kecamatan. Apa yang tampak? Alur kecokelatan melintang bekas terinjak oleh pejalan kaki yang tadinya adalah rumput, malahan sering-sering diperlebar dengan bekas lalu lalang motor. Nyaris semua kondisinya demikian. Menerobos lampu merah. Bahkan dalam kondisi tertentu di tempat ramai pada jelang jam kantor puluhan motor siap melaju bak start pada lomba motor GP; lebih hebatnya lagi sudah curi start dengan melampaui batas garis putih/kuning yang diperbolehkan.

Demikian pula palang jalan kereta api sering diterobos oleh pengguna jalan dengan segala caranya. Di sinilah kecelakaan terjadi. Pengguna jalan adalah biangnya! Benarkah? Ya. Hampir semua kejadian kecelakaan atau hampir celaka adalah faktor manusia. Namun masih tersisa unsur lain selain pengguna, yaitu penyedia jasa transportasi dan penyedia sarana dan prasarana transportasi. Di balik itu semuanya adalah manusia. Yang merencana, yang membangun, yang mengoperasikan. Dari tingkat direktur, manajer, sampai tingkat pelaksana paling bawah berpotensi melakukan pelanggaran (violation).

Pelanggaran tadi dapat karena tekanan, jadi terdapat keterpaksaan. Ketidaksengajaan, yang bersangkutan tidak tahu atau tidak menyadari bahwa yang dilakukan adalah suatu pelanggaran. Kemudian pelanggaran yang lalu dianggap sebagai normal. Di gedung yang berlantai puluhan dengan lift yang terbatas (apalagi masih dibatasi lagi dengan lift tertentu yang hanya digunakan oleh keperluan, lantai, dan orang tertentu).

Karyawan membludak pada jam tertentu untuk menuju lantai masing-masing. Bagi yang berada di lantai dua atau tiga, lebih mau ‘mengalah’ dengan naik (atau turun) melalui tangga darurat yang sesungguhnya hanya digunakan pada keadaan darurat. Ada dua kata-kata kunci di sini: cepat-cepat dan menerobos.

Yang akan saya tekankan di sini terutama adalah pelanggaran karena keterpaksaan. Misal, jadwal proyek yang sudah harus selesai namun masih tersisa pekerjaan yang lumayan banyak, dan runyamnya ini menyangkut pertanggungjawaban keuangan negara. Personil pada bagian program sesungguhnya dengan pengalaman dan daya penuh sudah berupaya membuat program tahunan dengan sebaik mungkin. Namun demikian legenda Candi Sewu masih saja terjadi dalam pelaksanaannya. Untuk kasus semacam ini pimpinan dengan pengalaman dan daya imajinasinya ‘berhasil’ menyelamatkan semuanya.

Budaya “siap”, “siap laksanakan”, “sendiko dawuh”, adalah bagian budaya kita. Budaya kerajaan, raja dengan perangkat di bawahnya sampai dengan rakyat. Itu sesungguhnya hal yang bagus, terkesan ketimurannya. Selama, dengan catatan, raja tersebut arif dan bijak.

Perintah yang sifatnya autokrat masih diperlukan dalam hal perintah panglima militer untuk penyerangan, misalnya. Tidak untuk yang disangkutkan dengan hal-hal yang sifatnya seremonial yang sering dilakukan oleh pejabat. Mumpung bulan ini adalah bulan perayaan nasional, sekalian saya resmikan. Dan oleh pejabat yang bertanggungjawab dijawab “siap”, dan dia sadar benar bahwa hal ini menyalahi “jadwal akademis”. Saya menggunakan istilah ini karena seorang akademisi akan berpikir dan bertindak berdasarkan: logika, etika dan estetika. Keterpaksaan berpotensi munculnya insiden atau aksidental.

Tidak akan dibahas di sini, namun dapat dikemukakan bahwa kepentingan bisnis tertentu, kepentingan politik yang melenceng, menciptakan jembatan atau jalan menuju “unsafe-condition” yang menyangkut semua sendi kehidupan masyarakat.

Cepat-cepat dan Menyegerakan

Kehidupan masa kini memang menuntut kita untuk bergerak cepat. Arti cepat di sini harus dibedakan dengan ingin cepat-cepat, tergesa-gesa. Mungkin kita tak sadar terpengaruh produk-produk cepat saji. Mie instan, bubur instan, bakso instan. Restoran pun tak ingin kalah, restoran cepat saji. Menyegerakan adalah hal lain. Segera bertindak, segera melakukan aksi bila ditengarai terdapat indikasi yang melenceng. Segera melakukan aksi bila memang dinilai mendasar, walau tampak sepele.

