Angkasa Pura 2

Pelabuhan Tjg Emas Terapkan SSM dan Joint Inspection Karantina & Beacukai, Terjadi Penghematan Rp1,7 Juta/Kontainer

DermagaSelasa, 29 September 2020
IMG-20200929-WA0015

IMG-20200929-WA0014

SEMARANG (BeritaTrans.com) – Percepat dwelling time dan meningkatkan kinerja logistik di Pelabuhan Tanjung Emas, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Tanjung Emas mulai menerapkan implementasi Single Submission (SSM) dan Joint Inspection bersama Karantina dan Bea Cukai.

SSM dan Joint Inspection ini merupakan langkah simplifikasi di Portal Layanan Sistem Indonesia Nasional single window (SINSW), sehingga pengurusan dokumen menjadi lebih singkat, efisien dan bernarasi tunggal.

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Tg. Emas, Junaidi menyebutkan, pelaksanaan Joint Inspection yaitu dengan melakukan pemeriksaan secara bersama oleh Karantina dan Bea Cukai, sehingga dapat memangkas waktu saat pre Clearance maupun saat Clearance.

“Hal ini tentu akan mempercepat dwelling time, dan menurunkan biaya logistik, sebagai catatan penghematan waktu kurang lebih dua hari dan menurunkan biaya logistik, sebesar kurang lebih Rp.1,7jt/kontainer 20 feet,” ujar Junaidi di Semarang, Selasa (29/9/2020).

Proses ini telah melalui masa sosialisasi dan piloting/ujicoba terhadap 16 Perusahan Ekspor Impor di Pelabuhan Tg. Emas sejak 26 Juni 2010.

Menurutnya, implementasi SSM dan Joint Inspection Customs & Quarantine dilakukan guna percepatan Implementasi Inpres No 5 Tahun 2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja Logistik Nasional, memperbaiki iklim investasi dan meningkatkan daya saing perekonomian nasional.

Lebih lanjut, Junaidi mengatakan sesuai dalam RENAKSI Penataan Ekosistem Logistik Nasional Tahun 2020-2024, Kemenhub mengambil langkah dengan mengintegrasikan sistem pengajuan perizinan ekspor impor di Kementerian Perdagangan dengan sistem ekosistem logistik nasional melalui INSW dan mengintegrasikan proses bisnis pelaporan perdagangan antar pulau dengan proses bisnis keberangkatan kedatangan sarana pengangkut dalam sistem ekosistem logistik nasional melalui INSW.

Dengan peluncuran dan penerapan sistem ini, Junaidi berharap kedepan pelaksanaannya tidak hanya terbatas untuk barang -komoditi karantina saja namun dapat di dilaksanakan juga untuk barang-barang komoditi karantina pertanian dan karantina ikan saja.

“Namun kedepan diharapkan dapat diterapkan untuk barang umum lainnya, sehingga penataan ekosistem logistik nasional terpenuhi dan secara khusus meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah secara signifikan, melalui gerbang Pelabuhan Tg. Emas,” tutup Junaidi. (omy)