Kesalahan-kesalahan biasanya terjadi berupa pembiaran, penundaan dengan alasan-alasan tertentu, aksi seadanya dan pengabaian masukan dari siapa pun. Yang disebutkan terakhir adalah penyakit yang ada pada diri kita dengan memandang remeh bila masukan dari orang yang tidak dikenal, pangkat rendahan, berpenampilan seadanya. Hasil akhir dapat berupa inefisiensi waktu, inefisiensi biaya, dan musibah/bencana.

Berikut adalah beberapa ilustrasi di lapangan. Jalan raya di pinggiran kota rusak cukup parah yang pada waktu musim hujan membawa ‘berkah’ bagi rumah sakit di sekitar. Korban korban adalah pengguna motor yang terjungkal karena lubang-lubang jalan yang tak tampak tertutupi genangan air.

Protes masyarakat memaksa pemerintah setempat menambal lubang lubang tadi, dengan catatan: seadanya. Alhasil tidak sampai sebulan hancur lagi. Kasus seperti ini sudah jadi pandangan umum, dan terkesan menjadi proyek abadi. Ilustrasi lainnya. Seseorang karena tugasnya memang cukup sering loncat dari satu kota ke kota lainnya, dengan menggunakan pesawat udara. Siapa pun, akan lebih hafal dan peka terhadap karakter pesawat yang ditumpangi dibanding dengan seorang Dirjen Perhubungan Udara sekalipun. Kali itu menggunakan pesawat udara yang masih bau pabrik. Mendarat dan lanjut dengan tahap taxying menuju apron. Di sinilah kisah sinetron sekali tayang dimulai.

Suara yang tidak umum terdengar di bawah bangku yang semakin lama semakin keras dan suara berhenti sewaktu pesawat berhenti. Lalu bau asap yang menyengat. Sambil berjalan ke luar pintu, ia pesan ke pramugari agar disampaikan kepada pilot mungkin ada sesuatu yang salah pada pesawat ini. Sambil tanya juga di mana bagian keselamatan. Berlari kecil dengan sandal dan baju yang sudah sekian puluh kali tergilas oleh setrika lapor kepada petugas keselamatan. Jawabannya sudah dapat diduga: “Tidak mungkin pak, pesawatnya masih baru!”. Dengan bahasa yang sedikit teknis, disampaikan bahwa dia duduk di kursi nomor sekian di mana bawahnya terdapat komponen ini dan itu yang mungkin menjadi masalah. Tetap tak ada reaksi, tidak bergeming. Orang tersebut pamit, dan mengatakan bahwa kalau terjadi kecelakaan mereka ikut bertanggungjawab. Dia agak terkesima, lalu menanyakan siapa penumpang tersebut. Puncak adegan, dia loncat ke handy-talky perintah ke personil apron agar pesawat PK-xxx tidak lanjut terbang!

Ilustrasi di atas hanya sebagian kecil dari ribuan kasus yang ada di depan mata. Mata masyarakat. Masyarakat yang membayar untuk menggunakan fasilitas-fasilitas yang disediakan. Masyarakat sebagai end-user yang biasanya menjadi korban, termasuk korban kemahalan.

Kesalahan Manusia

“Someone who had never made mistakes has never done anything”. Itu benar dan merupakan bagian dari tahapan kehidupan. Tentunya tidak untuk terus-menerus disuguhkan di depan orang banyak. Saya menghargai sekali kepada rekan-rekan di lingkungan kementerian, pada unit-unit tertentu, yang kadang-kadang sampai dengan sering-sering, lembur sampai larut malam. Mulai dari staf sampai pimpinannya. Perlukah sampai lembur berhari-hari? Walaupun menurut kewajaran hal ini terasa berlebihan, namun mungkin memang perlu karena jadwal dan tenaga yang terbatas. Keterbatasan disebabkan selain kelangkaan tenaga ahli juga kelangkaan ‘orang yang mau kerja’. Hanya hasilnya jangan sampai baru diresmikan satu bulan langsung roboh!

Dalam peristiwa kecelakaan yang sering menjadi tertuduh adalah operatornya. Bagaimana pilotnya, nakodanya, masinisnya? Pengemudinya, punya SIM tidak, SIM tembak, ya?! Kontraktornya siapa? Suatu kecelakaan timbul karena rangkaian yang panjang dari tingkat pembuat keputusan tertinggi sampai pelaksana paling bawah selain pihak ke tiga. Keputusan yang kurang tepat dari jajaran manajemen akan menghasilkan kesalahan laten. Kesalahan laten ini bila sampai tidak disadari atau tidak diketahui, atau diketahui namun jajaran pelaksana yang berada pada posisi benteng terakhir (pada alat angkut posisi ini adalah: pilot, nakoda, masinis, pengemudi) tidak mampu menanggulangi, sudah dapat dipastikan akan terjadi bencana.

Sesungguhnya secara fungsi ini adalah tugas para direktur untuk menjaga keseimbangan antara produksi dan keselamatan. Ketidakseimbangan di luar margin yang ditetapkan akan menyebabkan: bencana atau bangkrutnya perusahaan. Pekerjaan yang unik, perlu pengalaman dan kepakaran. Direktur adalah orang-orang pilihan. Orang-orang pilihan dengan tambahan beban ekstra, kajian-kajian ekstra karena sarat dengan unsur budaya yang kita anut saat ini.

Sebagai contoh yang sedang tren/viral bagi rekan-rekan di transportasi darat adalah “truk ojol”. Yang tampil sebagai pemeran kondisi tidak selamat. Setiap hari berkonvoi di jalan antar provinsi. Secara teknis sangat mudah untuk bertindak, tidak memenuhi salah satu syarat keselamatan, tindak. Pada akhirnya terdapat kesan di masyarakat: ada kejadian dulu baru ada tindakan dari pemerintah.
Pertanyaannya adalah: Adakah “bencana” ini sudah menjadi bagian dari budaya kita?

Komitmen Nasional

Dengan asumsi bahwa tenaga ahli, aparatur, karyawan, buruh yang dipekerjakan adalah mampu di bidangnya masing-masing. Dari sisi keselamatan transportasi nasional masih menyuguhkan bermacam-macam kasus kecelakaan terus-menerus. Maka logika kita akan mengatakan bahwa tentu ada faktor lain yang mampu menerobos dan mengalahkan standar
keselamatan. Faktor lain yang mampu menggoyang keseimbangan sehingga keselamatan berada di luar margin.

Dari hal yang sudah disampaikan di atas tentang apa itu keselamatan, sekali lagi, ini tidak semata tanggung jawab Kementerian Perhubungan. Ini menyangkut lintas kementerian, menyangkut semua lapisan masyarakat, tanggung jawab kita bersama. Lalu apalagi yang sangat mungkin menjadi tanggung jawab kementerian? Mengingatkan. Mengingatkan melalui semua media, TV, surat kabar, majalah, media sosial, spanduk, gambar tempel, pemberitahuan via pengeras suara, dan semacamnya. Kepada siapa saja ditujukan? Mulai anak-anak SD sampai masyarakat umum lainnya. Sifatnya? Terus-menerus dan sesuai dengan budaya setempat.

Mengapa harus terus-menerus? Karena urusannya dengan manusia yang memang harus terus menerus diingatkan. Lalu kapan usaha ini mulai dapat dianggap membawa hasil? Bila ada seseorang menerobos palang pintu kereta api yang tertutup, orang lain meneriaki, menyoraki. Lalu orang tersebut mundur, malu. Ada contoh yang bagus di sebuah bandara. Spanduk di pintu masuk penumpang bergambar gubernur setempat dengan posisi “body-seaching” , dengan tulisan “Saya pun mau diperiksa demi keamanan penerbangan”.

Tidak cukup di sini. Orang merasa belum cukup untuk terjaminnya keselamatan dengan cara demikian, karena sehari-harinya mereka berada di dalam suatu sistem. Maka dikembangkan sebuah sistem yang dinamakan Sistem Manajemen Keselamatan. Sudah diintroduksi beberapa tahun yang lalu. Belum merata, apalagi diterapkan secara konsisten. Berhasil tidaknya sistem ini berjalan adalah komitmen dari atas sampai bawah dan sudah selayaknya menjadi komitmen nasional. Nah, inilah sesungguhnya masalah utamanya: komitmen.

Tujuh puluh lima tahun genaplah usia kemerdekaan bangsa Indonesia, cukuplah untuk kekurangan-kekurangan kita di masa lampau. Marilah ke depan kita lebih tegakkan niat kita, hati kita, badan dan jiwa kita di dalam menjaga keselamatan transportasi nasional. Budaya adi luhung. Yang intinya adalah menjaga keseimbangan alam karena kita merupakan bagian dan berada di dalamnya. Bencana tanah longsor, banjir badang yang meluluhlantakkan apa saja adalah contoh tidak becusnya kita menjaga keseimbangan.

Apresiasi saya kepada semua personel di sektor perhubungan yang melayani masyarakat terus-menerus selama dua puluh empat jam sehari dan selamat berhari jadi nasional. Tulisan ini akan saya tutup dengan memetik sebagian bait ke-2 dan ke-3 dari lagu kebangsaan kita Indonesia Raya yang jarang dilantunkan, semoga menjadi awal komitmen kita bersama:

Bait ke-2: …..“Suburlah tanahnya, suburlah jiwanya. Bangsanya, rakyatnya, semuanya Sadarlah hatinya, sadarlah budinya” …..
Bait ke-3: …..“Di sanalah aku berdiri, menjaga ibu sejati. Indonesia tanah berseri, tanah yang aku sayangi. Marilah kita berjanji, Indonesia abadi. Selamatkan rakyatnya, selamatkan pateranya. Pulaunya, lautnya, semuanya”…..

Djudjur Prasodjo
Dosen Politeknik Penerbangan Indonesia Curug